Kebutuhan akan kehadiran khalifah di muka bumi sejak lama diidamkan umat Islam. Tapi apakah betul khalifah yang dibutuhkan adalah khalifah yang menyebarkan kebencian dan menghalalkan pembunuhan ?

Sebetulnya umat manusia sudah mengalami masa kekhalifahan yang sangat panjang. Sejak era Umayyah, Abbasiyah hingga Usmaniyah. Di masa kekhalifahan Umayyah, penyebaran Islam mencapai Eropa dengan pusatnya di Kordoba, Spanyol. Kekhalifahan Islam di masa lampau tidak hanya memimpin umat Islam saja tetapi juga komunitas non-Muslim seperti Kristiani, Yahudi, bahkan Zoroaster.

Di masa kekhalifahan Umayyah, umat non-Muslim hidup damai berdampingan dengan umat Muslim. Mereka diberikan hak-hak yang setara dan mendapat perlindungan dan hak beragama yang sama oleh pemerintah Islam. Mereka bisa beribadah dengan bebas walau mayoritas adalah pemeluk Agama Islam.

Dunia mengenal dengan baik nama organisasi terorisme ISIS sejak periode awal tahun 2000. Mereka dipimpin yang mereka anggap khalifah, namun bukanlah khalifah damai. Kelompok ini dikenal menyebarkan ketakutan dan mengambil hak-hak hidup banyak manusia. Perilaku mereka tidak mencerminkan akhlak muslim yang diajarkan Rasulullah SAW. Bahkan, seorang wartawan anonim menyebutkan bahwa wilayah yang dikuasai oleh ISIS seperti Black Holes (Lubang Hitam).[1] Walau dominasi ISIS kini sudah jauh berkurang dengan dibunuhnya Khalifah mereka, Abu Bakr al-Baghdadi. Tapi organisasi mereka masih berjalan dengan kepemimpinan khalifah baru mereka.

Namun, apakah kekhalifahan model ISIS ini yang diidamkan oleh umat Islam di seluruh dunia sekarang ini ? Sama sekali tidak.

Mencari Khalifah Sejati

Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang dibubarkan pemerintah tahun 2017, sebelumnya rutin berdemonstrasi supaya berdiri kekhilafahan di Indonesia sejak awal keberadaannya. Mereka dibubarkan oleh pemerintah dengan Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) Nomor 2 tahun 2017 karena dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. [2]

Apakah mendirikan kekhalifahan harus mengganti ideologi suatu negara ? Tentu tidak.

Sebagai contoh adalah kekhalifahan Jamaah Muslim Ahmadiyah yang telah berdiri di lebih dari 200 negara di seluruh dunia.[3] Jika banyak umat Muslim di dunia yang belum meyakini belum hadirnya seorang khalifah, maka perlu melihat keberadaan khilafah Jamaah Muslim Ahmadiyah. 

Kekhalifahan Jamaah Muslim Ahmadiyah tidak pernah mengubah ideologi negara apalagi mewajibkan adanya reformasi di suatu bangsa demi berdirinya institusi khilafah. Justru, Jamaah Muslim Ahmadiyah menekankan supaya manusialah yang mereformasi diri bukan mereformasi suatu bangsa atau negara. 

Mereformasi suatu negara berpotensi membuat kekacauan dan ketidakadilan jika dilakukan dengan mengerdilkan suatu kaum tertentu. Banyak sekali negara, bangsa, atau institusi yang direformasi dengan cara tidak manusiawi mampu memakan korban banyak nyawa.

Institusi khilafah Jamaah Muslim Ahmadiyah  berlangsung menuju 113 tahun sejak 1908. Tidak hanya itu, pada saat ini khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah merupakan khalifah yang ke-5. Beliau adalah Hazrat Mirza Masroor Ahmad ABA (ayyadallahu ta’ala binasrihil aziiz) yang menjadi khalifah sejak tahun 2003 hingga sekarang. Beliau merupakan pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia dengan lebih dari 10 juta muslim yang telah berbaiat masuk Ahmadiyah.

Sebelum dipimpin oleh beliau, Jamaah Muslim Ahmadiyah dipimpin oleh empat khalifah pendahulu beliau yaitu Hazrat Al-Haj Hakim Nuruddin ra (masa kekhalifahan: 1908-1914), Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra (1914-1965), Hazrat Mirza Nasir Ahmad rh (1965-1982), dan Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh (1982-2003). 

Kekhalifahan Jamaah Muslim Ahmadiyah dinamakan Khalifatul Masih untuk melanjutkan Jamaah yang didirikan oleh Al-Masih dan Al-Mau’ud Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as (1835-1908). Beliau adalah Imam Mahdi yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dan dinubuatkan oleh Rasulullah SAW. [4]

Dalam Surah Al-Jumuah ayat 3-4 Allah SWT berfirman:

“Dia-lah Yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda- tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana.” 

(Q.S. Al-Jumu’ah: 3-4)

Abu Hurairah ra juga meriwayatkan: 

“Kami sedang duduk-duduk dekat Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) ketika surah Al-Jum’uah diturunkan kepada beliau. Para sahabat bertanya, siapa yang dimaksud dalam ayat itu? Di antara kami terdapat seorang yang bernama Salman Al-Farsi. Kemudian Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam) meletakkan tangannya ke atas pundak Salman seraya bersabda: “Jika iman telah terbang ke bintang Tsurayya, beberapa orang laki-laki atau seorang laki-laki di antara orang ini (asal Persia) akan mengambilnya kembali.”

Hadis di atas menunjukkan penjelasan bahwa akan turunnya Imam Mahdi di akhir zaman yang mana Hazrat Mirza Ghulam Ahmad merupakan keturunan Persia sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah SAW Ketika meletakkan tangan beliau di atas Pundak Salman Al-Farsi.

Sebagaimana dalam Hadits shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan :

“Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, dan kemudian zaman berikutnya. Lalu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpah, dan sumpahnya mendahului persaksian.”

Kedua Hadits di atas berkaitan karena Rasulullah SAW menyebutkan sebaik-baik masa adalah pada zaman semasa hidup beliau kemudian 2 zaman setelahnya. Dua zaman setelahnya digambarkan juga oleh beliau SAW ketika iman telah terbang ke bintang Tsurayya, maka seorang yang merupakan keturunan bangsa Persia akan membawa keimanan itu kembali.

Jika ada di antara kita yang mempertanyakan apa perlunya berdiri khalifah di muka bumi ini. Hal ini terdapat dalam QS An-Nur: 56:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan pasti Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan

menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang durhaka.”

Dijelaskan juga dalam Hadits berikut ini:

“Wahai Muslim, kenabian ini akan senantiasa bersamamu selama Allah memperkenankannya. Lalu akan ada masanya berakhir, digantikan dengan Khilafat yang berada dalam naungan kenabian (sebagai pelengkapnya) dan akan selalu ada selama kehendak Allah SWT. Maka khilafat ini juga akan berakhir. Penguasa yang memotong (melakukan kejahatan kepada suatu bangsa) akan menggantikan mereka selama kehendak Allah SWT. Maka masa ini akan berakhir. Lalu akanada penguasa yang merampas kekuasaan, dan masa itu juga akan berakhir. Setelah itu khilafat di bawah naungan kenabian akan muncul kembali. Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW tidak menambahkannya lagi.” (Musnad Ahmad, Awwal Musnadal Kufiyyin, Vol.4 hlm 273)

Ayat Al-Quran dan Hadits di atas menjelaskan janji dan kehendak Allah SWT untuk mendirikan khilafat di muka bumi. Maka jelas, institusi khilafah merupakan sesuatu yang tidak bisa kita abaikan dan hindari. Namun, pendirian khilafah bukanlah semata-mata dengan tangan dan tipu daya manusia saja. Melainkan harus juga dengan kehendak Allah SWT.

Jika melihat kembali kutipan Hadits di atas, kalimat penguasa yang melakukan kejahatan kepada suatu bangsa juga terjadi di negara yang justru menjadi tanah kelahiran Islam itu sendiri. Bagaimana negara Arab Saudi melakukan serangan ke Yaman dengan menjatuhkan bom kimia sehingga mengakibatkan kerusakan dan kematian di sana.[5]

Arab Saudi pun tidak berperan penting dalam konflik Palestina-Israel. Bagaimana Palestina menerima banyak sekali penindasan dari pemerintah Israel, namun Arab Saudi tidak mengambil peranan dalam mendamaikan kedua negara itu. Dengan jarak yang begitu dekat dan pengaruh besar yang dimiliki Arab Saudi, tidak menjadi jalan bagi mereka untuk membantu saudara mereka di Palestina.

Apakah ini salah satu penzahiran iman telah terbang ke bintang Tsurayya?

Institusi Khilafah Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah kekhilafahan ruhani dengan menyebarkan perdamaian sebagaimana diajarkan juga dalam Islam. Jihad yang dilakukan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah bukanlah jihad dengan mengangkat pedang, namun jihad dengan pena. Jihad menyebarkan perdamaian dan pesan-pesan Islam seutuhnya.

Dalam menyebarkan pesan Islam yang damai, Imam Mahdi menyebarkannya melalui sekitar 13.000 artikel dan 80 buku yang beliau tulis. Selain juga berdiskusi dan berdialog baik dengan yang memang mencari kebenaran maupun yang berseberangan dengan beliau.

Begitu pula yang dilakukan para Khalifatul Masih dalam menyebarkan pesan Islam yang sesungguhnya. Khalifatul Masih IV, Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh pada 21 April 1992 mendirikan stasiun televisi Muslim Television Ahmadiyya (MTA). Beliau juga mendirikan organisasi kemanusiaan Humanity First yang didirikan pada tahun 1995. Humanity First ada di 57 negara di 6 benua. Organisasi ini memberikan bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana, membangun saluran air minum di Afrika, dan membangun rumah sakit di berbagai negara. 

Dalam memberikan tarbiyyah kepada para anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah, sejak masa hidup Imam Mahdi as, diadakan Jalsa Salana setiap tahunnya. Jalsa Salana berasal dari Bahasa Urdu yang berarti Pertemuan Tahunan. Dalam Jalsa Salana ini peserta yang hadir diberikan tausiyah dan ceramah-ceramah mengenai keindahan Islam dan perdamaian. Jalsa Salana ini diadakan secara nasional dan internasional di berbagai negara termasuk di Amerika Serikat, Inggris, India, Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, dan negara lain yang telah berdiri Jamaah Muslim Ahmadiyah di sana. 

Jalsa Salana ini selalu diliput oleh media terkemuka salah satunya di Inggris. Sebelum masa pandemi tahun 2019, Jalsa Salana UK diliput banyak media bagaimana indah dan damainya acara tersebut. Bagaimana media Inggris terheran-heran dengan Islam yang ditunjukkan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah yang damai. Tidak seperti yang ditunjukkan di media kebanyakan.

 We Asked Ahmadi Muslims What It Means To Be British - Huffington Post


Khalifah Penyebar Perdamaian

Khilafah yang datang dari Allah SWT tidak akan pernah sekalipun mengajarkan kekerasan apalagi pembunuhan. Antara satu khalifah dengan khalifah pendahulunya tidak akan pernah ada kebencian. Justru para khalifah yang memang dikehendaki oleh Allah SWT akan saling menyayangi satu sama lain. Begitu juga yang ditunjukkan oleh khulafaur Rasyidin dan Khalifatul Masih.

Tidak pernah terjadi pertikaian di antara Khalifah Rasyidin dan di antara Khalifatul Masih. Jika ada yang mengadakan tuduhan bahwa adanya pertentangan antara Khalifah Rasyidin, itu hanyalah tuduhan palsu. Salah satu buktinya Khalifah Utsman bin Affan ra begitu dihormati oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Begitu pulalah yang ditunjukkan oleh Khalifatul Masih, mereka saling menghormati dan saling menyayangi satu sama lain. Khalifatul Masih I, Hazrat Hakim Nuruddin ra merupakan guru dan pembimbing Khalifatul Masih II, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. Sepanjang hidup Khalifatul Masih III, Hazrat Mirza Nasir Ahmad rh, selalu ditemani oleh Khalifatul Masih IV Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh.

Khalifatul Masih IV, Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh, sangat menyayangi dan memberi perhatian khusus kepada Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad ABA, selama beliau menjalankan tugas di Ghana hingga sebelum beliau menjadi Khalifah pada tahun 2003. Begitulah gambaran khalifah sejati yang memang pilihan Allah SWT.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad ABA lahir pada 15 September 1950 dan terpilih menjadi Khalifatul Masih V pada 22 April 2003. Beliau adalah figur terdepan dalam mempromosikan perdamaian di seluruh dunia. Beliau menyampaikan pesan perdamaian melalui pidato-pidato, buku-buku, dan kunjungan-kunjungan ke berbagai negara sejak beliau terpilih menjadi khalifah.

Pada tahun 2004, beliau mengadakan Simposium Perdamaian di Inggris Raya dengan mengundang anggota parlemen, politisi, dan tamu kehormatan lain di sana. Pada 27 Juni 2012, beliau melakukan kunjungan ke Capitol Hill di Washington D.C., Amerika Serikat untuk menyampaikan pidato perdamaian. Acara tersebut dihadiri oleh 30 anggota kongres Amerika Serikat. [6]

Baru-baru ini juga beliau menulis surat kepada petinggi negara besar di dunia supaya menghindari perang terbuka di tengah masa pandemic Covid-19 ini. Beliau menyampaikan pesan ini dalam suratnya kepada Presiden Perancis, Emmanuel Macron:

Inevitably, economic or trade wars occur that, in turn, foster hatred and jealousy and ultimately lead to open warfare and bloody conflicts in which unimaginably destructive weapons and unleashed obliterating all that is before them.

Consequently, with all humility and sincerity, I urge you as the leader of your nation to formulate policies that are based on justice so that the world may be saved from further misery and destruction”

“Pasti, perang dagang dan perang ekonomi terjadi, secara bergiliran, merawat kebencian dan kecemburuan dan pada akhirnya membawa menuju perang terbuka dan konflik berdarah yang mana senjata mematikan dan memusnahkan semua yang ada di hadapan mereka.

Oleh karena itu, dengan kerendahan hati dan tulus, saya meminta anda sebaga pemimpin negara anda untuk membuat kebijakan yang berdasarkan pada keadilan sehingga dunia akan terselamatkan dari penderitaan dan kehancuran lebih jauh lagi.” [7]

Kehancuran, pertikaian, dan peperangan sangat dikhawatirkan oleh beliau. Peperangan dan kekerasan harus dihindari untuk menciptakan dunia yang damai. Ini betul-betul ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran Islam tidak pernah mengajarkan perpecahan. Namun, manusia itu sendiri yang selalu memicu perpecahan.

Di masa kekhalifahan beliau, saat ini Jamaah Muslim Ahmadiyah telah diterima di lebih dari 200 negara di dunia. Bahkan, negara-negara anggota PBB baru mencapai 193 negara. Sekitar 112.179 orang berbaiat ke dalam Jamaah Muslim Ahmadiyah. 217 masjid baru dan rumah misi dibangun oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di empat benua. 288 cabang baru didirikan di seluruh dunia.[8]

Kekhalifahan damai seperti inilah yang diidamkan oleh seluruh umat Islam. Yang menyebarkan perdamaian dan cinta kasih. Ini bukan ajaran baru melainkan memang betul-betul ajaran Islam sejati.


Sumber:  

[1] https://rsf.org/en/news/areas-controlled-islamic-state-are-news-black-holes

[2]https://nasional.kompas.com/read/2017/07/19/10180761/hti-resmi-dibubarkan-pemerintah

[3] https://www.alislam.org/ahmadiyya-muslim-community/

[4] http://ahmadiyah.id/imam-mahdi-dan-masih-mauud

[5] https://www.bbc.com/news/world-middle-east-29319423

[6] https://www.pressahmadiyya.com/khalifa/

[7] Review of Religions, Vol.116, January 2021

[8]https://www.pressahmadiyya.com/press-releases/2020/08/head-of-ahmadiyya-muslim-community-delivers-special-jalsa-salana-2020-address/