Seorang tokoh feminis, penggerak dan juga termasuk tokoh Indonesia yang masuk dalam 500 tokoh tingkat dunia. Selain Presiden Jokowi , Habib Luthfi, dan KH. Aqil Siradj. Lahir di Cirebon, 9 Mei 1953. Alumni Pesantren Lirboyo tahun 1973 ini, kemudian melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu Al-qur’an (PTIQ), Jakarta, dan tamat tahun 1980. Setelah itu beliau melanjutkan Studi nya di Universitas Al-azhar , Kairo, Mesir. 

Dengan kepandaian beliau menggali dan mengkaji berbagai fam-keilmuan dari berbagai Ulama akhirnya beliau pulang ke Indonesia pada tahun 1983 dan menjadi salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Dar at-tauhid yang didirikan oleh kakeknya tahun 1933.

Kiprah beliau dalam ranah pemikiran akademis tidak bisa di ragukan lagi, tahun 2001 ia mendirikan sejumlah lembaga swadaya masyarakat untuk isu-isu  dan hak-hak keperempuanan, antara lain Rahima, Puan Amal Hayati, Fahmina Institute, Alimat dan WCC Balqis. Dan sejak tahun 2007 sampai 2014 beliau menjadi Komisioner Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan, sebuah lembaga non-kementrian.

Adapun karya-karya beliau adalah Islam Agama Ramah Perempuan, Ijtihad kyai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender, Menuju Fiqh Baru: Pembaruan Pemikiran Dan Hukum Islam Sebagai Keniscayaan Sejarah. Dan masih banyak lagi Pemikiran kyai husein terkait Kritik Terhadap Metodologi Para Pembaharu Islam. 

Keindahan cara berpikir beliau Jika kita merujuk pada buku beliau: Menuju fiqh Baru kita akan langsung di suguhkan ketika Jamal al-Banna melancarkan kritiknya terhadap metodologi pembacaan teks suci oleh sejumlah pemikir progesif kontemporer. 

Ia juga mencoba meletakkan dan memetakan corak dan kecendurungan metodologi dalam tiga aspek antara lain, metode tafsir bahasa dan sastra (al-lughowiyah/adabi), kedua, Penafsiran menggunkan perspektif ideologis (al-madzhabiyun). Ketiga, menafsirkan al-quran dengan meggunakan kepercayaan dalam hal ini adalah kepercayaan dalam sumber transmisi, Jamal al-Banna menyebutnya al-ikhbariyun/khabriyyun. 

Ketika Jamal al-Banna mengkritik beberapa tokoh seperti; Mohemad Arkoun, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid dan gurunya, Amin al-khul, yang di dasari oleh isu islam barat. Menurut, Jamal al-Banna mereka telah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran tokoh barat. Barangkali dalam hak ini yang kurang simpatik adalah Jamal al-Banna. 

Mungkin, juga kecemburuannya terhadap mereka. Bagaimanapun juga mereka; syaikh Muhammad Abduh, Thaha Husein, dan yang lainnya telah bersusah payah menulusuri ranah keilmuan islam. Sepatutnya seorang Jamal al-Banna bersikap terbuka dan mengapresiasi setiap gagasan dan kreativitas siapa pun.

Seorang yang bisa menerapkan pemikiran bebas seyogyanya dapat menerima dan menjaga suatu kebenaran dari mana pun asalnya, meski dari bangsa-bangsa yang jauh dan berbeda keyakinan darinya.

Jamal al-Banna dalam sejumlah metode penafsiran sepertinya tidak menganggap penting. Baginya al-qur’an sendiri memiliki segenap potensi yang dapat menciptakan ataupun menggugah kesadaran dalam berpikir dan mental dari setiap manusia sehingga terbentuk mukmin baru yang menghargai nilai-nilai kemanusian. Sebuah bentuk jalan liberalisme ala Jamal al-banna.

Buah hasil pemikiran buya husein ketika menyimpulkan pemikiran, Jamal al-Banna mengenai fiqhnya sebagaimana telah di uraikan , pada intinya ia (Jamal al-Banna), mengajukan beberapa hal sebagai proyek pembaruannya. 

Pertama, hukum islam, termasuk di dalamnya fiqh, di arahkan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan tuhan. kedua, Islam adalah Aqidah dan syariah. Aqidah adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang bersemayam di setiap individu. Syari'ah bukanlah materi-materi hukum melainkan nilai-nilai dasar kemanusian yang pada intinya adalah keadilan. Sementara fiqh adalah produk hukum yang di hasilkan oleh pemikiran manusia yang sifatnya kontekstual.

Ketiga, pada prinsipnya , segala yang ada di muka bumi ini adalah boleh, halal, kecuali beberapa hal saja yang di haramkan tuhan, yang di kemukakan secara exsplisit. begitu pula segala urusan yang bersikap publik semuanya bebas kecuali yang membahayakan diri sendiri dan masyarakat. Kebebasan adalah hak manusia karena hanya manusia yang di beri akal budi oleh tuhan.

Keempat, ijtihad adalah keharusan sejarah, ia selamanya terbuka dan tidak pernah di tutup. Kelima, kewajiban seorang muslim adalah menghidupkan akal (i'mal al-'aql) serta menggali nilai-nilai kemanusiaan dari dua sumber utama islam yaitu Al-qur'an dan as-sunah. Mereka harus keluar dari cara atau metode tafsir kovensional dan membangun metode ataupun cara tafsir baru yang mengutamakan dan berbasis akal dan nilai-nilai kemanusian. 

Nilai apa saja yang dapat kita ambil ?

Pertama, hendaknya sebagai muslim yang cerdas ketika kita menanggapi sesuatu hal yang sudah jelas kebenarannya hendaklah kita menerima kebenaran itu dari manapun asalnya, karena disisi lain mempertahankan sifat moderat adalah suatu bentuk keharusan dalam menjalani kehidupan sosial. 

Kedua, ketika terdapat perbedaan pendapat sebagai seorang manusia yang mempunyai hati, kita sebagai muslim hendaknya menerima dengan lapang dada. Sehingga sifat-sifat buruk bisa kita hindari adapun menerapkan sifat Tassamuh itulah yang lebih tepat.