Fakta sejarah menunjukkan bahwa dinamika pemikiran itu niscaya. Hegel menyebutnya dialektika. Jika kita ingin memahami sebuah mazhab (aliran pemikiran), kita mesti membedah substansi pemikirannya. Kita juga harus bedakan pendapat intelektual, ulama, atau cendekiawan dengan pendapat orang awam.  

Seringkali kita mengukur pendapat suatu kelompok dengan merujuk pada pendapat kelompok kita sendiri. Untuk mempelajari suatu mazhab, kita mesti mau menunda keyakinan kita pada satu jenis pendapat tertentu.

Keyakinan sering kita anggap semakna dengan kebenaran. Keyakinan itu bukan kebenaran. Keyakinan adalah konsep-konsep yang kita anggap benar dan sesuai dengan realitas. Jika kita perhatikan, ada jarak antara kita sebagai subjek yang membuat konsep-konsep dengan sesuatu yang menjadi objek pengetahuan kita.

Kebenaran itu mutlak. Ia bersifat ontologis. Dimensi ontologis hanya bisa dijelaskan secara epistemologis. Dalam memahami kebenaran, hukum relativitas berlaku.

Bukankah kita malah menjadi nihilistik dengan menganggap kebenaran itu relatif?

Bukan kebenaran yang relatif, melainkan keyakinan kita tentang apa yang kita anggap benar itulah yang bersifat relatif. Kita memahami kebenaran dengan tingkat kedekatan yang berbeda-beda terhadap kebenaran itu sendiri.

Betapa pun konsep dalam benak kita sesuai dengan realitas, konsep bukanlah realitas. Apa yang anda pahami sebagai gelas dalam benak anda bukanlah gelas itu sendiri. Ilmu pengetahuan terus berkembang karena kita terus berusaha mendekati kebenaran berdasarkan hukum relativitas pada tataran epistemologis.

Tidak mengherankan jika Nietzsche, seperti yang dituliskan oleh Suryo Bagus Trihatmojo dalam artikel “Apakah Nietzsche Membunuh Tuhan?”, menolak fiksasi ide tentang Tuhan. Bahkan kata “Tuhan” itu sendiri bukanlah Tuhan. Membingkai Tuhan dalam konsep adalah hil yang mustahal.

Manusia zaman baheula percaya bahwa bumi itu pusat semesta. Tapi keyakinan tersebut sudah usang bagi manusia kekinian. Matahari adalah pusat galaksi kita.

Apakah anda orang yang masih percaya bahwa bumi adalah the center of the universe? Atau anda adalah orang yang yakin bahwa matahari itu bukan pusat galaksi tapi pusat perbelanjaan?

Freeman Dyson, seorang fisikawan teoritis, mengatakan bahwa imajinasi alam selalu lebih kaya daripada imajinasi manusia. Di era klasik, fisikawan memahami materi sebagai sesuatu yang padat dan memiliki volume. Tapi fisika kuantum meruntuhkan pemahaman tersebut.

99.99% dari atom hidrogen adalah ruang kosong. Bayangkan jika atom hidrogen seukuran Bumi, proton pada pusatnya hanya selebar 200 meter! Konsep tentang materi pun ter-dematerialisasi. "Matter" doesn't matter anymore.

Dulu, banyak orang yang tidak percaya kita bisa terbang. Tapi segalanya berubah, bukan ketika negara api menyerang, tapi ketika pengetahuan kita berkembang lebih maju sehingga kita bisa membuat pesawat terbang.

Lalu untuk apa kita belajar kalau kebenaran tidak bisa dicapai?

Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Socrates, belajar itu untuk mengetahui bahwa kita tidak tahu. Semakin banyak belajar, kita sadar bahwa begitu banyak hal yang tidak kita ketahui.

Kalau begitu, bagaimana mungkin pengetahuan kita dapat berdiri kokoh jika pengetahuan kita sendiri rapuh; bahwa kita ternyata bisa keliru?

Di sinilah pentingnya prinsip-prinsip yang logis dan aksiomatis. Di hadapan sebuah premis, kita bisa meyakininya benar, menentangnya, atau abstain. Tiada pisau analisis yang lebih sahih dari logika untuk membedah setiap pernyataan. Saking sahihnya, untuk membantah logika, kita mesti menggunakan logika.

Kesadaran ini penting untuk kita miliki agar tidak terjebak pada pemutlakan persepsi. Kita akan maklum kalau budaya, bahkan agama, ada bermacam-macam, karena dimensi relativitas kita sebagai manusia meniscayakan itu.

Semestinya, persepsi yang beragam dapat memperkaya perspektif kita dalam memahami kebenaran. Bukannya membuat kita jadi shock berat atau malah alergi.