Negara yang mempunyai kurang lebih 17.000 pulau ini, dengan beragam potensi lokal yang dimilikinya, Indonesia seharusnya menjadi surga bagi rakyatnya. Namun dengan potensi yang begitu besar tersebut, juga sumber daya alam yang melimpah, Indonesia masih jauh dari sejahtera. Sumber daya manusianya yang masih minim, bisa jadi adalah salah satu penyebabnya.

Dari 250 juta warga Indonesia, hanya 5% yang berstatus mahasiswa. Tidak lebih dari 20% yang bersekolah di tingkat SMA. Bisa dibayangkan bagaimana keterbatasan sumber daya manusia ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang tergolong di bawah garis kemiskinan. 

Jika mengacu pada data penerima beras raskin sepanjang tahun 2015, maka setidaknya ada 18 juta rakyat Indonesia yang masih hidup miskin. Belum lagi penduduk yang berada di daerah-daerah, mungkin jumlahnya bisa lebih banyak lagi. 

Pertanyaannya adalah, seberapa bermanfaatnya potensi yang kita miliki untuk kesejahteraan masyarakat? Terutama di daerah dan di luar Jawa. 

Hampir 60% sarjana Indonesia mengabdi pada bidang industri, pegawai swasta atau instansi pemerintah.Tidak lebih dari 20% yang bersedia kembali ke daerah untuk memanfaatkan atau mengembangkan potensi lokal. Dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, generasi-generasi terdahulu, terutama yang bermukim di daerah, akan kerepotan beradaptasi. 

Maraknya sumber daya manusia produktif yang lebih memilih tinggal di pusat-pusat perekonomian atau pemerintahan, juga menyebabkan pemanfaatan potensi lokal semakin terabaikan. Belum lagi tuntutan pasar yang menghendaki barang berkualitas dengan harga bersaing, semakin meminggirkan buah karya orang-orang di daerah.

Oleh karena itu, selain perlu meningkatkan kualitas pendidikan demi mencetak dan meningkatkan skill masyarakat, Indonesia juga membutuhkan wirausahawan-wirausahawan baru yang bisa mengelola dan memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan kemandirian produksi. 

Dari sekian juta penduduk Indonesia, jika 2,5% penduduknya menjadi wirausahawan, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat pesat. Apalagi jika wirausahawan ini bisa mengembangkan potensi lokal seperti pertanian. 

Pertanian di beberapa negara maju menjadi ujung tombak peningkatan ekonomi secara nasional. Misalnya pengalaman Republik Rakyat Tiongkok yang mampu mendorong sektor pertanian sebagai basis perekonomian yang banyak menopang laju industri lainnya. 

Di Tiongkok, kepemilikan tanah diatur oleh negara secara penuh. Pemerintah berhak menentukan suatu daerah mau dijadikan kawasan industri, kawasan hutan, hunian atau kawasan pertanian. Pemerintah juga berhak menentukan komoditas pertanian seperti apa yang akan dikembangkan, setelah melakukan penelitian dan pengaturan. Pemerintah Tiongkok juga mendukung produksi untuk ekspor dengan membebaskan pajak. 

Juga di Thailand misalnya. Di negara ini, pertanian adalah pekerjaan yang menjanjikan. Di Thailand, pertanian digarap serius oleh pemerintah dan LSM. Pemerintah bertindak sebagai pembuat kebijakan termasuk memberi kredit lunak, memberikan subsidi untuk ekspor sekaligus mendirikan lembaga penelitian yang bisa menghasilkan benih-benih unggul untuk dikembangkan petani. 

Di negara tersebut, pekerja LSM mendampingi para petani secara total. Mereka mendirikan semacam koperasi yang menyediakan saprodi untuk petani. Selain itu, mereka juga memberikan pelatihan untuk para petani. Bukan hanya itu, di negara ini berlaku penjualan satu pintu, sehingga koperasi mempunyai hak penuh untuk menentukan pasarnya. 

Di Indonesia sangat berbeda. Setiap orang dapat menentukan mau menanam apa dengan pasar ada di tangan mereka sendiri. Pemerintah belum menjadikan pertanian sebagai "usaha" unggulan yang bisa menopang dan mensejahterakan masyarkat. Baik itu berupa pinjaman lunak atau kebijakan lainnya yang bisa mendukung kegiatan usaha ini.

Petani di Indonesia cenderung bermodal kecil. Mereka tidak bisa bersaing dengan pemodal besar, atau "pemain" di pasar. Selama ini, pertanian jarang disentuh oleh pemerintah. Pemerintah lebih fokus mendorong usaha kreatif.

Harus diakui, efek dari pengembangan usaha kreatif memang tidak sedikit. Namun, pengaruhnya tidak akan sebesar sektor pertanian yang dikembangkan secara serius. Sebab, selama ini hampir 50% penduduk kita berprofesi sebagai petani atau terkait dengan pertanian.

Masalah di Indonesia, selain masih rendahnya tingkat pengetahuan sehingga menghambat transfer ilmu dan teknologi, juga masih kecilnya minat masyarakat untuk menjadi wirausahawan. Faktor ini menjadi salah satu  penyebab belum berkembangnya sektor usaha, khususnya di wilayah pertanian. 

Selain itu, generasi masa kini lebih memilih menjadi bagian dari masyarakat urban karena alasan ekonomi. Ini semua menjadi PR kita sebagai warga negara yang tentunya mengidamkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.