2 tahun lalu · 424 view · 4 menit baca · Budaya 0d38c76d22e7d3524b43c634a2c2ee43.jpg
Maafkan kami yang sudah mengaburkan makna nasionalisme, Sang Saka.

Kewarganegaraan dan Nasionalisme di Negara Tetangga

Membicarakan kewarganegaraan, nasionalisme, kesinambungan keduanya, dan relasi ketiganya di negara tetangga adalah salah satu hal yang sepintas akan terasa sama klisenya dengan membicarakan nasionalisme dan kewarganegaraan sebagai bagian dari negara dan bangsa Indonesia di negara-negara asing lainnya.

Namun ketahuilah, kenyataannya tidak akan sebegitunya. Malaysia, sebagai negara asing dengan jumlah WNI terbanyak dan penampung TKI terbanyak pula, ditambah dengan jejak-jejak keserumpunan yang tidak bisa dipungkiri, dengan lembut membaurkan batas-batas yang ada di antara kewarganegaraan dan nasionalisme dengan berbagai asimilasi.

Identitas Malaysia sudah benar-benar menguat sebagai sebuah second home bagi WNI, bukan sekadar second house. Ingat, home dan house berbeda dalam kedalaman maknanya bagi seseorang.

Ketika kamu melaungkan frasa aku cinta Indonesia dengan bahasa Inggris, atau Prancis, atau Jerman, atau bahkan bahasa Uzbekistan, itu malah menguatkan nasionalismemu. Ya jelaslah, mengucapkan frasa penuh rasa itu dengan bahasa yang berbeda, namun hati tetap menuju Indonesia tercinta.

Lah, coba kalau kamu melaungkannya pakai bahasa Melayu. Apalagi kalau kamu dari awalnya sudah berasal dari provinsi-provinsi dengan logat Melayu cukup kuat, seperti di Palembang atau Bangka Belitung. Rasanya sih, bangganya tidak akan sebesar ketika mengucapkan frasa itu pakai bahasa Bengali, karena kamu hanya tukar logat. Lah, kamu teriak aku cinta Indonesia pakai bahasa Jawa, bagaimana rasanya? Ya, paling masih seputar itulah rasanya.

Coba saja kamu tinggal di Malaysia—atau lebih tepatnya, Kuala Lumpur—selama dua atau tiga tahun. Tetapi, jangan ke daerah elit nan metropolitannya, seperti di sekitar Bukit Bintang atau KLCC. Tinggallah di daerah pinggiran seperti Gombak, Sentul, atau minimal Chow Kit. Niscaya kamu tidak akan merasa tinggal di luar negeri.

Kamu tetap akan merasakan apa yang ada di Indonesia. Kenapa? Pertama, budayanya masih sama. Ibu-ibu di daerah pinggiran Kuala Lumpur, sama seperti di Indonesia, sama-sama suka ngegosip. Lalu hajatan di mana-mana. Bahasa jangan ditanya. Kamu bicara bahasa Indonesia sama mereka, masih bisa kok mereka paham sedikit-sedikit. Kedua, yang paling krusial adalah bagaimana sebagian dari mereka itu awalnya orang Indonesia.

Nah, lho? Kamu di luar negeri, tapi merasa sudah di negeri sendiri? Kamu mau tahu, apa yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia 20 atau 30 tahun yang lalu kalau dihadapkan dengan kondisi seperti itu? Cari Permanent Residence, setelah itu secara bertahap jadi warga negara Malaysia. Mblas.

Mereka jadi orang Malaysia karena merasa telah menemukan tempat yang sama seperti Indonesia, hanya lebih nyaman. Orang-orang seperti ini, enaknya dibilang apa? Tidak nasionaliskah? Pengkhianat negarakah? Mau kamu, menyebut mereka dengan sebutan-sebutan “kasar” begitu, padahal apa yang mereka cari sebenarnya tetap Indonesia, tapi versi deluxe?

Orang-orang seperti ini, kabur bagi mereka konsep-konsep berat semacam nasionalisme. Malaysia dan Indonesia sudah terlalu terbaur bagi mereka, sehingga menjadi warganegara Malaysia bagi mereka tidak akan mengubah apa-apa dalam diri mereka sebagai orang Indonesia.

Di bekas sekolah saya, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), bahasa komunikasi sehari-hari itu ada dua; Indonesia dan Melayu. Juga, ada sebagian siswanya yang sudah IC merah atau Permanent Resident. Dulu malah lebih mantap, ada yang sudah IC biru, alias warganegara Malaysia.

Yang lucu adalah kalau sedang seleksi Paskibra untuk setiap hari perayaan kemerdekaan. Tidak jarang, mereka yang lulus seleksi adalah orang-orang seperti itu karena fisiknya bagus. Ya maklumlah, bekas sekolah saya itu hanyalah satu-satunya sekolah Indonesia di Malaysia dengan jumlah siswa yang banyak dan lengkap pula dari TK sampai SMA.

Ada sekolah Indonesia Malaysia di Kinabalu dan Johor, tapi kalah jumlah dengan SIKL. Maka akhirnya, seleksi untuk Paskibra tentu difokuskan kepada SIKL, dan untuk mempermudah proses seleksi, tentu hanya akan dipilih siswa dengan fisik yang bagus dengan tinggi sejajar dengan tinggi rata-rata anggota Paskibra.

Bayangkan ini, kawan; pada tanggal 17 Agustus, mereka akan menampilkan performa baris-berbaris di depan Pak Duta Besar dan menaikkan Sang Saka Merah Putih. Duh, betapa nasionalisnya anak-anak ini! Gagah, berpakaian serba putih merah, dedikasi dan komitmen yang begitu tinggi bisa kita lihat dalam cara-cara mereka membawakan bendera.

Nah, apa yang akan kamu katakan kalau saya mengatakan bahwa anak-anak yang sama, beberapa hari sebelum hari perayaan, kongkow-kongkow di kedai Mamak India terdekat makan roti canai, minum teh tarik, dan saling bersenda gurau dengan bahasa Melayu ala budak KL yang begitu kental? Mau kamu runtuhkan dengan mudah pesona nasionalis yang kamu lihat ketika mereka dengan berwibawanya membawa bendera?

Mau lebih saya runtuhkan lagi? Sip. Mereka—bukan, bukan anggota Paskbira, tapi mereka yang kental bahasa Melayunya—biasanya hanya mengenal dua bahasa; Melayu dan bahasa daerahnya masing-masing.

Para pedagang Chow Kit kebanyakannya orang Jawa dari Lamongan, Gresik, dll. Mereka hanya kenal bahasa Jawa, dan bahasa Melayu. Diajak bahasa Indonesia, ya campurlah antara Melayu dan Indonesia, dan dengan loghat Jawa tentunya. Campuran budaya yang menarik, bukan? Oh ya jelas. Tapi nasionaliskah mereka?

Saya suka bermetafora. Tentu, kewarganegaraan dan nasionalisme memiliki metaforanya masing-masing di kamus saya. Kewarganegaraan adalah tubuh, dan nasionalisme adalah jiwa. Kewarganegaraan berhubungan dengan negara; sebuah badan fisik, dan nasionalisme berhubungan dengan bangsa; sebuah konsep yang berawal dari kesatuan.

Tubuh tanpa jiwa mati, dan jiwa tanpa tubuh gaib. Saya tidak perlu menceritakan tentang warganegara Indonesia tapi tidak mencerminkan berkebangsaan Indonesia, sudah terlalu sering.

Yang menarik untuk dipikirkan adalah orang-orang yang saya sebutkan di atas tadi; orang-orang gaib yang, hanya karena menukarkan kartu identitasnya dari paspor ke IC namun tetap memiliki identitas dan karakter yang mereka bawa dari Indonesia, terpaksa kita pertanyakan nasionalismenya.

Padahal, kalau ditanya, “Bapak orang mana?” pasti jawabnya, “Orang Indonesia!” Atau minimal, mengikut kepada daerah masing-masing di Indonesia. Seperti sopir taksi langganan saya.

“Orang mana, Pak?”

“Orang Pariaman!”