Peneliti
1 bulan lalu · 111 view · 5 min baca menit baca · Buku 13890_62238.jpg
Foto: Trax FM

Kewargaan Kritis di Era Krisis Kewargaan

Peringatan Hari Pancasila 1 Juni kemarin memberikan informasi baik bahwa kita masih 'menginginkan' Pancasila sebagai dasar negara kita. 

Apa pasal? Bukan karena banyaknya status pengguna media sosial yang membagikan posting bahwa: Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Pancasila lebih dari sekadar cita-cita. Upacara hari Pancasila di gedung UNM. Terima kasih, Mpu Tantular atas kitabmu. Kami pegawai negara yang baik, kami mengikuti upacara Pancasila. Dan lain sebagainya.

Tapi, karena kita (masih) banyak yang sadar jika kita membutuhkan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Saya pribadi masih belajar memahami isi dan kandungan Pancasila dan bagaimana untuk terus-menerus merefleksikannya dalam kehidupan.

Pancasila, yaitu: 1. Ketuhanan yang Maha Esa; 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Terus terang, waktu saya bersekolah di Sekolah Dasar dulu, saya bukanlah siswa atau murid yang suka dengan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) ini. Namun, saya selalu mendapat nilai yang bagus. Mungkin karena saya dinilai 'anak yang baik', bermoral. 

Begitu pun ketika duduk di bangku SMP dan SMA. Ketika pelajaran ini sudah berganti nama PPKN, saya masih mendapat nilai yang bagus. Pasti, karena lagi (lagi) saya siswi yang baik, yang mungkin bisa merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang menghormati guru dan menyayangi teman di sekolah.

Walau mungkin saya bukan siswi yang jago menghafal undang-undang dan pasal-pasal, saya tetap siswi yang selalu mendapat nilai PPKN yang tinggi.

Ketika berkuliah S1, saya pun tidak tertarik mengambil jurusan PPKN atau jurusan sekitar ruang lingkupnya. Namun, saya tetap mempelajarinya di semester dua. 

Di kelas, kami jarang bertatap muka dengan dosennya. Padahal kami selalu ingin menatap dosennya yang cantik dan modis. Eh, bukan, tapi karena dosennya yang punya titel banyak itu ternyata super duper sibuk mengajar juga di jurusan dan kampus lain, khususnya pada mahasiswa hukum.


Seingat saya, ia hanya masuk tiga kali pertemuan. Tiap pertemuan diisi dengan diskusi setiap sila yang akan dipresentasikan oleh kami yang telah terbagi lima kelompok. Saya ingat, saya pernah disuruh teman untuk bertanya tentang bagaimana merefleksikan Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, kuliah di strata S2. Kami tidak belajar Pancasila lagi. Tapi, lebih kepada penghayatan bagaimana menjadi orang Indonesia yang baik dan benar.

Pancasila Hari Ini di Kehidupanku

Kebenaran, di semester genap kemarin, saya diberikan tugas untuk mengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Saya sebagai lulusan master of art rasanya belum sanggup mengemban tugas itu. Bagaimana membumikan Pancasila dan mengamalkan nilai-nilainya. Jika berbicara tentang kewarganegaraan, bolehlah saya memberikan ilmunya kepada mahasiswa.

Untungnya saya mempunyai kenalan yang mendalami Pancasila. Dia adalah Hartono Tasir Irwanto (Tonton) Mahasiswa S2 Hukum. Jadinya, dia tepat untuk mengajar PPKN ini menurutku karena sesuai dengan bidang keilmuannya.

Awal saya mengenalnya sebagai resentor buku Yuval Noah Harari, 21 Lessons. Kemudian cek per cek, dia telah menulis buku Pancasila, Reideologisasi Pancasila (2016) dan Masa Depan Pancasila (2018). Saya pun memintanya bergabung di kampusku. Dia pun menyanggupinya untuk membantu mengajar. Jadilah kami berbagi materi untuk dibagikan ke mahasiswa.

Materi-materi tentang Pancasila yang kami bawakan sangat menarik. Rasanya bukan belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang selama ini terkesan dingin, kaku, dan membosankan, namun jadi hangat, asyik, dan menggairahkan. Maksudnya, up to date banget, membahas isu yang kekinian dan dihubungkan dengan Pancasila. 

Metodenya pun banyak dengan diskusi, tanya-jawab. Mahasiswa yang belajar jadi tidak menjadi bosan. 

Selain karena kuliahnya tidak monoton di kelas, kami juga membawa mereka ke kafe. Mereka juga memperoleh materi PPKN sebagai berikut: Filsafat Pancasila, Identitas, Negara Hukum Pancasila, Menonton Film Ahu Parmalim, Toleransi, Pemerintahan Daerah, Korupsi, Pemilu, dan Krisis Kewargaan. 

Bagi kami yang bernapaskan kampus Islam, untuk memperkaya toleransi, kami juga membawa mereka mengadakan kunjungan ke gereja Katolik Santa Maria dan berdialog langsung dengan Pastor.

Walau tidak semua antusias mengikuti kegiatan itu dengan berbagai alasan, tetapi kami bersyukur, banyak dari mereka adalah mahasiswa-mahasiswi yang baik dan benar. Dalam artian, mereka mau belajar dan berdiskusi dengan Romo di gereja.

Seni Menunggu Buku


Saya menyadari kekurangan referensi atau literatur tentang buku apa pun di kampus. Di mana mahasiswa tidak mempunyai buku bacaan dan mengambil materi kuliah (tugas) berdasarkan pencarian dari internet. Terutama untuk materi PPKN. 

Namun, 'pucuk dicinta ulam pun tiba", ketika Tonton menawarkan untuk membuatkan buku bahan ajar PPKN. Apalagi, dia sudah mengumpulkan bahannya sejak dulu, tinggal naik ke percetakan. Tentu saja saya menyambut baik rencananya itu. Mahasiswa akan punya buku cetak sendiri, bukan modul.

Kami pun mulai dengan me-list mahasiswa yang belajar PPKN. Dari sekitar enam puluh orang lebih mahasiswa, hanya dua puluh orang yang berminat untuk membeli. Padahal penerbit buku mensyaratkan: jika ingin mencetak buku, percetakan mereka minimal lima puluh buku. 

Tonton pun mempunyai ide untuk mengajak saya dan teman-temannya di Resensi sebanyak kurang lebih sepuluh orang untuk ikut serta menjadi kontributor tulisan buku. Kami pun mulai menulis dan mengumpulkan tulisan yang berhubungan dengan literasi kewargaan yang isinya berhubungan dengan tema Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Namun, teman-teman tidak sesegera mungkin mengumpulkan tulisan, walau mereka telah di-deadline

Seandainya para penulis itu sadar dengan kata-kata penyemangat berikut ini bahwa: kehormatan bagi penulis adalah menyelesaikan tulisannya. Kemulian bagi penulis adalah menerbitkan tulisannya. Dan kebahagian bagi penulis adalah orang membaca tulisannya. Harusnya, menjadi spirit dalam menulis.

Akhirnya, sampai akhir semester mata kuliah PPKN, ujian final yang diadakan secara lisan buku itu belum jadi.

Saya terus menunggu, mahasiswa juga menunggu. Hingga, libur telah tiba. Sampai bulan puasa telah tiba. Namun, buku itu masih dicetak di tangan penerbit.

Di akhir Mei, saya menerima kabar baik. Buku yang ditujukan untuk mata kuliah PPKN itu telah jadi. Saya segera mengambil buku itu sesuai dengan jumlah pesanan yang telah kuajukan.

Buku yang berjudul "Literasi Kewargaan, Kewargaan Kritis di Era Krisis Kewargaan" menjadi Oase di tengah gurun Sahara krisis multidimensi berbangsa dan negara.

Walau buku ini hanya beberapa yang sempat diambil oleh mahasiswa yang sudah memesannya, namun buku ini hadir (juga) di kampus lainnya. Dan jadi ruang-ruang pegiat literasi. 

Buku ini mencoba menjawab tentang koherensi dan korespondensi Pancasila terhadap realitas sosial. Bagaimana merespons masalah kewargaan dari berbagai pendekatan, dan juga rekomendasi.


Materi 'Pancasila' bukan hanya milik mahasiswa jurusan atau dan yang belajar PPKN, namun juga untuk seluruh mahasiswa, kami (pengajar), aku, dan kamu yang benar-benar ingin menjadi 'Warga Negara' Indonesia.

Inilah tantangan kita semua untuk merefleksikan Pancasila di tengah realitas saat ini. Semoga semangat Pancasila akan terus bersinar di tanah air Indonesia.

Terakhir, saya akan mengutip bagian penutup dari buku: "Dengan mencerdaskan kehidupan kewargaan, maka pemimpin kita juga akan kelak tercerdaskan."

Sekali lagi, Selamat Hari Pancasila, 1 Juni 2019. Ini refleksiku tentang Pancasila, kamu?

Mandar, 020619.

Artikel Terkait