3 bulan lalu · 184 view · 4 min baca · Filsafat 19865_51293.jpg

Keutamaan Romo Mangun

Nama Romo Mangun tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Sosok yang bernama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ini dikenal sebagai rohaniwan Katolik, sastrawan, arsitek, dan aktivis pembela orang-orang kecil. 

Ia lahir pada tanggal 6 Mei 1929 di Ambarawa. Ia adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Pada usia 7 tahun, ia memulai pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang. Ia melanjutkan pendidikannya di STM Jetis Yogyakarta. Sebelum lulus STM, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat sebagai prajurit dan ikut berperang di Ambarawa dan Magelang. 

Ia kembali melanjutkan pendidikannya di SMAK Santo Albertus, Malang. Pada masa inilah ia mulai tertarik pada dunia pelayanan gereja Katolik. Pada usia 21 tahun, ia memutuskan untuk masuk Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang. Pada tahun 1953, ia melanjutkan pembinaannya sebagai calon imam Diosesan di Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta.

Pada tanggal 8 September 1959, Romo Mangun ditahbiskan sebagai imam Diosesan oleh Mgr. Soegijapranata, SJ, di Gereja Katolik St. Yusup, Bintaran. Ia melanjutkan pendidikan tingginya di Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur, kemudian di Rheinisch Westfailische Hochscule, Aanchen, Jerman. 

Seusai pendidikannya di Jerman, Romo Mangun ditugaskan menjadi Pastor Paroki Gereja St. Theresia, Magelang. Di sana ia akrab dengan tokoh-tokoh lintas iman, salah satunya Abdurrahman Wahid.

Setelah 10 tahun ditahbiskan sebagai imam Diosesan, Romo Mangun membantu warga di Kali Code, Yogyakarta dan Kedung Ombo, Sragen. Ia membela dan memperjuangkan rakyat tertindas dari penggusuran dengan pendekatan arsitektur. 

Romo Mangun menyumbang pemikirannya untuk membangun hunian-hunian yang layak dan indah dipandang mata. Selain itu, Romo Mangun juga membangun mentalitas para warga Kali Code untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. 


Di Kedung Ombo, Romo Mangun membela para petani yang hendak digusur karena wilayahnya akan dijadikan sebuah waduk. Keadaan Romo Mangun saat itu sedang sakit. Dokter telah melarang Romo Mangun untuk beraktivitas berat karena penyakit jantungnya, akan tetapi semangatnya untuk membela orang-orang kecil tetap berkobar.

Pada tahun 1980, Romo Mangun menjadi editor buku Mengenang Sjahrir. Romo Mangun memang gemar menulis. Sedikitnya, ia telah menerbitkan 36 karya tulisnya, baik berupa esai, cerpen, maupun novel. Salah satu karyanya, yakni Burung-Burung Manyar (1981) mendapat Ramon Magsasay Award, penghargaan sastra se-Asia Tenggara pada tahun 1996.

Romo Mangun meninggal dunia pada tanggal 10 Februari 1999 di Jakarta. Jenazahnya disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta. Banyak orang berduka atas kepergian Romo Mangun. Hingga kini, hari kepergian Romo Mangun selalu diperingati para warga di pinggir Kali Code untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa Romo Mangun.

Seluruh proses peziarahan hidup, karya dan pelayanan Romo Mangun tidak lepas dari cita-cita dan tujuan hidupnya, yakni melayani orang-orang kecil. Berbicara mengenai tujuan hidup manusia, Aristoteles berpendapat bahwa segala sesatu yang dilakukan oleh manusia itu selalu mengarah pada suatu nilai atau demi sesuatu yang baik. 

Tujuan hidup manusia digolongkan Aristoteles menjadi dua bagian, yakni tujuan lebih jauh dan tujuan demi dirinya. Uang, misalnya. Uang merupakan sarana dalam mencapai tujuan lebih jauh, misalnya digunakan sebagai modal berdagang. Tentu, penjual berharap bisa mendapat uang yang banyak dari hasil dagangannya di kemudian hari. Ketika uangnya sudah banyak, penjual ingin membuka cabang dagangannya untuk mengembangkan usahanya. 

Motif penjual di atas memperlihatkan bahwa tujuan-tujuan tersebut hanyalah sementara dan bukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Harus ada sesuatu yang tidak dicari demi dirinya sendiri, yakni sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri. Bersama seluruh filsafat Yunani, Aristoteles sepakat bahwa kebahagiaan (eudaimonia) merupakan tujuan pada dirinya sendiri.

Menurut Aristoteles, ada tiga pola hidup yang memuat kepuasan dalam dirinya sendiri, yakni hidup mencari nikmat, hidup “praktis” atau politis, dan hidup kontemplatif sebagai seorang filsuf. Dalam filsafat, pola hidup pertama sering disebut sebagai Hedonisme. 

Bagi Aristoteles, nikmat itu baik sejauh tidak menjadi tujuan. Mengejar nikmat saja membuat manusia tidak akan mencapai kebahagiaan. Manusia hanya bisa mencapai kebahagiaan dengan merealisasikan kemampuan atau potensialitasnya yang khas. 

Kegiatan manusiawi yang khas adalah kegiatan yang melibatkan jiwa berakal budi. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam dua pola hidup yang lain, yakni dalam kehidupan politis (praxis) dan kontemplasi filosofis (theoria).

Dalam kata Yunani, Theoria dapat diterjemahkan sebagai “renungan”, yakni memanang sesuatu secara mendalam dengan mata jiwa. Renungan adalah kegiatan manusia yang paling luhur karena merealisasikan bagian jiwa manusia yang paling luhur. 

Namun demikian, manusia bukanlah makhluk rohani yang murni. Oleh karena itu, manusia tidak bisa ber-theoria saja. Bidang perealisasian diri manusia yang sebenarnya adalah polis (negara kota) dan kegiatannya (praxis).


Praxis adalah segala macam tindakan dan kegiatan dalam komunitas manusia. Praxis juga berarti kesibukan dalam kerangka berbagai struktur komunitas demi kehidupan bersama yang baik. Menurut Aristoteles, tujuan setiap manusia dan komunitas itu sama, yakni kebahagiaan. Melalui praxis manusia dan komunitas akan mencapai kebahagiaan atau kebaikan bersama (bonum commune).

Keutamaan ditemukan, bertumbuh, dan berkembang dalam kegiatan jiwa berakal budi, yakni kegiatan yang mampu mengahantar manusia pada kebahagiaan. Kegiatan tersebut terwujud dalam dua pola hidup, yakni theoria dan praxis

Demikian, keutamaan Romo Mangun dapat ditemukan dalam kedua pola hidup tersebut. Dalam pola hidup theoria, Romo Mangun berkeutamaan kritis serta bijaksana. Keutamaan itu tampak dari buah-buah pemikirannya dan karya-karya tulisnya yang cemerlang. 

Semetara dalam pola hidup praxis, Romo Mangun berkeutamaan rendah hati, berani, serta totalitas. Keutamaan-keutamaan ini terlihat dari usaha-usaha Romo Mangun dalam membela orang-orang kecil, memperjuangkan kebaikan bersama di Indonesia.

Sumber Referensi

Artikel Terkait