Apakah kita pernah merasakan takut? Takut pada hantu, takut untuk mengambil risiko, takut dimarahi karena berbuat kesalahan, takut kehilangan sesuatu yang berharga dan perasaan ketakutan lainnya. 

Rasa takut sering diasosiasikan sebagai emosi atau keadaan yang negatif. “Laki-laki tidak boleh menjadi penakut.” Mungkin, kalimat tersebut sering terlontarkan dari mulut sebagian orang.

Namun, dalam sudut pandang lain, kita dapat mempertanyakan semua anggapan itu: Mengapa seseorang tidak boleh memiliki rasa sakut? Mengapa seseorang harus berani? Apa tolok ukur yang digunakan untuk mengukur keberanian atau ketakutan seseorang?

Aristoteles, salah satu filsuf terbesar sepanjang masa, justru menjelaskan bahwa rasa takut merupakan sebuah kontrol pada sikap atau tindakan berani yang hendak kita lakukan jika kita mampu mengekspresikannya dengan cara yang tepat. Bagaimana caranya?

Dalam bukunya yang berjudul “Nicomachean Ethics”, Aristoteles memperkenalkan prinsip “golden mean” di mana suatu keutamaan dapat diperoleh apabila kita berada pada titik tengah di antara kelebihan dan kekurangan ketika hendak melakukan sebuah tindakan.

Artinya, dalam konteks keberanian, tindakan berani merupakan titik tengah di antara kecerobohohan dan sikap pengecut. Tolok ukur bagaimana tindakan kita disebut berani atau tidak juga sangat bergantung pada situasi yang hendak kita hadapi.

Misalnya, kita sedang mendapati kasus perampokan di hadapan kita. Kita harus menganalisa terlebih dahulu bagaimana situasinya. Jika perampoknya sendirian dan tidak membawa senjata tajam, maka menolong korban secara langsung merupakan tindakan yang berani.

Tetapi, apabila ternyata jumlah perampoknya secara kuantitas lebih banyak dan ada yang membawa senjata, maka menolong korban secara langsung merupakan sebuah bentuk tindakan yang ceroboh. Kita dapat menolong korban dengan menghubungi pihak berwajib atau berteriak meminta bantuan massa yang ada di sekitar tempat kejadian untuk menumpas perampokan tersebut.

Disinilah peran rasa takut kita, di mana ia berfungsi untuk mengontrol tindakan kita supaya tidak gegabah. Di satu sisi kita ingin menolong korban secara langsung, namun di sisi yang lain timbul secuil rasa takut apabila kita hendak menolong secara sembarangan akan berbahaya pada kondisi kita sendiri.

Lebih lanjut, Aristoteles menyatakan bahwa keberanian bukanlah suatu kondisi atau tindakan yang menegasikan ketakutan secara total, tetapi lebih kepada mengalokasikan rasa takut ke hal-hal yang tepat.

Contohnya, kita takut berbuat hal-hal buruk yang merugikan orang lain seperti: Mencuri.Kita takut untuk mencuri karena akan melanggar hukum dan mungkin akan mendapat penghakiman massa.

Kita juga mungkin takut menerobos lampu merah karena akan diberikan denda oleh polisi. Bagi umat beragama, mereka takut berbuat dosa karena akan melanggar perintah agamanya. Pada intinya, dari keseluruhan contoh yang mungkin ada, kita takut berbuat keburukan karena adanya hukuman yang sudah menanti apabila kitamelanggarnya.

Inilah yang dimaksud ketika rasa takut kita ekpresikan pada hal yang tepat dan berfungsi untuk mengontrol keberanian kita. Sehingga, prinsip tersebut senantiasa melandasi segala perbuatan praktis kita.

Memang, ini merupakan sebuah langkah awal bagaimana kita tidak berbuat keburukan, sehingga kebaikan itu dapat muncul. Kita takut berbuat buruk atau jahat karena akan berkonsekuensi mendapatkan hukuman atau caci maki dari masyarakat akbiat melanggar nilai objektif tentang kebaikan.

Namun seiring berjalannya waktu, sikap tersebut akan membentuk suatu kebiasaan yang meneguhkan karakter kita. Sehingga, kita tidak berbuat buruk bukan hanya karena takut akan hukuman, melainkan kita tidak berbuat buruk karena dilandasi oleh kesadaran yangberprinsip pada keutamaan.

Kita tidak mencuri hanya karena takut memperoleh hukuman, melainkan kita takut merampas hak orang lain. Begitu juga kita tidak melanggar lampu lalu lintas bukan karena takut pada polisi, melainkan takut merampas hak pengendara lain.

Rasa takut yang kita miliki memang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa empati kita agar tidak seenaknya berbuat sesuatu dan menunjukan bagaimana kita seharusnya bersikap kepada orang lain. Hal ini membuat kita untuk lebih memikiran perasaan dan keadaan orang lain.

Jadi, takut bukan hanya sekadar antonim dari berani. Rasa takut dapat dimaksudkan pada artian yang lebih luas. Ia dapat kita manifestasikan pada sikap takut untuk berbuat keburukan.

Dapat dikatakan bahwa seandainya takut adalah emosi negatif, dan keburukan adalah sesuatu yang negatif pula, maka dalam teorema matematika: Negatif dikalikan dengan negatif hasilnya adalah positif. Takut berbuat keburukan artinya suatu perbuatan yang positif.

Tetapi, pada realitanya masih banyak orang yang tidak memiliki rasa takut untuk berbuat keburukan. Seperti para pejabat yang melakukan praktek korupsi, padahal mereka telah disumpah lewat kitab suci dan mengetahui konsekuensi apa yang akan mereka terima apabila berbuat korupsi.

Kebanyakan pelaku korupsi memang belum menanamkan rasa takut untuk berbuat korupsi, lalu diikuti oleh kesadaran yang timbul atasnya sehingga mereka akan berempati dan menganggap perbuatan itu akan mengambil hak banyak orang.

Pada akhir bagian buku ke-2 Nicomachean Ethics, Aristoteteles juga menyatakan bahwa memang sulit untuk selalu pada kondisi “golden mean” pada setiap kondisi karenamanusia penuh dengan bias dan kecenderungan.

Oleh karena itu, kita memang harus selalu mengupayakan kondisi di tengah antara kelebihan dan kekurangan, yaitu sesuatu yang baik, agar setiap tindakan kita dilandasi oleh nilai kebaikan pula.