Aktivis
6 bulan lalu · 50 view · 3 min baca menit baca · Filsafat 47779_70971.jpg
Pixabay

Keunggulan Manusia

Manusia itu adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan empat keunggulan khusus dengan satu nafas perwakilan langit. Keempat keunggulan itu adalah akademis/berilmu, pencipta, pengabdi, dan bertanggungjawab. Seperti iklan anak masa Orde Baru, empat sehat lima sempurna. Empat keunggulan dan lima penyempurna.

Atas nama perjuangan, manusia mengupayakan empat dan satu menjadi lima keunggulan. Agar manusia bisa dikatakan sebagai insan yang senantiasa belajar menjaga keunggulannya. Sehingga dia menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi, bertanggung jawab dan bernapaskan semangat Ketuhanan Yang Maha Esa.

Penggunaan sila pertama ini menjadi bagian untuk membuat nyaman kita semua. Pada suatu organisasi, sebut saja Himpunan Mahasiswa Islam, manusia seharusnya memiliki kualitas insan cita. Sesuai dengan tujuannya: Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam serta bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai ALLAH SWT.

Untuk menjadi insan cita, seseorang harus belajar dan menambah ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmulah, derajat manusia lebih tinggi dari mahluk lain. Keilmuan membantu insan untuk membaca yang tersurat dan tersirat. Sehingga bisa mengambil pelajaran untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan manusia.


Insan cita yang senantiasa menimba ilmu bukanlah manusia yang sedikit ilmu banyak suara. Dia melalui pendadaran keilmuan. Sehingga, apa yang dia ketahui adalah berasal dari cahaya ilmu. Pengetahuannya merupakan pegangan hidup. Keilmuannya adalah cahaya saat malam untuk menelusuri jalan hidup penuh cobaan, rintangan, dan hambatan.

Dari pengetahuan, insan cita menuju ruang penciptaan. Inilah salah satu perwakilan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia, yaitu memiliki kemampuan penciptaan. Sehingga, insan yang berilmu bisa menciptakan sesuatu. baik manfaat untuk diri atau sekitarnya. Perwakilan kuasa langit ini membantu manusia menjalani kehidupan.

Penciptaan ini mungkin tidak bernyawa. Itulah batasan antara hamba dengan PENCIPTA yang sesungguhnya. Insan pencipta hanya bisa melahirkan turunan ilmu atau benda-benda yang bermanfaat bagi hidupnya. Meskipun demikian, ciptaan itu adalah karya, bukti pengetahuan bergerak menuju ruang penciptaan. Bisa berupa kata-kata, benda tidak bergerak atau yang bisa bergerak dan lain-lain.

Lalu, keunggulan/kualitas berikutnya adalah insan pengabdi. Sebagaimana kita ketahui, manusia yang berilmu dan memiliki kemampuan mencipta dari pengetahuannya merupakan manusia yang cenderung pada kegiatan pengabdian. Dia akan tergerak dengan sendirinya untuk mengabdi, baik oleh situasi atau kesadaran personal.

Pengabdiannya adalah proses perkaderan. Sebuah proses berkelanjutan yang memudahkan generasi memahami ilmu pengetahuan. Seterusnya menemukan cara menghasilkan karya tersendiri. Pengabdian itu bukanlah memaksakan pada diri sendiri, tetapi membentuk akademis-pencipta-pengabdi yang lain di setiap generasi.

Insan cita ini juga bertanggung jawab atas ilmunya, ciptaannya dan pengabdiannya. Dia akan merencanakan semua kegiatan dengan baik. Lalu menjalankan dengan kesungguhan dan kehati-hatian. Pada akhirnya, berusaha menjadi pribadi yang berani berbuat siap bertanggung jawab.

Tanggung jawab adalah semangat siap berkorban. Membangun kepercayaan untuk melalui hidup dengan kesiapan menanggung semua risiko. Juga menyatakan suara kejujuran untuk setiap pekerjaan. Tidak ada kebohongan dari kata dan kerjanya. Semua aktivitas bisa dilalui dengan kepastian dan ketepatan yang bersyarat sebatas kemampuan manusia itu sendiri.

Dengan empat keunggulan yang harus dicapai dengan proses belajar secara terus-menerus, manusia pun secara sadar memiliki keinginan untuk menyandarkan diri pada Sang Penguasa alam semesta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Setiap ilmu, ciptaan, pengabdian dan kerja yang bertanggung jawab selalu didasari oleh keinginan memperoleh rida Tuhan.


Napas kehambaan dan pengakuan pada Tuhan inilah yang menyempurnakan empat keunggulan tersebut sebelumnya. Insan yang memahami posisi sebagai hamba dari Tuhan adalah manusia yang berupaya mengikuti perintah dari Pemilik Ilmu. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari kerusakan, baik untuk pribadi, masyarakat, bangsa, negara dan alam semesta.

Oleh sebab itu, jika kamu memiliki ilmu dan pengetahuan, maka gunakanlah untuk menjaga dirimu dan semua orang di sekitarmu. Jangan gunakan apa yang kita ketahui untuk menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah. Apalagi bila ilmu itu hanya untuk tahta (jabatan) dan harta (kekayaan).

Ingatlah, tiada bermakna hidup seorang insan yang dalam perjalanan usianya tidak menghasilkan karya. Apa pun itu, karya adalah bukti seorang insan hidup. Dan jadikanlah hidupnya lebih bermanfaat dalam bingkai perkaderan. Sebaik-baiknya insan adalah yang melakukan pendadaran pada generasi selanjutnya.

Pada setiap langkah hidupnya, insan selalu bertanggung jawab untuk selalu adil sedari pemikiran, perkataan dan perbuatannya. Karena dengan kesiapan bertanggungjawablah, pengetahuan, karya pengabdian akan bermanfaat. Pertanggungjawaban adalah evaluasi publik untuk setiap insan. Masyarakat yang akan menilai kemurnian pemikiran, karya dan pengabdiannya.

Pada muaranya, insan yang Berketuhanan Yang Maha Esa adalah manusia yang memahami bahwa hidup memiliki tuntunan. Janganlah menjadikan dalil-dalil Tuhan untuk menyelamatkan diri dari kepentingan sesaat. Apalagi menggunakan dalil Tuhan untuk menutupi kesalahan dan melegalkan kekuasaan.

Semoga kita semua bisa mengejar ketertinggalan untuk menjadi insan cita. Pada kemudian hari berkumpul dalam keluarga cita. Kemudian menyatu untuk membentuk tatanan masyarakat cita. Amin.


Artikel Terkait