Arsiparis
2 tahun lalu · 360 view · 3 menit baca · Buku baswedan_001.jpg

Keturunan Arab yang Merajut Keindonesiaan

Perjalanana berdirinya negara Indonesia tidak terlepas dari perjuangan orang-orang yang bukan warga negara asli Indonesia. Mereka adalah para warga keturunan yang berdedikasi dan mengakui bahwa walaupun mereka adalah peranakan. Di antara mereka ada yang keturunan Tionghoa, Arab dan Eropa.

Mereka lahir dan dibesarkan di bumi pertiwi Indonesia. Salah satu di antaranya adalah warga keturunan Arab yang peranannya tidak bisa dibilang kecil dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Ia adalah Abdul Rahman Baswedan yang lebih dikenal A.R. Baswedan.

Di antara warga keturunan Arab Indonesia terbagi menjadi dua golongan; kaum Arab Asli (Wulaiti/totok) dan kaum keturunan Arab (Muwalad/peranakan). Kaum Wulaiti berdarah Arab murni dan biasanya lahir serta besar dinegeri Arab, terutam Hadramaut. Sedangkan Muwalad berdarah campuran dan dilahirkan serta dibesarkan di Indonesia.

Terlahir dari keluarga keturunan Arab, golongan Muwalad, A.R. Baswedan memberikan teladan terhadap orang-orang Wulaiti maupun Muwalad bagaimana menjunjung tinggi tanah kelahiran bukan atas asal keturunan semata-mata.

Biarpun dia adalah keturunan arab namun ia mengakui bahwa tanah airnya adalah Indonesia karena ia lahir dan dibesarkan dengan nilai nilai kebudayaan Indonesia bukan dengan lingkungan budaya Arab. Ia memelopori bagaimana warga keturunan harus berinteraksi dengan pribumi asli. Membaur dalam kehidupan bermasyarakat sebagai warga negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di awal-awal mempraktikkan cara hidup bermasyarakat dengan cara membaur dengan pribumi A.R. Baswedan banyak mendapat kecaman dari golongan Wulaiti. Mereka para golongan Wulaiti tersebut beranggapan bahwa tanah airnya adalah arab bukanlah Indonesia.

Baginya Indonesia adalah tempat mencari nafkah saja. A.R. Baswedan berani bersebrangan dengan mereka karena ia lahir dan dibesarkan di Indonesia maka ia berhak menganggap Indonesia sebagai tanah airnya.

Terlahir dari ayah Awad Baswedan dan ibu Aliyah dari Bangil di Surabaya, 9 September 1908. Berbarengan dengan tahun berdirinya Boedi Oetomo. Ia adalah seorang nasionalis sejati bagi bangsa Indonesia dan khususnya peranakan Arab-Indonesia. Ia juga jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat juga sastrawan Indonesia.

Beliau juga bisa disebut salah satu Founding Fathers (Bapak Bangsa) karena tercapat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Hal 4. Di dunia pers A.R. Baswedan seolah mendapat tempat yang menyuburkan jiwa nasionalismenya.

Bersama dengan sahabatnya seorang wartawan dan penulis kawakan Liem Koen Hian yang keturunan tionghoa, yang pada saat itu sudah redaktur senior di harian Melayu-Tionghoa, Sin Tit Po, A.R Baswedan banyak membuat karangan yang bernuansa keindonesiaan.

Selama bekerja di harian tersebut beliau banyak melepaskan kritik-kritik pada pemerintah kolonial juga banyak memuat berita berita politik tentang pergerakan kemerdekaan pada saat itu.

Sebagai seorang diplomat, beliau termasuk tokoh yang terlibat dalam diplomasi yang diketuai oleh the Grand Old Man, H. Agus Salim ke Timur Tengah untuk menggalang pengakuan kemerdekaan Indionesia, dan mereka berhasil mendapatkan pengakuan secara de jure dan de facto bagi kemerdekaan Republik Indonesia yaitu dari Mesir dan Liga Arab.

A.R. Baswedan juga layak menjadi teladan bagi seorang yang mengaku pejuang. Karakter tanpa pamrih yang memang seharusnya dimiliki oleh para pejuang untuk membuktikan dedikasinya terhadap apa apa yang telah diperjuangkannya. Walaupun sempat menjabat menjadi Menteri Muda Penerangan namun rumah pun Beliau tidak punya dan sehari-harinya beliau tinggal di rumah kontrakan.

Baswedan membedakan dengan jelas arti berjuang dan bekerja. Itu ia buktikan dengan tidak pernah meminta honor sebagai pengurus partai karena baginya partai adalah medan perjuangan bukan untuk mencari uang. Itulah teladan yang bisa kita ambil dari seorang A.R. Baswedan yang bisa berperan sebagai ayah yang sederhana, Politisi yang lihai, wartawan yang berpena tajam juga seorang sastrawan.

Sebagai seorang sastrawan saya kutipkan bait syair beliau yang bertitel “Nikmat Rokhani”. Bangun, bangunlah benih!/ Jadilah pohon, berbuah bercabang,/ Biarkan panas membakar usang,/ Biarkan hujan lebat tertuang,/ Untuk khalayak, didiri malang,/ Namun adalah Tuhan Pengasih,/ Dia memberi nikmat ruhani!

Judul: Biografi A.R. Baswedan Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan
Penulis: Suratmin dan Didi Kwartanada
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tahun: 2014
Tebal: xliv+308 hlm
ISBN: 978-979-709-859-9

Artikel Terkait