Akuntan
1 bulan lalu · 39 view · 5 min baca menit baca · Budaya 51866_69900.jpg

Ketupat Yang Menjadi Sampah

Gorontalo memang selalu menyajikan budaya khas di setiap momen. Seperti saat ini, momen Labaran Idul Fitri 1440 Hijria masih dirasakan oleh masyarakat Gorontalo dengan deretan kegiatan yang bernuasa kebudayaan. Puncak perayaan kebudayaan yang selalu di tunggu-tunggu dan di nantikan oleh masyarkat Gotontalo adalah Lebaran Sunnah atau dikenal sebagai Lebaran Ketupat.

Lebaran Sunnah dilaksanakan sepekan setelah perayaan Lebaran Idul Fitri. Masyarakat Gorontalo kembali menggelar tradisi perayaan lebaran Ketupat. Tradisi ini sudah menjadi kebudayaan turun temurun oleh masyarakat Gorontalo dan digelar di seluruh wilayah yang ada di Provinsi Gorontalo. Untuk tahun ini, Lebaran Ketupat jatuh pada Hari Rabu, (12/6/2019) atau tepat Hari ke tujuh Bulan syawal 1440 Hijria.

Salah satu tokoh masyarakat yang sempat dijumpai, yaitu Husin Nurkamiden (40) merupakan warga desa Kaliyoso, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo yang juga merupakan masyarkaat keturunan Jawa Tondano (Jaton) menceritakan asal muasal perayaan tradisi Lebaran Ketupat.

Menurut Husin, awalnya tradisi Lebaran ketupat hanya di gelar oleh masyarkat Jawa Tondano (Jaton) yang dahulu melakukan Transmigrasi di Provinsi Gorontalo, dan saat ini menetap di wilayah Kabupaten Gorontalo. 

Beberpa nama desa yang ada di Kabupaten Gorontalo menggunakan nama Jawa, sehingga masyarakat Gorontalo mengenal dengan sebutan Kampung Jawa. Desa-desa itu yakni; desa kaliyoso, Roksonegoro, Mulyonegoro, dan Desa Yosonegoro yang waktu itu mulai hadir di Gorontalo pada tahun 1909.  

“Saat itu awal mula masyarakat Jaton masuk Ke Gorontalo, karena transmigrasi akhirnya sampai juga di sini. Sebelumnya mereka adalah keturunan Kyai Modjo, yang menurut cerita sempat di asingkan oleh Belanda waktu itu ke wilayah Minahasa atau Sulawesi Utara. Lama hidup disana kemudian mereka beralih tempat di Gorontalo, hingga akhirnya memiliki keturunan di daerah ini,” ungkap Husin.


Masyarakat Jaton yang datang di Gorontalo, kembali menyebar di beberpa wilayah yang ada di Kabupaten Gorontalo. Dan membentuk desa-desa yang dimana seluruh tradisi merekapun ikut dijaga dan dilestarikan di desa tersebut. Salah satunya tradisi perayaan lebaran ketupat yang merupakan tradisi Nenek Moyang mereka di pulau Jawa.

"Kami menyebutnya Hari Raya Sunah. Hari Raya Sunah merupakan hari raya yang di laksanakan pada hari ke tujuh setelah lebaran idul fitri tepatnya di bulan syawal," Lanjut Husin.

Kemudian, setelah perayaan Idul Fitri mereka melakulan puasa sunah syawal selama enam hari dan berlanjut sampai pada ritual hari ketujuh. Tepat pada hari ketujuh, mereka membawa makanan ke mesjid untuk di doakan, dan dilanjutkan dengan makan bersama yang kemudian bersilaturahmi dengan masyarakat sekitar.

"Itulah mengapa saat ini dikenal dengan Lebaran Ketupat. Karena, ciri dan menu khas yang di sajikan pada perayaan ini adalah makanan khas Jawa yang berupa kue tradisional. Seperti, kue Mandot atau kue yang di buat dari beras ketan dan menggunakan gula yang di bungkus daun, serabi atau kue apang colo, kue gora, kue koa, daging ayam, daging sapi, nasi bulu dan dan tentunya Ketupat yang menjadi bagian terpenting dalam perayaan hari raya sunah ini,” pungkas Husin.

Perayaan ketupat di Gorontalo memang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di bagian Tengah Indonesia. Sehingga setiap perayaan Lebaran Sunah atau Ketupat ini selalu datang warga dari beberapa daerah, seperti Manado, Bitung, Luwuk, Palu, Makasar bahkan tak sedikit dari pulau Jawa ikut datang ke Gorontalo di saat perayaan Hari Raya Ketupat.

Saat perayaan Ketupat, hampir semua rumah penduduk menyediakan makanan. Makanan yang disediakan tentunya ada ketupat. Ketupat yang disediakan biasanya di dampingi oleh Opor Ayam, Sate, Buras, Nasi bulu, dan Dodol.

Salah satu masyarakat Palele, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah yaitu Sarjan Lahay, terlihat sangat menikmati lezatnya ketupat yang disajikan dengan Opor Ayam di rumah salah satu warga saat mengunjungi pusat perayaan ketupat yang berada di Desa Kaliyoso, Kabupaten Gorontalo. 

Dirinya mengakui bahwa di Gorontalo sendiri mempunyai sajian khas saat perayaan ketupat, yakni berupa Dodol dan Nasi Bulu. Sehingga, Sarjan menilai hal ini yang membedakan perayaan Ketupat dengan daerah - daerah lain.

 "Saya sering merayakan Lebaran Ketupat di Gorontalo, ada beberapa bagian yang membuat saya sangat rindu untuk ke Gorontalo saat perayaan Ketupat, yakni dodol dan nasi bulu. Semua warga yang saya kuncungi selalu menyediakan makanan khas tersebut untuk menyambut para tamu yang datang. 


Dan saya senang di Gorontalo, sudah makan kenyang malah dikasih lagi untuk dibawah pulang,” tutur Sarjan sambil tersenyum kecil memperlihatkan beberapa ikatan dodol dan nasi bulu yang sudah tersusun rapi diatas motornya.

Sementara itu, Dewan Adat Provinsi Gorontalo Yamin Husain saat dikonfirmasi mengenai perayaan Ketupat dirinya menbenarkan bahwa Masyarakat Gorontalo sepenuhnya mengikuti Tradisi ini berawal dari kebiasaan masyarakat keturunan Jaya yang sudah menetap lama di Gorontalo. 

Hingga saat ini, perayaan Ketupat tidak lagi terpusat di wilayah pemukiman Jawa yang ada di Gorontalo saja, melainkan sudah menyebar hampir diseluruh masyarakat yang ada di Gorontalo.

 "Pada intinya perayaan ini dijadikan ajang untuk silaturahmi, serta menjaga persaudaraan antar sesama masyarakat Gorontalo. Semoga momen lebaran ketupat yang rayakaan oleh seluruh warga Gorontalo ini bisa saling memaafkan antar sesama dan menjalin kembali persaudaraan kita," jelas Yamin kala ditemui saat perayaan Ketupat yang ada di Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango.

***

Terbuang Percuma, Tradisi Ketupat Mewah Menjadi Sampah !!

Terdapat ratusan Ketupat berjejeran dan terbuang percuma pasca perayaan Lebaran ketupat yang digelar, Rabu (12/6) di alun - alun Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. 

Perayaan Ketupat yang disponsori oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara (Gorut) itu berhasil mencatatkan rekor baru dengan jumlah ketupat sebanyak 204.120 buah.

Namun, potret menyedihkan terjadi kala selesainya acara. Ratusan ribu Ketupat yang sebelumnya dipajang dan menjadi Ikon pada perayaan tersebut, ternyata berbekas kesedihan. Terlihat sisa ketupat yang tidak terhitung jumlahnya berhamburan diberbagai tempat pasca selesainya acara pada sore itu.


Salah satu netizen melayangkan aksi protes pada akun media sosial Facebook pribadinya. Wilna Pakaya (27) dalam akun Facebook mengatakan sangat perihatin dengan ketupat yang terbuang begitu saja. “Niatnya untuk meramaikan, tapi kasihan banyak ketupat yang Rugi,” caption Wilna pada postingan Akun Facebooknya.

Hal senada diungkapkan oleh Ridwan Pakaya (24) merupakan seorang warga Desa Kotajin yang mengatakan ketupat yang tersisa itu, banyak berasal dari dinas-dinas.

"Kalau dari sekolah-sekolah itu habis, tapi yang dari dinas-dinas banyak tersisa," kata Ridwan Pakaya saat dikonfirmasi via telphone.

Selain itu, dirinya menyayangkan ketupat yang dibuat dengan penuh kebahagiaan namun terbuang percuma

“Ada juga beberapa masyarakat yang mengambil sisa ketua tersebut untuk dimakankan kepada ayam dari pada rugi,” Lanjut Ridwan.

Perayaan Ketupat setiap tahun memang dilakukan diberbagai tempat di Gorontalo, namun tahun ini perayaan Ketupat yang dipusatkan di Atinggola Gorut menyisakan suara-suara sumbang dimasyarakat bahwa tradisi Ketupat yang “mewah” hanya menjadi “sampah” karena ingin mengejar rekor semata.

“Sangat disayangkan, kemewahan yang diperlihatkan hanya menjadi sampah bagi kami,” kata salah satu masyarakat Atinggola yang tak ingin disebutkan namanya.

Artikel Terkait