Pasangan muda, keduanya berusia 20 tahun, keduanya memutuskan akan menikah bulan depan. Sebelum pernikahan di selenggarakan mereka harus di pingit terlebih dahulu. Pingit adalah salah satu tradisi Jawa di mana sang mempelai perempuan tidak boleh keluar rumah atau pun bertemu pasangannya, biasanya itu dilakukan satu bulan atau dua bulan sebelum pernikahan.

Satu minggu acara pingitan itu berjalan dengan mulus, tapi malam ini calon pengantin pria sedang dalam buaian rindu. Rasa rindunya kali ini sudah tak tertahan, ia pun memutuskan untuk pergi menemui kekasihnya. Pria ini pun tak akan meminta izin kepada calon mertuanya untuk bertemu, karena sudah pasti itu akan di tolak, sebab kedua keluarga sangat patuh akan tradisi Jawa.

Sebenarnya calon pengantin wanitanya, juga sedang gundah seperti kekasihnya. Ia masih menatap jendela kamar, berharap keberuntungan kekasihnya melewati rumahnya disengaja atau memang kebetulan. 

Saat ia sedang asyik merenung di jendela, ada seorang anak kecil yang memberikan sebuah surat dengan pita hitam, tapi masih terlihat indah. Wanita ini membacanya, wajahnya berseri-seri, bibirnya mulai merekah.

Malam ini terlihat wanita itu tak bisa tidur, di atas ranjang tepat di bawah jendela ia seperti sedang menanti seseorang. Lalu terdengar ketukan yang bersumber dari jendela, dengan sigap sang wanita ini membuka perlahan-lahan agar engsel jendelanya tak terdengar oleh orang tuanya. Dari luar jendela calon pengantin pria sangat senang, giginya terlihat sangat rapi saat tersenyum.

Akhirnya malam ini, menjadi malam panjang bagi kedua pasangan itu. Saling menatap wajah, di bawah pancaran bulan dan bintang yang indah.

Pertemuan terlarang itu menjadi kebiasaan keduanya. Singkatnya, satu hari sebelum menginjak hari pernikahan, tak akan ada pertemuan rahasia lagi. Mereka sudah sepakat tentang hal itu. 

Malam ini sang wanita sedang tidur lelap, karena ia juga tahu kekasihnya sudah tak akan mengunjunginya. Tapi entah, saat malam hari tepat seperti waktu sang kekasih menemuinya, terdengar ketukan dari jendela. 

Wanita itu langsung terbangun, awalnya ragu untuk bangun. Kemudian berubah pikiran, mungkin memang kekasihnya tak bisa memendam rindu, perlahan mencoba membuka jendela. Tak ada orang di luar, ia menoleh kanan kiri, kosong. Beberapa kali ia mencoba memanggil nama kekasihnya, tapi tak kunjung keluar.

“Sayang, jangan bercanda!”

Ternyata ini hanya delusi, pikirnya. Kemudian saat mulai menutup jendela, seperti ada yang menahannya dari luar. Kemudian ia mendorong, wanita ini kesal karena ia mengira jika kekasihnya telah mengerjainya. Saat kedua jendela terbuka lebar, seperti semula, tak ada siap siap.

Wanita ini pun melanjutkan tidurnya, posisinya kini membelakangi jendela. Belum sempat ia memejamkan mata, terdengar lagi ketukan di jendela, ia mencoba mengusir delusi itu, menarik selimut untuk menutupi kepala, kedua tangan menekan cuping telinga untuk memperhambat suara yang akan masuk.

Terdengar engsel jendela yang bergerak, aku meliriknya. Jendela terbuka lebar, ada sosok seperti hewan yang menempel pada salah satu jendela, berkepala manusia. Rambutnya panjang hampir menutupi sebagian wajah, satu matanya terlihat merah kelam. Sedangkan bibirnya seperti robek, tanpa ia tersenyum pun giginya terlihat.

Saat wanita itu mencoba mencoba membalikkan badan, agar benar-benar menatap jendela serta meyakinkan jika itu hanya delusi semata.  Kemudian ia benar-benar membuka mata, sosok itu kini sangat terlihat jelas, lalu tersenyum.

Tubuh wanita ini, terasa mati. Dalam diamnya, sosok itu sepertinya mulai merambat turun dari jendela, menghampiri wanita ini, rambutnya yang panjang mengenai bagian kaki, yang selimutnya sudah terbuka. Semakin dekat suara ia merangka, sosok itu tersenyum. Semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan hilang. 

“Nak ayo bangun, kau harus segera bersiap-siap" 

Matanya membelalak, kemudian ia melihat ibunya bukan sosok yang menyeramkan. Sekali lagi ia menghembuskan napas dan bersyukur bahwa itu hanya delusi semata.

Hari ini, tepat di hari pernikahannya. Tepat setelah Shalat asar diadakan acara Panggih pinangante, yang mana sebelumnya mereka sudah melakukan akad nikah. Pengantin wanitanya sudah siap dengan riasan cantik, bak bidadari. 

Acara Panggih pinangante mulai dilakukan dengan menyambut pengantin pria, yang di nanti akhirnya datang, lengkap dengan dua kembang mayang disisinya. Beberapa keluarga turut datang di belakangnya, Semuanya terlihat bahagia. 

Lalu wanita ini, merasa sepi, hening. Hanya terdengar ketukan jendela seperti malam kemarin, suara keras dan semakin keras. Wanita ini pun menjerit keras, kemudian membuka mata, melihat kekasihnya yang sudah tumbang dimakan sosok wanita  berambut panjang itu. Sosok itu kin tersenyum dan merangka menghampirinya. 

Ia bisa melihat, semua orang dihadapnya bersedih, ibunya menangis. Tapi wanita ini tetap diam dan masih mematung. Matanya tak bisa berkedip, yang ia lihat hanya sosok berambut panjang. Sosok itu semakin mendekat, lalu gelap.

Ada sesuatu dingin yang menetes pada kulitnya, kemudian disusul pelukan hangat. Wanita ini merasa bingung, ia masih tetap dalam kamarnya, dengan balutan busana malam itu, malam terakhir sebelum pernikahan. Kemudian ia melihat ibunya.

“ibu... kenapa menangis?”

“Nak yang sabar, Sopyan telah meninggal...”