Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah berita pemerkosaan seorang balita berusia lima tahun oleh anak remaja 13 tahun yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di Lampung. Seperti biasa, respon saya terkait berita pemerkosaan itu pasti ingin sambat, saya kesal sekali.

Dalam laman lampungpro.co, dikatakan kronologi singkatnya, balita itu sedang sendirian di rumah, ditinggal pergi kondangan oleh keluarganya. Pelaku datang ke rumahnya dan memerkosa korban.

Beberapa hari lalu juga saya membaca berita di Banjarbaru seorang ayah yang memerkosa anak perempuannya berkali-kali, hal itu terjadi sejak anaknya masih SMP sampai sekarang sudah SMA.

Alasan pelaku yang sudah memerkosa anaknya sendiri sebanyak lima kali itu adalah karena nafsu melihat paha korban.

“Astaga ini pada kenapa sih? Sekarang keluar rumah takut, dalam rumah juga takut. Tempat aman di bumi ini ada di sudut mana ya?”

Term “Tempat terbaik bagi perempuan adalah dalam rumah” sudah jelas tidak valid, dipatahkan oleh kasus-kasus kekerasan yang terjadi dalam rumah, mau itu perkosaan, KDRT, dan lain sebagainya. Tempat yang dikatakan terbaik itu seharusnya aman, tapi ternyata tidak pasti juga.

Asumsi yang sering beredar terhadap perkosaan pada perempuan seringkali menyalahkan korban, perempuan itu sendiri. Perempuan yang –katakanlah- memamerkan aurat yang seharusnya ditutupi, mengundang hasrat seksual bagi yang melihatnya. Tapi di lain kasus juga sering terjadi perkosaan terhadap perempuan yang sudah menutup auratnya.

Andree Feillard melihat bahwa di Indonesia, jilbab itu tidak mempunyai fungsi “perlindungan” dari kaum laki-laki. Sehingga memakai jilbab atau tidak, menutup aurat atau tidak, itu tidak memiliki hubungan sebab-akibat dengan pemerkosaan.

Selain itu, ada asumsi lain yang awalnya juga saya percayai, yaitu kesalahan pelaku karena kurangnya pengetahuan agama. Kekerasan seksual terjadi karena pelaku kurang ilmu agamanya.

Asumsi tersebut bisa saja benar, namun saya teringat kembali kasus-kasus perkosaan yang viral beberapa waktu lalu, yang terjadi di ruang lingkup pesantren, basis pendidikan agama terbaik menurut saya. Sehingga pengetahuan agama juga tidak bisa dijadikan patokan.

Agama memiliki peran yang sangat penting sebagai landasan paham, pikir, dan laku penganutnya. Bukan agamanya yang salah, tapi penganutnya yang mungkin hanya sekadar ‘belajar’ ilmu agama sebagai pengetahuan, bukan sebagai pedoman berperilaku.

Husein Muhammad, dalam bukunya Islam Agama Ramah Perempuan, mengemukakan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan berakar lebih pada adanya ketimpangan relasi kuasa berbasis gender yang mengakar dalam budaya masyarakat, yaitu patriarki.

Patriarki, sebuah sistem di mana laki-laki berada pada posisi superior, memegang otoritas terhadap perempuan yang dipandang inferior. Keyakinan bahwa perempuan secara kodrati merupakan makhluk yang lemah, inferior, telah menempatkan perempuan seolah-olah sah untuk ditaklukkan dan diperlakukan seenaknya oleh laki-laki, termasuk dengan kekerasan.

Keadaan akan bertambah parah ketika relasi kuasa berbasis gender itu mengalami ketimpangan, tidak setara. Ketika satu pihak, dalam hal ini pelaku, memiliki kendali, kuasa, terhadap korban, secara ekonomi, pengetahuan, status sosial, dan lain sebagainya.

Bentuk relasi kuasa itu dapat berupa hubungan patron-klien, seperti antara orang tua-anak, majikan-buruh, guru-murid, pengasuh-santri, tokoh masyarakat atau tokoh agama-warga, dan kelompok bersenjata/aparat-penduduk sipil, bahkan orang pusat-orang daerah.

Husein Muhammad, dalam bukunya Fiqh Perempuan, mengatakan kekerasan seksual merupakan kejahatan terhadap mertabat kemanusiaan. Dalam hal ini, Islam, dan agama-agama lain hadir sebagai sarana pembebasan terhadap seluruh bentuk penindasan, tirani, kebiadaban, dan perbudakan manusia.

Maka, setiap penindasan, tirani, kebiadaban, dan perbudakan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak asasi yang dianugerahkaan Tuhan kepada manusia.

Dalam pandangan Islam, manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia di muka bumi. Kemuliaan manusia merupakan hak alami setiap manusia. Karena itu, ia tidak boleh dilecehkan, dinodai, diperlakukan secara kasar, apalagi dihancurkan. Ini berlaku terhadap semua manusia, laki-laki dan perempuan, apa pun identitas agama, suku, budaya, dan latar belakang lainnya.

Sering juga saya mendengar istilah “kucing mana yang menolak ikan asin?” aduh kok mau ya disamain sama binatang?

Untuk membalas istilah tadi, sebuah pernyataan “Al-Insanu Hayawanun Nathiq” yang berarti manusia adalah hewan yang berpikir, kiranya tepat.

Manusia adalah makhluk paling mulia karena ia dikaruniai kemampuan untuk berpikir kritis. Dengan kemampuannya berpikir ia mampu menggerakkan peradaban, menggerakkan dan mengendalikan banyak orang dan dirinya sendiri, tidak terkecuali nafsunya. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan.

Manusia, apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun jenis kelaminnya, apa pun gendernya, dari mana pun ia, sudah seharusnya bersikap baik dan adil kepada manusia lainnya tanpa memandang identitasnya.

Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, harus digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan dijadikan alat legitimasi atau pembenaran untuk melakukan suatu tindak kejahatan, perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan, apalagi kepada yang dipandang lemah dan berada di bawahnya.

Seharusnya semakin seseorang memiliki kekuasaan dan kekuatan, ia semakin bijaksana menggunakannya. Bersama kekuatan ada tanggung jawab yang besar.

Sebagai penutup, saya teringat dengan perkataan Gus Dur, “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”