Saya dan mungkin pembaca sering kali melihat waria-waria di salon-salon potong rambut, salon kecantikan, maupun sebagai perias pengantin.

Bahkan saya pernah bertanya kepada beberapa kawan yang biasa perawatan di salon kecantikan tentang komentar hasil riasan para waria. Katanya, hasil make up seorang waria itu lebih bagus daripada hasil make up seorang laki-laki gay.

Terlepas itu pandangan pribadi kawan saya, yang jelas saya melihat kawan-kawan waria begitu antusias ketika berbicara tentang kecantikan, make up, dan tata rias. Bahkan menurut pengamatan saya, waria lebih suka menambahkan lipstik atau bedak sebagai modal utama kecantikan mereka.

Sempat saya bertanya kepada salah satu waria yang berprofesi sebagai pengamen. Kenapa kamu sering menambahkan lipstik dan bedak padahal saya dari tadi tidak menambahkan lipstik dan bedak sama sekali?

Mereka menjawab bahwa banyak dari waria yang memiliki wajah berminyak dan sering keluar keringat, sehingga bedak lebih mudah luntur, karenanya harus membawa peralatan kosmetik dan tisu di dalam tas ketika mau keluar rumah.

Tulisan ini merupakan hasil dokumentasi catatan obrolan dengan salah satu kawan waria yang berprofesi sebagai perias LC di sebuah karaoke ternama di kota Yogyakarta.

Harapan dari tulisan ini adalah agar pembaca dapat melihat pengalaman waria bahwa tidak sedikit dari kawan-kawan waria yang bekerja sesuai dengan skill dan kemampuan yang mereka miliki.

Arum & Skill yang Dimiliki 

Arum adalah nama salah santri di Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta. Arum lahir dan besar dari keluarga kelas ekonomi menengah. Arum adalah asli dari suku Jawa. Sejak kecil, Arum dan keluarganya tinggal di daerah Kota Yogyakarta dan Arum menempuh pendidikan di kota Yogyakarta.

Arum adalah anak ke 5 (lima) dari 7 (tujuh) bersaudara. Dalam keluarganya, hanya Arum satu-satunya yang beridentitas gender sebagai waria. Empat saudaranya adalah seorang perempuan dan dua saudaranya adalah laki-laki.

Arum mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Industri Pariwisata (setara SMA) dan lulus tahun 1995. Kala itu bapaknya Arum ingin agar Arum kuliah hingga ke Perguruan Tinggi, tetapi Arum memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan.

Keasyikan Arum bekerja membuat Arum “melalaikan” keinginan bapaknya sehingga setelah Arum merasa bosan bekerja di Perusahaan. Arum mengikuti kursus singkat tata rias. Arum menemukan bakat dirinya bahwa bakatnya adalah di bidang tata rias. Dan menurut cerita Arum, ia sejak kecil “suka” merias teman-teman perempuannya untuk mengikuti karnaval dan lain sebagainya.

Selesai mengikuti kursus tata rias, Arum membuka usaha salon yang ia beri nama “Salon Nyahe” di rumahnya. Nyahe adalah panggilan dari keluarga dan masyarakat sekitar rumah Arum tinggal.

Uang untuk membuka usaha salon, Arum dapat dari hasil simpanannya bekerja di perusahaan. Seiring berjalananya waktu, salon Arum banyak pelanggan yang datang.

Mayoritas pelanggan Arum adalah perempuan. Mereka datang untuk salon kecantikan, merias wisuda, dan merias anak-anak ikut karnaval. Karena usaha salon makin laris manis, Arum mengubah nama salon menjadi “Salon Arumce Wedding” yang memperlebar usaha bisnis ke merias penganten dalam skala besar.

Menurut penuturan Arum, ketika Arum membuka usaha salon kecantikan itulah keluarga dan masyarakat secara luas “tahu” bahwa Arum adalah seorang waria. Pelanggan Arum yang mayoritas perempuan merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh Arum.

Berdasarkan penuturan Arum, para pelanggan tidak merasa berbeda antara Arum sebagai laki-laki dan Arum sebagai waria. Pelanggan melihat Arum sebagai sosok waria yang memiliki pelayanan merias dengan kualitas super.

Bahkan menurut cerita Arum, dalam peralihan identitas gender ke waria, Arum tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif dari keluarganya. Orang tua dan saudara-saudara Arum menerima kehadiran Arum sebagai seorang waria.

Penerimaan keluarga atas identitas gender Arum sebagai waria itulah yang menjadi salah satu kunci suksesnya usaha bisnis Arum di bidang salon kecantikan. Sehingga ketika banyak dari mayoritas waria memilih mengamen dan menjadi pekerja seks komersial, Arum justru mengembangkan skill yang ia miliki, yaitu merias.

Kini Arum berusia 43 tahun dan memilih menjadi seorang waria single tanpa pasangan. Di usia Arum yang tidak lagi muda, Arum menutup usaha bisnis salon kecantikan karena Arum memilih bekerja sebagai perias LC (Lady Companion) di sebuah karaoke terbesar di kota Yogyakarta.

Bekerja dengan Hati

Sebagai perias LC sejak tahun 2009, Arum bekerja dari pukul 18.00-22.00 WIB. Kemudian Arum menjadi asisten “Mami” di karaoke tersebut hingga pukul 03.00 WIB (pagi).

Di tempat karaoke tersebut, Arum berprofesi sebagai perias, yang mana tugas Arum mendandani para perempuan-perempuan di Karaoke, dan alat-alat make up telah disediakan oleh perusahaan tempat Arum bekerja. 

Sebagai perias LC yang jam kerjanya di malam hari, kini di tahun 2019 Arum mendapat gaji pokok sebesar Rp1.500.000/bulan, dan uang service sebesar Rp800.000-1.000.000/bulan.

Di samping mendapat uang bulanan sebesar Rp2.500.000/bulan, Arum juga mendapat uang saweran dari para perempuan-perempuan LC dengan pendapatan tidak tentu. Kadang semalam Arum mendapat Rp200.000 atau kadang Rp300.000/malam.

Jika ditotal pendapatan Arum bekerja sebagai perias LC kurang lebih Rp5.000.000/bulan kadang lebih kadang kurang tergantung uang saweran yang didapat. Untuk hidup di Yogyakarta dengan pendapatan penghasilan sebesar itu, maka bisa dikatakan bahwa kehidupan ekonomi Arum bisa dikatakan lebih dari cukup.

Secara ekonomi di kalangan para komunitas waria Yogyakarta, Arum merupakan waria yang memiliki penghasilan besar, dan secara sosial Arum adalah waria yang terhormat karena tidak berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Karena tempat bekerjanya tidak di jalanan, melainkan di tempat yang aman, di ruang ber-AC, dan mendapat jaminan kesehatan dari perusahaan.

Berdasarkan pengakuan Arum, Arum adalah tulang punggung keluarga yang membiayai biaya pendidikan salah satu anak-anak saudaranya yang kurang mampu secara ekonomi. Arum membiayai 3 keponakan yang sekarang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 2, Sekolah Menengah Pertama kelas 3, dan di Perguruan Tinggi semester 1.

Sebagai pekerja di waktu yang penuh risiko, yaitu di malam hari, saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu suka dengan pekerjaan sebagai perias LC?” Dengan tertawa dia menjawab bahwa pekerjaan merias adalah pekerjaan yang selaras dengan hobi yang Arum miliki.

Arum bahagia karena bisa bekerja dengan hati. Arum bekerja dengan penuh totalitas karena dunia make up adalah dunianya Arum.

Arum kerap kali mengalami sakit seperti pilek dan demam. Beruntungnya Arum tidak mengidap penyakit kronis. Sakit tersebut dikarenakan jam tidur Arum adalah dari pagi-siang. Dan jam bekerja dari sore hingga pagi.

Untuk mengantisipasi dari kecapean dalam bekerja Arum menyediakan vitamin C di tasnya. Dan minuman suplemen vitamin C itulah yang selalu Arum konsumsi.

Dalam sejarah hidupnya, Arum telah berhasil mendirikan sebuah organisasi khusus untuk waria bersama kawan-kawan waria yang lain yang diberi nama dengan KEBAYA. Lembaga swadaya oleh komunitas waria ini merupakan lembaga yang mana sumber dananya berasal dari iuran sukarela para waria yang memiliki penghasilan tinggi.

Dalam catatan sejarah, KEBAYA didirikan oleh lima orang waria yaitu; Yeti, Arum, Ari Parti, Vinolia dan Yuni Sara.

Karena solidaritas yang tinggi antara personal waria, KEBAYA sampai saat ini masih tegak berdiri dengan bangunan kantor yang cukup besar. Bahkan kantor KEBAYA juga digunakan oleh perkumpulan para penyandang HIV AIDS baik dari kalangan laki-laki, perempuan maupun waria sebagai ruang pertemuan, rapat, tes kesehatan dan ruang saling menguatkan.

Kantor KEBAYA saat ini berlokasi di daerah Kota Yogyakarta dengan sumber dana dari solidaritas individu antarwaria.