2 tahun lalu · 1501 view · 7 menit baca · Agama kemanusiaan_1.jpg
linkedin.com

Ketika Umat Islam Menistakan Kemanusiaan

Tuduhan terkait penistaan al-Quran yang dilesatkan kepada Basuki Tjahaja Purnama tak kunjung usai dan masih ramai diperbincangkan di berbagai sosial media. Di satu sisi masih ada yang sekata, tapi di sisi lain ada juga yang tegas mengatakan tidak.

Yang sekata sampai saat ini masih menuntut agar dia diproses melalui hukum negara, tapi yang berkata tidak juga tak kalah keukeuh meminta umat Islam untuk memaafkannya dan membiarkan seorang Basuki Tjahaja Purnama bebas seperti sedia kala.  

Saya termasuk Muslim dan Azhari yang secara terang-terangan berkata tidak. Bukan saja karena hasil analisa saya berkesimpulan demikian adanya, tetapi juga karena sikap adil dan objektif dalam menilai perkataan seorang non-Muslim merupakan bagian dari tuntunan kitab suci al-Quran yang mulia.  

Sebagai konsekuensinya, tumpahan kata-kata hina menjalar luas di halaman facebook saya. Seumur-umur baru kali ini saya merasakan lezatnya hinaan yang alih-alih melemahkan, malah justru terus-menerus memotivasi saya untuk berkarya dan berkhidmat kepada bangsa meskipun orang-orang di luar sana menyangka yang tidak-tidak.

Mereka yang suka menghina terkadang lupa bahwa semakin dihina orang yang dihina akan semakin "gila". Mereka lupa bahwa di samping bertuah dosa, tindakan menghina itu sejujurnya tak akan menghasilkan apa-apa. Yang menghina jadi semakin hina, dan yang dihina semakin gila. Yang menghina terkuras tenaga, dan yang dihina semakin kebal bagaikan baja.   

Karena itu, dalam hemat saya, jalan terbaik untuk menanggapi orang yang berbeda—setajam apapun perbedaanya—bukan dengan menghina, tapi mengkritik dengan penuh hikmat dan kata-kata yang bijaksana. Dan inilah yang diajarkan oleh kitab suci kita.  

Namun, apa mau dikata, yang dihina tak bisa melarang yang ingin menghina untuk menghina. Yang menghina sih bisa seenaknya menghina, tapi yang dihina tak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima kata-kata hina.

Sebagai yang dihina tentu saja saya menerima hinaan tersebut dengan celana dalam terbuka (eh, maksudnya kepala terbuka). Hanya saja, satu hal yang sangat saya sayangkan selama ini ternyata kebanyakan dari hinaan, cacian dan hujatan yang rimbun di halaman facebook saya itu saya terima dari saudara-saudara saya yang seiman dan segama. Yaitu mereka-mereka yang percaya akan tuntunan al-Quran dan Sunnah Nabinya.

Bukan orang-orang kafir yang selama ini dilklaim sebagai kandidat Ahli nereka. Entah kenapa. Padahal, mereka yang menghina itu, katanya, sedang "membela" kitab sucinya yang telah "dihina" oleh Basuki Tjahaja Purnama. Tapi anehnya, kelakuan mereka sendiri tak secuilpun mencerminkan kitab suci yang mereka bela. Sungguh betapa anehnya mereka.

Bayangkan coba, di satu sisi mereka merasa sedang membela kitab suci al-Quran yang mulia—yang telah dinistakan oleh Basuki Tjahaja Purnama, seperti klaim mereka—tapi di sisi lain, tanpa disadari dengan seksama, mereka telah menistakan saudara mereka sendiri yang sejujurnya dimuliakan oleh kitab suci mereka?

Di satu sisi mereka berniat untuk membela kitab suci mereka yang telah dihina, tapi di sisi lain, mereka telah menghinakan sisi kemanusiaan Basuki Tjahaja Purnama yang dimuliakan dan diagungkan dalam lembaran kitab suci kita yang mulia.

Harus diakui bahwa orang seperti Ahok itu memang keyakinannya ditolak dalam Agama kita. Tapi dalam saat yang sama, saya harus buru-buru menegaskan bahwa sisi kemanusiaannya dimuliakan sebagaimana manusia lain pada umumnya. Dalam konteks ini al-Quran berkata:

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS al-Isra [17]: 70)

Sudah jelas-jelas dia berkata bahwa dia tak bermaksud menghina kitab suci kita. Tapi umat Islam masih saja menghina dia di mana-mana tanpa sedikitpun malu dengan kitab suci yang mereka baca. Mereka masih saja mencibir Basuki Tjahaja Purnama padahal mereka tahu bahwa dia sudah meminta maaf secara terbuka. Di mata etika kita?

Al-Quran memandang bahwa kemanusiaan manusia itu sama rata dan tak ada yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya kecuali iman-takwa dan amal perbuatan yang nyata.

Manakala kita berani menistakan kemanusiaan manusia, maka tanpa sadar kita telah menistakan apa yang dimuliakan oleh kitab suci kita. Manakalah kita berani menistakan kemanusiaan manusia, maka tanpa sadar kita telah mengabaikan perintah Tuhan yang dalam kitab suci kita berfirman bahwa semua manusia adalah mulia.

Karena itu, melihat fakta banyaknya umat Islam yang menistakan sisi kemanusiaan ini saya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya-tanya sambil elus-elus "basoka" di balik celana: Ini sebetulnya yang mengaku sebagai pembela al-Quran tapi suka menghina itu Muslim macam apa?

Betulkah mereka ini sedang membela al-Quran yang mulia tapi mereka sendiri merendahkan makhluk yang dimuliakan oleh kitab sucinya? Betulkah mereka ini sedang membela Islam tapi mereka sendiri menodai kemuliaan makhluk yang dimuliakan oleh agamanya?

Betulkah mereka ini orang-orang paling saleh sejagad raya tapi mereka sendiri yang mengobral kata-kata nista dan hina kepada sesama saudara? Betulkah mereka ini sedang memuliakan al-Quran sementara mereka sendiri mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan sehingga mudah merendahkan orang-orang yang berbeda?

Betulkah mereka ini memuliakan al-Quran sementara tuntunan al-Quran sendiri dalam menyikapi orang yang berbeda tak mereka amalkan sebagaimana mestinya?

Inilah sejumlah pertanyaan yang kini menggelayut di kepala saya. Sungguh tak bisa dipercaya. Muslim yang setiap hari membaca al-Quran tapi kok perkataannya tak bisa dijaga. Muslim yang memercayai sunnah Nabinya ko ujarannya penuh dengan kata-kata nista.

Di balik ini semua pasti ini ada yang error dan harus kita koreksi bersama. Nah, pertanyaannya: Apa sebetulnya yang salah dari mereka?

Jawabannya tentu bukan karena Islam karena Islam tak pernah mengajarkan itu semua. Nabi Muhammad tak pernah mengajarkan umatnya untuk saling menistakan satu sama lainnya. Apalagi menistakan orang yang berbeda Agama.

Tapi ini semua—dalam hemat saya—disebabkan karena mereka tak mampu menjiwai spirit dasar ajaran Islam yang hendak menebar kasih sayang dan cinta kepada sesama manusia. Rasa cinta sudah mulai luntur dari nurani mereka sehingga kebencian mulai berkuasa dan membuat hati mereka buta.

Mereka mungkin saja hafal al-Quran di luar kepala. Tapi hafalan mereka—meminjam istilah hadits yang populer—hanya "sebatas kerongkongan saja". Mereka mungkin saja memiliki ratusan koleksi hafalan hadits Nabinya, tapi hafalan hadits mereka tak berarti apa-apa karena rasa cinta yang mestinya menjiwai ajaran Agama sudah tercerabut dari hati mereka.

Orang-orang seperti ini biasanya punya gairah keislaman (al-Ghairah al-Islâmiyyah) yang terlampau tinggi dalam beragama, tapi sayangnya mereka tak punya gairah kemanusiaan (al-Ghairah al-Insâniyyah) yang sejujurnya tak kalah penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Islam yang mereka pahami seolah-olah hanya memuliakan Yang MahaKuasa, tapi lupa untuk memuliakan makhluk yang diciptakan-Nya. Padahal, konsekuensi dari memuliakan Yang MahaKuasa adalah memuliakan ciptaan-Nya. Konsekuensi dari memuliakan Yang MahaKuasa adalah memulikan kitab suci-Nya. Dan konsekuensi dari memuliakan kitab suci-Nya ialah memuliakan orang-orang yang dimuliakannya.

Sekarang mari kita bertanya, wahai umat Islam yang mulia: Apa artinya kita memulikan kitab suci kita tapi dalam saat yang sama kita lupa untuk memuliakan manusia? Apa artinya kita membela kitab suci kita tapi dalam saat yang sama kita sendiri sibuk saling menghujat sebagai sesama saudara?

Apa artinya kita membela kitab suci tapi dalam saat yang sama kita doyan menebar kebencian dan kata-kata nista? Apa artinya kita membela kitab suci kita tapi orang-orang non-Muslim menjadi benci dengan agama kita? Apa artinya kita membela kitab suci tapi kita membiarkan saudara-saudara kita dihina dan dinistakan begitu saja? 

Saya masih teringat nasihat guru saya, Syekh Yusri, yang pernah berkata bahwa kemuliaan seorang Muslim itu lebih terhormat ketimbang Ka'bah yang selama ini kita agungkan dan kita tatap dengan penuh rasa cinta.

Muslim itu—kata guru saya lebih lanjut—adalah Ka'bah berjalan di atas muka bumi (ka'bah yamsyi 'ala wajh al-Ardl) yang harus kita muliakan dan tak boleh disuguhi kata-kata yang hina. Itu sebabnya, dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa bersalaman dengan seorang Muslim itu dapat menggugurkan dosa.

Jika menyentuh dan menatap Ka'bah saja dapat bertuah pahala, apalagi memuliakan seorang Muslim yang lebih mulia ketimbang Ka'bah yang mulia. Pahalanya jelas lebih tak terkira.

Saya tak pernah mendengar ajaran yang betul-betul memanusiakan manusia seperti ini kecuali dari al-Azhar. Melalui guru saya yang tadi sudah saya sebutkan namanya.  

Ajaran semacam ini tak saya temukan dari tradisi filsafat manapun yang ada di seantero jagad raya. Filsafat itu boro-boro memuliakan manusia, untuk mendefinisikan manusia saja kata pertama yang mereka sebut adalah kata hewan.

Manusia adalah hewan berpikir (al-Insan huwa al-Hayawan al-Nathiq), seperti yang kita telaah dalam buku-buku ilmu logika. Ini sangat kontras dengan ajaran Tasawuf yang dasar utama ajarannya adalah cinta, baik cinta kepada Yang MahaKuasa, maupun cinta kepada makhluk yang diciptakan-Nya, apapun itu agamanya.

Inilah Islam humanis yang saya pelajari di al-Azhar dan membuat saya nyaman dalam beragama. Inilah Islam sejati yang dapat membangun masa depan dunia yang cerah dan bersih dari kucuran air mata. Inilah Islam sesungguhnya yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw tapi sekarang sudah mulai lenyap entah kemana.

Inilah Islam yang sesungguhnya. Islam yang tak hanya memuliakan Yang MahaKausa, tapi juga memuliakan manusia. Islam yang tak hanya menuhankan Yang MahaKuasa, tapi juga menghormati makhluk yang diciptakan-Nya.

Menistakan kemanusiaan manusia sama saja dengan mengabaikan kemuliaan kitab suci kita yang memuliakan semua manusia. Sebagaimana memuliakan kemanusiaan manusia sama artinya dengan memuliakan kitab suci kita yang dengan tegas berkata bahwa seluruh manusia adalah mulia.

Karena itu, umat Islam mestinya jangan hanya sibuk membela al-Quran saja, tapi mereka juga harus memerhatikan pembelaan atas nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam kitab suci kita. Sekian dan Subahanaka la 'ilma lana.

(Kairo, Tabbah, Medinat-Nasr, 21 Oktober 2016)