Kata-kata itu seperti pedang. Jika kita menyalahgunakannya, mereka bisa berubah menjadi senjata mematikan. Lukanya sulit untuk pudar, bahkan waktu sulit menyembuhkan. Jari-jari kita terkadang tidak sadar bahwa tulisan yang kita ketik selama 5 detik dapat membekas di hati orang selama 5 tahun, bahkan lebih.

Memang terkadang ada seseorang atau sekelompok orang yang tidak kita sukai, dan itu adalah hal yang manusiawi. Tapi yang tidak manusiawi adalah ketika kita mulai menghantam orang tersebut dengan kata-kata pedas dan menyakitkan sampai bisa membunuh orang tersebut seperti yang dilakukan warganet terhadap Sulli.

Siapa yang Salah, Korban atau Pelaku Bullying

Sulli yang memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri masih meninggalkan luka bagi publik, terutama para penggemarnya. Selama ini, ia termasuk dalam jajaran idol perempuan yang sering panen hujatan.

Dari pembelaan warganet, mereka merasa terpicu untuk mengirimkan berbagai hujatan ke mantan anggota girl group f(x) ini karena konten yang diunggah di akun instagramnya. Mereka menilai bahwa foto-foto yang dibagikan tidak pantas, misalnya Sulli yang sering terlihat mabuk atau menggunakan pakaian terbuka. Sulli dipandang gagal memenuhi tuntutan sebagai idola perempuan untuk tampil sopan, lemah lembut, dan tunduk pada norma konservatif.

Menurut kejadian ini, apakah cyber bullying yang terjadi semata-mata karena kesalahan pengunggah?

Di Indonesia sendiri, kita memiliki pasal yang mengatur tentang kebebasan mengunggah dan juga kebebasan berpendapat di media sosial. Misalnya, pasal 27 ayat 1 UU ITE yang melarang mengunggah muatan yang melanggar kesusilaan dan pasal 28 ayat 2 UU ITE yang melarang informasi yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Dari kejadian ini dan berdasarkan hukum yang ada, penulis merasa perlu mengevaluasi hal ini. Terlepas dari siapa yang salah, ingat bahwa pengunggah dan pemberi komentar masing-masing memiliki batasan. Media sosial adalah tempat yang bebas di mana setiap orang berhak melakukan apa yang dia inginkan. Namun, masing-masing individu perlu memedulikan kepentingan dan kenyamanan individu lain.

Sebagai pengunggah, kita harus lebih bijak dalam memilih konten yang ingin dibagikan. Pikirkan apakah unggahan tersebut bisa memancing komentar negatif dari orang lain. Juga, pikirkan kembali apa yang ingin kita komentari.

Ada banyak cara untuk memberi tanggapan, tapi bukan dengan menghujat. Kalau kita tidak bisa berkata baik, lebih baik kita diam. Diam jauh lebih elegan daripada sibuk menghakimi kehidupan orang lain.

Apakah Kamu Salah Satunya?

Dengan banyaknya kasus bunuh diri akibat bullying, warganet tak pernah kapok. Setelah kematian Sulli, mantan pacarnya, Choiza, menerima hujatan karena dianggap sebagai penyebab atas kematian Sulli. Publik menyalahkan Choiza dengan berkomentar di akun instagram pria tersebut. Komentar tersebut, lagi, berisi banyak hinaan.

Di balik komentar yang dilemparkan publik, sadarkah kita bahwa hal tersebut juga merupakan salah satu bentuk bully? Apakah kita sebagai manusia berhak mengirim berbagai hujatan kepada seseorang yang belum tentu bersalah?

Sering kali kita berniat untuk membela kasus bullying, tapi tanpa sadar sebenarnya kita adalah satu dari pelaku bullying tersebut. Tujuan awalnya adalah pembelaan, tapi pembelaan tersebut lama-kelamaan menjurus ke arah penghujatan.

Sebelum kejadian mengenaskan ini, dunia hiburan Korea Selatan juga kehilangan salah satu artis populernya, yaitu Kim Jong-hyun, anggota grup SHINee, yang bunuh diri akibat tekanan dari dunia maya. Publik sempat berduka. Namun, kepergiannya belum cukup menjadi pelajaran bagi orang-orang untuk memperhatikan kata-kata mereka.

Setelah kematian seseorang akibat cyberbullying, orang-orang ramai menyuarakan tagar anti-bully dan semacamnya. Tetapi hal tersebut hanya bersifat sementara. Setelah beberapa minggu atau bulan setelah kejadian, masyarakat kembali melakukan hal tidak terpuji yang serupa.

Hadapi Keterbukaan Informasi dan Media Sosial

Media sosial seperti instagram dan facebook sudah membuat fitur baru yang mencegah konten negatif hadir dalam platform-nya. Misalnya, Instagram membuat fitur terbarunya, yaitu restrict atau batasi.

Seperti namanya, fitur ini memungkinkan pemilik akun untuk membatasi pengguna instagram lain yang berkomentar kasar dengan nada merundung. Fitur ini juga bisa membatasi komentar di sebuah unggahan instagram dan hanya akan dilihat oleh pemilik unggahan dan pemberi komentar saja. Tujuannya adalah untuk melindungi para pengguna dari tindak bullying yang kerap kali terjadi di media sosial.

Meskipun sudah ada bantuan pencegahan dari aplikasi tersebut, para pengguna juga perlu sadar diri. Jika berbicara melalui media sosial, tentu sudah memasuki ranah publik dan mau tidak mau kita harus memperhatikan norma sosial yang berlaku. Jika merupakan hal yang privasi, sebaiknya tidak perlu diumbar di muka umum.

Kita juga perlu berhati-hati dalam mengemukakan pendapat. Komentar berisi kritik tentu diperlukan untuk memberikan masukan kepada orang lain.

Sayangnya, kini tidak sedikit orang sulit membedakan mana yang disebut kritik dan mana yang disebut hujatan. Akibat kurangnya edukasi, sebagian orang merasa kata-kata kasar yang mereka lontarkan adalah kritik, bukan hujatan.

Perlu kita ketahui dan ingat bahwa kritik berisi kalimat koreksi yang memberi masukan perbaikan dan memedulikan pentingnya tata krama dalam berpendapat. Kritik seharusnya membangun, bukan menjatuhkan. Sementara hujatan cenderung hanya berisi hinaan dan ejekan yang bertujuan merendahkan atau menjelekkan nama baik orang lain dan tidak menghiraukan etika dalam berkomentar.

Maka, sebagai pengguna yang bijak, ambilah sisi positif dari keterbukaan informasi dan media sosial. Jadikan kemajuan teknologi ini sebagai alat komunikasi yang sehat, sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan dan sosial, serta sebagai media yang menambah wawasan dan pengetahuan.