Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berakal, hal tersebut menjadi pembeda dengan makhluk lainnya, akal diciptakan agar manusia dapat berfikir untuk dapat memilih mana yang benar dan salah, pemakaian akal manusia juga akan memperlihatkan cara dia berfikir dan bertindak dalam lingkungan kenyataan tidak terkecuali dengan kehidupan beragama.

Sejak dahulu agama menjadi komoditas utama manusia di dunia, walaupun seringkali kisah-kisah keagamaan akan "bertentangan" dengan akal, bagi sebagian manusia kisah-kisah agama hanya sebuah karangan belaka , namun sebagian manusia lainnya berfikir bahwa agama adalah sebuah pondasi kehidupan dan kisahnya adalah sebuah mistik, setiap agama pasti memiliki Tuhan sebagai sesuatu yang disembah dan dianggap memiliki kekuatan maha dasyat.

Dalam sejarahnya Tuhan memiliki banyak nama tergantung dimana agama itu dihadirkan secara kelembagaan, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas Tuhan mana yang benar atau tuhan dengan nama mana yang benar atau salah karena setiap agama memiliki klaim pembenarannya sendiri sebagai bentuk ketaatannya kepada agama dan Tuhan-nya.

Setiap manusia yang beragama seringkali menurunkan ajaran agama dengan dogma, sehingga orang-orang yang beragama hanya terpaku pada ajaran yang rigid yang dianggap sakral dan tidak boleh dibantah, ketika seseorang mempertanyakan ajarannya maka dia akan dianggap tidak patuh terhadap ajaran tuhan, maka akibat bagi yang tidak patuh terhadap dogma tersebut ganjarannya azab dan neraka, sehingga mengkonotasikan tuhan itu menyeramkan.

Maka kita sering mendengar para pemuka agama dalam setiap Khutbahnya akan selalu menyatakan "Takutlah kepada tuhan", pelabelan tuhan seperti ini akan tertanam dalam pondasi berfikir manusia sehingga manusia taat beragama dan bertuhan karena sebuah ketakutan semata, baik takut untuk di azab maupun takut masuk neraka, karena neraka digambarkan sebagai tempat penyiksaan bagi seorang pendosa.

Ungkapan "takutlah" kepada Tuhan jelas bertentangan dengan sifat-sifat ketuhanan yang digambarkan oleh kitab suci beberapa agama, di agama Islam, Allah memiliki sifat Ar-Rahiim yang artinya maha penyayang, dalam ajaran kristus bagaimana Tuhan digambar sebagai sosok yang cinta kasih, dalam ajaran Budhis sang Budha mengajarkan keutamaan mengenai cinta kasih. lalu bagaimana bisa Tuhan digambarkan sebagai yang patut manusia takuti.

Konotasi kata "Takut" itu menggambarkan sesuatu yang menyeramkan, mengerikan dan buruk, para pemuka agama sering menarasikan Tuhan yang menakutkan agar pemeluk agamanya patuh terhadap perintah Tuhan-nya, namun kepatuhan yang dihadirkan dalam narasi ketakutan ini akan menjadikan kepatuhan yang "dipaksakan" bukan karena kerelaan dia dalam menyembah Tuhan-nya. 

Secara psikologis memang narasi "ketakutan" ini sangat efesien untuk membuat pemeluk agama tetap berada dalam koridor keimanan yang diharapkan, seharusnya narasi yang selalu dimunculkan oleh para pemuka agama adalah sebuah cinta kasih, sehingga para penganut agamanya beriman karena mereka sayang terhadap Tuhan-nya bukan karena takut akan siksa neraka, azab Tuhan atau siksaan lainnya.

Ketika seseorang sudah memiliki rasa kecintaan terhadap Tuhan-nya maka dia akan secara suka rela untuk mengabdikan dirinya kepada Tuhan bukan lagi karena keterpaksaan dan ketakutan, kecintaan yang tulus akan menghasilkan umat yang berkualitas, ketika dia mampu untuk menjalankan ritus-ritus keagamaan dengan dasar cinta maka dia akan menjalani hidup dengan sesama manusia lainnya dengan rasa cinta sesama manusia.

Manusia yang beragama dengan dasar cinta maka dia tidak akan mudah membenci manusia yang berbeda dengannya, justru akan berdampingan selaras dengan rasa cintanya kepada yang dia sembah sebagai tuhan, peran para pemuka sangatlah vital dalam menyebarkan agama penuh cinta, agama yang menjunjung tinggi kecintaan kepada Tuhan dan manusia lainnya.

Kenapa harus cinta kepada Tuhan? bukannya cinta itu buta? bisa melakukan apa saja termasuk membunuh orang yang dianggap telah menyakiti Tuhan kita? jika ada yang beranggapan bahwa dirinya mencintai Tuhan sehingga dirinya akan membela secara "membabi buta" dan menyakiti manusia yang "dianggap" berbeda dan telah menghina Tuhan yang dia cintai, maka sebenernya dia belum mengenal cinta yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia.

Saya teringat perkataan Gus Dur sosok bapak Pluralisme yang mengatakan "Tuhan tidak perlu dibela" saya pikir hal ini sangat tepat sekali, karena ketika kita mengakui kekuasaan Tuhan yang tak terbatas, lalu untuk apa manusia membela dengan kekuataan yang sangat minim, tugas manusia hanyalah bagaimana menjadi pemeluk agama yang berakal sehingga kita akan mengetahui samapai dimana batas cinta kita kepada Tuhan, tugas apa yang diberikan Tuhan kepada manusia selain beribadah.

Maka hilangkanlah narasi ketakutan kepada Tuhan karena Tuhan tidak memiliki sifar yang kejam, sifat buruk bahkan Tuhan tidak memiliki wajah yang mengerikan seperti penggambaran kepada Iblis, penggambaran kepada malaikat maut, namun Tuhan memiliki penggambaran yang penuh rasa cinta kepada setiap pengikutnya, rasa pengasih kepada setiap manusia tanpa melihat latarbelakang manusia, belajar mencintai Tuhan, bukan takut kepada Tuhan.