Saya tidak sedang membicarakan Tuhan yang dipuja semua orang. Tuhan yang satu ini beda. Dia hanya dipuja makhluk bernama media online.

Traffic adalah nama Tuhan itu. Dalam istilah media digital, traffic berarti jumlah pengunjung sebuah website. Bagaimana mengetahui jumlah traffic? Gampang. Ketik saja www.alexa.com, masukkan alamat website. Di situ akan muncul peringkat. Peringkat yang dinamakan “Ranking Alexa” bakal menunjukkan jika semakin kecil angka maka semakin tinggi jumlah traffic.

Ranking Alexa menjadi sebuah obsesi. Semua berlomba membuat konten yang mampu menghadirkan traffic.

Apakah salah jika media online terobsesi ranking Alexa? Tidak. Media salah jika membuat konten-konten hoax, tak beretika, dan melanggar kaidah-kaidah jurnalisme demi menaikkan ranking.

Sebenarnya, apa manfaat traffic? Banyak. Yang utama adalah uang.

Seorang teman yang bekerja di portal berita di Jakarta pernah bercerita jika website-nya mendapat kunjungan 1,2 juta user per hari. Ranking Alexa-nya 40 besar. Dari jumlah itu, portalnya mampu meraup pendapatan Rp 20 juta per hari. Dari mana datangnya uang itu?

Google AdSense sang pencetak uang

Tentu anda pernah mendengar Google AdSense. Bagi yang belum tahu, Google AdSense adalah program yang dijalankan Google yang memungkinkan publisher (pemilik konten website) memasang iklan berupa teks/gambar/video di website mereka.

Iklan-iklan itu berasal dari advertiser yang bersedia membayar sejumlah uang kepada Google. Google kemudian membagi sebagian uang itu kepada parapublisher berdasar berapa banyak iklan yang diklik pengunjung website.

Portal berita yang saya ceritakan di atas terdaftar sebagai salah satu publisher Google. Kok bisa dapat Rp 20 juta?

Eh biar gak bingung, kita perlu tahu istilah-istilah yang sering dipakai:

Session = Jumlah kunjungan
Page views = Jumlah halaman yang dikunjungi.
Clicks = Jumlah iklan yang diklik
CTR = Persentase pengunjung yang mengklik iklan
CPC = Pendapatan iklan per klik

Ayo kita hitung berdasar data dari teman saya tadi.

Session = 1,2 juta
Page views = 2,4 juta (Rata-rata dua halaman per kunjungan)
Clicks = 24.000
CTR = 1 persen
CPC = USD 0,06 (angka ini berubah sesuai hitungan yang ditetapkan Google)

Jadi, total pendapatan per hari adalah:

Clicks x CPC = 24.000 x USD 0,06 = USD 1.440 (Rp 20.160.000 jika USD 1 = Rp 14.000)

Jika dikalikan 30 hari maka ketemu angka Rp 600 juta. Dalam setahun, perusahaannya bisa meraup pendapatan Google AdSense sebesar Rp 7,2 MILIAR!

Oya, jumlah itu belum ditambah iklan di luar Google AdSense.

Sekarang kita paham kenapa media online selalu menyajikan berita-berita bombastis dengan judul-judul yang membuat orang pengen nge-klik. Ya, traffic.

Tentu hal itu sah-sah saja dilakukan. Media online seperti halnya media-media konvensional tentu butuh uang untuk kelangsungan hidup. Yang disayangkan jika media melakukan cara gak pakek etika demi meraih traffic tinggi. Cara itu di antaranya: menyebar kebohongan (1), membuat artikel penuh hasutan dan kebencian (2), mengedarkan berita mesum (3).

Tentu kita bertanya kenapa cara-cara itu sukses meningkatkan traffic? Jawabannya, masyarakat menggemarinya.

1. Berita Bohong

Saking banyaknya berita bohong, masyarakat kesulitan membedakan mana fakta, mana hoax. Apa lagi berita-berita yang cocok dengan pemikirannya.

Saya jadi teringat kata-kata Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi Jerman, kebohongan yang disampaikan berulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran. Saat ini, masih banyak media menyajikan berita bohong. Bahkan saat ketahuan bohong, media tidak meminta maaf dan menghapusnya.

2. Berita Hasutan dan Kebencian

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama. Masing-masing agama mempunyai penganut yang sangat banyak. Ini menjadi pasar bagi media. Banyak media membawa nama agama.

Sayang, kebanyakan media jenis ini tidak memberi pencerahan kepada umat. Justru mengompori. Misal, menuduh sebuah aliran sesat, menganggap kelompoknya paling benar, atau mencap seseorang benci agamanya.

3. Berita Mesum

Sudah gak aneh lagi jika berita jenis ini sangat disukai pembaca. Apalagi dilengkapi foto-foto menggoda iman. Pancing dengan judul-judul yang menaikkan birahi.Traffic dijamin meningkat

***

The power of sharing

Masyarakat kita senang berbagi. Media sosial (medsos), terutama Facebook dan Twitter, adalah alat yang dipakai berbagi informasi. Informasi-informasi itu kebanyakan bersumber dari media online. Media memasang tombol share yang memudahkan pembaca membagi artikel kepada teman-teman medsos-nya. Ini menjadikan medsos sebagai pengepul traffic paling banyak.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2014 memang menyebutkan 87,4 persen pengguna internet di Indonesia mengakses medsos.

Berbagi informasi telah menjadi budaya kita di medsos. Tiap hari kita membagi informasi yang kita sukai. Sayangnya, tak semua informasi itu benar. Seringkali kita membagi sebuah informasi hanya berdasar judul berita tanpa melihat benar tidaknya informasi itu. Kita lupa memverifikasinya. Judul yang cocok dengan pemikiran akan cepat-cepat kita bagikan.

Semakin banyak share, semakin banyak traffic. Magic formula ini dipakai media menjaring traffic.

Celakanya, sebagian besar media online malas membuat konten-konten bermutu dan berkualitas. Mereka lebih pentingkan kuantitas. Akhirnya, berita dibuat bak kacang goreng. Yang penting ada, cepat, dan banyak, sehingga target perolehan traffic terpenuhi.

Maka jangan heran jika banyak informasi tak bermutu berseliweran di dinding Facebook pribadi kita. Siapa yang ikut andil menyebarkan? Kita. Siapa yang diuntungkan? Media. Kita dapat apa? Tet tottt!!!

Masyarakat sebagai filter berita sampah

Di tengah gempuran informasi, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, kita harus sadar jika media bisa dengan mudah memperalat kita. Jika sudah sadar, kita akan berhati-hati menyebar sebuah informasi.

Ingat, hanya karena muncul di internet, bukan berarti informasi itu 100 persen benar.

Telaah apakah sebuah informasi benar dan bermanfaat bagi orang banyak. Jika iya, sebar dan bagikan. Jika tidak, buang ke tempat sampah.

Hanya dengan cara itu, medsos kita dan teman-teman bersih dari informasi sampah. Jika masyarakat tidak lagi percaya informasi sampah, media-media yang hobi memproduksinya bakal menghilang. Siapa yang diuntungkan? Kita.

Sudah saatnya traffic kita berikan kepada media-media yang rajin membuat konten-konten berkualitas dan bermanfaat.