Penulis
2 years ago · 657 view · 7 menit baca · Politik btp-kick-andy1.jpg
Ilustrasi seorang "cina" yang berpolitik : Ahok.org

Ketika Seorang Anak Muda "Cina" Berbicara Politik

Salam sejahtera untuk kita semua..

Perkenalkan nama saya Priyadi, kebetulan saya adalah seorang anak muda yang berdarah Tionghoa atau biasa dipanggil “cina”. Jika membaca judul diatas pasti anda semua bertanya-tanya bagaimana seorang anak muda “cina” bisa membicarakan politik? Ah, mending lu dagang klontong aja sana.

Bukan rahasia lagi kalau kami kaum Tionghoa sangat jarang berpolitik dan bahkan ada yang anti politik. Pokoknya saya dagang, dapat untung, anak bisa sekolah tinggi dapat kerja dikantor atau bisnis ya sudah pokoknya.

Kami warga Tionghoa sendiri juga dikenal pandai berdagang dan mencari keuntungan disegala lini, pokoknya semua dijadikan uang. Pokoknya gak mau rugi, harus untung terus. Jika kita lihat dengan korelasinya dengan politik sekarang salah besar jika kami tidak berpolitik. Kenapa demikian?

Oke, mari kita tarik benang merahnya. Pertama jika berpolitik, kemudian dapat jabatan, contohnya jadi anggota DPR kebayang kan kita akan mendapatkan banyak keuntungan disana. Mulai dari dapat proyek sana sini, gaji besar, ditambah lagi punya kekuasaan.

Terus kenapa kebanyakan dari kami tidak suka berpolitik? Menurut saya adalah “image” dari politik ini yang membuat kami warga tionghoa takut untuk berpolitik. Lebih tepatnya adalah trauma masa lalu. Dulu kami warga Tionghoa yang ikut dalam politik dibunuh karena dianggap orientasinya sangat dekat dengan PKI. Jika kembali ke masa itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya, sungguh saya tidak ingin membayangkannya.

Syukurnya sekarang pemerintah telah menjamin kebebasan dan keamanan setiap warga negaranya, termasuk kami warga Tionghoa. Semakin berkembangnya pemerintah sekarang ada beberapa warga Tionghoa yang mulai berani lagi untuk berpolitik dan tak segan-segan untuk menjadi Orang nomor satu di Ibu Kota Indonesia.

Ya siapa lagi kalau bukan Pak Ahok. Hal ini membuktikan bahwa sistem politik di Indonesia sudah lebih baik. Walaupun masih ada sejumlah oknum yang tidak terima dan memakai SARA untuk menyerang Ahok. Namun saya tidak akan membahas Ahok disini, namun saya mengucapkan terima kasih kepada beliau, karena saya terinspirasi oleh beliau makanya saya berani membuat tulisan esai ini.

Bagaimana Peran Pemuda dalam Politik ?

Menurut saya peran pemuda dalam politik masih sangat sedikit, dan hampir tidak memberikan banyak kontribusi. Mungkin hal itu disebabkan masih minimnya anak muda yang ikut dalam dunia perpolitikan di Indonesia ataupun masih kurangnya ruang untuk anak muda ikut berpartisipasi dalam politik.

Apalagi untuk kami anak muda Tionghoa, sungguh sangat jarang sekali anak muda Tionghoa berperan dalam dunia politik, karena mungkin image yang dibangun dalam politik adalah kotor dan tidak jauh dari korupsi.

Namun menurut saya masih banyak di luar sana anak muda yang mempunyai visi misi yang baik dalam politik tetapi mungkin ruang yang diberikan masih sangat minim sehingga mereka tidak terlihat. Saya masih takjub dan kagum dengan anak muda tahun 98 waktu dulu yang bagaimana mereka solid dan luar biasa dalam menumbangkan rezim Soeharto yang waktu itu dianggap sangat tidak berpihak pada rakyatnya.

Saya di sini cukup salut apa yang dilakukan oleh PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang dimana mereka membuat terobosan baru dan berani mulai memberikan ruang serta ikut membantu mencari anak muda yang mempunyai visi misi yang sama yaitu membangun negeri ini dengan politik  yang lebih baik lagi.

Karena politik sejatinya adalah hal yang baik. Meski kini, kata "baik" dan "politik" lebih sering bersimpang jalan. Kali ini nama anak muda sudah mulai cukup diperhitungkan di dunia perpolitikan di Indonesia. Dan tidak menutup kemungkinan seorang anak muda "cina" seperti saya bisa terjun dalam dunia politik.

Mungkin bergabung dengan organisasi politik, dengan PSI misalnya? Siapa bakal tahu kedepannya...

Di tahun 2016 ini peran media sosial sangat berpengaruh sekali dalam politik, hal itu dibuktikan dengan sepak terjang Jokowi yang dulu hanya seorang Walikota Solo sekarang bisa menjadi Presiden RI. Mulai dari memimpin kota kecil sekarang memipin se Indonesia.

Hal itu tentu tidak lepas dari peran media sosial yang ikut membantu mengenalkan Jokowi mulai dari rekam jejak hingga kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin. Walaupun sampai saat ini masih ada saja tidak suka atau tidak terima dengan kenyataan bahwa Jokowi lah Presiden kita sekarang.

Menurut saya mengkritik kebijakan pemerintah sekarang sangatlah gampang, tidak seperti dulu. Kita harus menjadi seorang politisi atau pengamat terlebih dahulu. Sekarang dengan sosial media, kita hanya perlu menuliskan surat terbuka ataupun membuat sebuah tulisan di Kompasiana atau Qureta tentang kebijakan apa yang akan kita kritik.

Namun sangat disayangkan ada beberapa oknum yang salah memanfaatkan sosial media, yang menjadikannya sebagai ajang untuk menjelekkan dan menghina seseorang sampai pejabat negara sekalipun. Tentu saja semua itu ada resikonya, jadi berhati-hati dalam sosial media.

Hal tersebut juga terjadi pada Gubernur DKI Jakarta saat ini, ya Pak Ahok. Peran media sosial yang ikut mengangkat namanya yang notabene keturunan warga Tionghoa juga, sedikit banyak membawa nama besar warga Tionghoa yang bisa dikatakan sangat jarang ikut berpartisipasi dalam dunia perpolitikan di Indonesia dan bisa menjadi bahan perbincangan di politik Indonesia.

Namun sangat saya sayangkan, tidak sedikit juga oknum yang melakukan politik kotor dan SARA dengan media sosial tersebut. Jika melihat perkembang dari media sosial dan stasiun TV politik sekarang sangatlah buruk. Hal tersebut dibuktikan masih banyaknya pejabat yang tertangkap KPK karena korupsi. Seakan-akan korupsi ini tidak ada putusnya dan menurut saya memang tidak akan pernah habis.

Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi politisi yang ujung-ujungnya hanya mengincar materi dan memperkaya diri masing-masing. Tidak sedikit juga orang yang tidak berkompeten untuk menjadi menjadi politisi, namun karena influencer mereka besar dan ditunjang lagi dengan dengan uang yang banyak, mereka bisa menjadi politisi.

Hal itu terbukti dengan banyaknya artis berbondong-bondong untuk menjadi anggota DPR, namun pengetahuan akan politik masih sangat minim dan bahkan tidak ada sama sekali.

Contoh yang sangat nyata ketika saya melihat wawancara wartawan dari Metro TV kepada Mas Anang yang kebetulan menjadi anggota DPR komisi IX dari Partai Amanat Nasional. Waktu itu Beliau baru saja dilantik, dan ketika ditanya tentang apa saja hak-hak anggota dewan beliau tidak bisa menjawabnya.

Alhasil beliau habis dibully dimedia sosial oleh para netizen termasuk saya. Hahaha. Begitu juga dengan Krisna Mukti yang juga sama tidak bisa menjawab pertanyaan wartawan tentang hak-hak anggota dewan.

Dari itu saja kita bisa melihat mereka belum mempunyai cukup bekal pengetahuan tentang politik. Bagaimana bisa menjadi anggota DPR sedangkan hak-haknya apa saja mereka tidak tahu. Sungguh ironis bukan?

Dan hal itu tersebut tidak hanya terjadi pada mereka, kita juga masih ingat dengan Angel Lelga ketika diundang Mata Nazwa dan ternyata juga tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan Host Mata Nazwa dan bahkan ada jawaban yang ngawur.

Ketika ditanya apa visi misinya saja Angel tidak bisa menjawabnya. Sebenarnya masih banyak lagi lainnya. Jika ada fenomena artis berebut menjadi politisi, bagaimana jika suatu saat nanti ada fenomena warga Tionghoa yang berebut untuk menjadi politisi, apa yang akan terjadi ya? Saya juga tidak bisa membayangkannya sampai saat ini.

Namun jika sampai itu terjadi mungkin sejarah akan berubah, karena yang dulunya Warga “Cina” atau Tionghoa sangat anti dengan politik sekarang malah berbondong-bondong untuk menjadi politisi. Sebenarnya siapapun ingin menjadi politisi tidak masalah, asal misi visinya memang harus benar, jujur dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sekarang jika ditanya siapa yang salah partai politik atau orangnya siapa yang bisa menjawab? Semua itu pasti ada alasannya, ada permintaan pasti ada penawaran. Ilmu Ekonomi saya keluar juga akhirnya.. hehehe.

Partai politik jika dilihat dari pengertiannya sudah sangat baik, namun ntah kenapa selalu ada saja oknum yang ingin mencari materi atau bahkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dengan partai politik tersebut.

Pengertian partai politik sendiri adalah suatu organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Namun jika melihat perkembangan saat ini, cita-cita mulia tersebut seakan-akan sudah tidak berlaku lagi. Pokoknya asal berkuasa, dapat banyak proyek dan duit ngalir terus. Itulah yang membuat saya tidak menyukai dunia politik. Lebih baik saya bisnis atau dagang seperti kebanyakan anak muda tionghoa lainnya lakukan.

Namun saya suka lihat perkembangan politik kita, karena sedikit banyak pasti akan berpengaruh pada bisnis yang kita lakukan. Ntah itu dalam berbagai bidang pasti selalu ada hubungannya dengan politik.

Terus, jika ditanya bagaimana seorang anak muda Tionghoa seperti saya memandang politik ? Jujur, saya juga masih bingung. Karena menurut saya politik itu sangat komplex, semua elemen ada disana. Namun saya sangat masih sangat menaruh harapan yang besar dengan politik kita sekarang apalagi dengan sistem politik kita sekarang dengan sistem “demokrasi” menurut saya adalah sistem yang paling baik.

Mau bagaimana lagi, kita hanya bisa berharap kepada mereka para pejabat dan politisi yang mewakili aspirasi kita dapat mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dan amanah.

"Saya masih percaya banyak politisi yang jujur diluar sana dengan segenap hati rela tanpa pamrih memperjuangkan nasib rakyatnya".

 Jika dibandingkan dengan sistem politik “Diktator” mungkin kita tidak akan bertahan sejauh ini. Hal itu bisa anda lihat seperti negara Korea Utara yang menganut sistem diktator. Bagaimana gaya rambut rakyatnya saja diatur jika melanggar resikonya bisa sampai hukuman mati. Seram bukan membayangkannya?

#LombaEsaiPolitik