Agora, sebuah portal gratis yang menawarkan solusi pembelajaran yang disesuaikan untuk staf, mitra, dan pendukung UNICEF. 

Jika ada google, kenapa aku membutuhkan portal itu untuk solusi pembelajaran model lain? – ulas seorang anak usia 12, bernama Femy (nama samaran), dari Sidoarjo. 

Bayangkan saat seorang anak sedang membaca sebuah artikel, meskipun baru kelas delapan yang sedang mempelajari teori kedaruratan saat terjadi bencana.

Mungkin Anda adalah orang tua yang mencari informasi lebih lanjut tentang sebuah berita, sama seperti Femy, Anda pun lebih tergerak mencarinya melalui internet.

Mesin pencari google tampaknya memiliki semua jawaban atas pertanyaan Anda. Tapi, dari mana informasi itu berasal? Siapa pembuat situs portal yang muncul saat Anda menuliskan “kedaruratan bencana” di pencarian google? Siapa yang memutuskan berita mana yang muncul lebih dulu dan dalam urutan apa sisanya akan muncul?

Saya terkungkung pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagai orang tua saya merasa berkewajiban mengawasi pendidikan anak-anak selama sekolah daring. Penggiat portal UNICEF adalah praktisi sekaligus ahli di bidangnya, dan tentu telah mengabdi bertahun-tahun. 

Secara interaktif Femy diberikan materi sekaligus soal-soal, dan sertifikat bertanda UNICEF sangat berarti bagi anak usia 12 tahun jika lulus.

Larry Page dan Sergey Brin masih mempelajari ilmu komputer di Universitas Stanford sebagai mahasiswa pada tahun 1996. Mereka mencoba menciptakan cara cepat untuk menemukan sesuatu dengan mudah secara daring

Pada masa itu, mencari sesuatu melalui web sangat lambat sehingga kesulitan menemukan informasi terbaik.

Mereka kemudian menemukan sebuah algoritma, yang merupakan kumpulan formula terperinci, yang disebut PageRank. Formula ini bekerja dengan memperkirakan kualitas halaman web dengan mengukur jumlah dan kualitas halaman lain yang tertaut ke sana. Saat anda mencari sesuatu di google, mesin pencari akan memberikan halaman yang paling relevan dari apa yang sedang anda cari.

Googling menjadi begitu cepat sehingga seakan-akan terlihat instan. Namun, hasil yang anda lihat saat melakukan penelusuran google dapat dipengaruhi oleh hal selain PageRank, yaitu para pengiklan membayar google untuk membuat situs web mereka muncul lebih tinggi daripada yang seharusnya. Algoritma google memperhitungkan ratusan variabel lainnya, yaitu situs yang telah anda klik di masa lalu, dan seberapa sering halaman tersebut diperbarui.

Tidak seperti portal UNICEF, mesin pencari google tidak dapat secara otomatis memutuskan sumber mana yang paling penting, akurat, atau bermanfaat. Artinya, penelusuran google tidak selalu mengidentifikasi obyektifitas dan keandalan suatu informasi. Anda dapat mempertimbangkan untuk beralih ke mesin pencari lain seperti Bing dari Microsoft atau pada mesin pencari yang secara khusus mempromosikan privasi informasi seperti DuckDuckGo. Meskipun banyak dari alternatif ini memiliki kekurangan yang sama.

Bagaimana para ahli menyampaikan ilmunya

Para Ilmuwan dan ahli kerap menyampaikan ilmunya melalui makalah penelitian. Setiap makalah berfokus pada satu ide yang kemudian akan menambahkan hal baru pada suatu topik. Ide yang mereka terbitkan bisa berupa hasil baru dari suatu eksperimen atau pengamatan baru atas suatu hal. Ilmuwan lain kemudian membaca makalah itu dan mendiskusikannya.

Meski para ahli dapat mengambil kumpulan fakta yang sama, namun mereka dapat memiliki perspektif berbeda-beda. Artinya, tidak selalu ada satu jawaban yang benar untuk sebuah pertanyaan. Seiring berjalannya waktu, proses diskusi ini menghasilkan prinsip dan konsep yang diterima secara umum.

Siklus penelitian, tinjauan, dan diskusi ini telah ada sejak pertama jurnal akademik diterbitkan pada 1665. Saat penemuan baru dibuat, ide bisa berubah. Salah satu cara peneliti menunjukkan ide lain yang dapat dipertimbangkan dalam penemuan mereka adalah dengan kutipan ilmiah. Anda pasti pernah melihatnya – ada di bagian referensi di bagian belakang buku nonfiksi atau di bagian bawah artikel Wikipedia. Masing-masing merujuk ke penelitian lainnya.

Kutipan ini memberi tahu buku-buku dan sumber lain yang dipertimbangkan oleh penulis–dan bagaimana mereka bisa membentuk ide-ide tersebut. Jika banyak ilmuwan menggunakan ide yang sama untuk suatu konsep yang mereka buat sendiri, maka suatu hari nanti, ide mereka akan digunakan sebagai suatu referensi untuk ide-ide lain. Proses itu berlangsung sebagai siklus dan berinovasi.

Nah, proses penemuan seperti ini tidak dipengaruhi oleh pengiklan. Kendati demikian beberapa publikasi dapat ditentukan oleh dana yang didapatkan ilmuwan yang secara khusus diminta untuk mengerjakan jenis penelitian tertentu. Banyak ide yang anda temukan di internet berasal dari para ilmuan. Tapi, ide-ide ini tetap rentan terhadap bias dan tekanan iklan.

Sedangkan hasil penelitian ilmuwan tidak akan mendapatkan tekanan tersebut. Kita membutuhkan ilmuwan karena mereka memberikan gambaran yang lengkap, informasi terbaru yang berasal dari kebijaksanaan dan pertimbangan mendalam. Internet membuat kegiatan mencari informasi lebih mudah ketimbang di masa manapun dalam sejarah manusia.

Tetapi sebagaimana Albert Einstein menyampaikan, “Informasi bukanlah pengetahuan. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.” Anak-anak dapat mengaktualisasikan diri dengan kebebasan yang bersifat positif. Misalnya, menggunakan teknologi internet sebagai medium untuk latihan hobi yang yang dapat disaksikan oleh banyak orang melalui ruang digital.

Rasa ingin tahu tidak dibatasi usia – orang dewasa juga dapat meminta pendampingan serta referensi pelengkap ketika hendak mencari informasi dari internet. Jangan biarkan Anda dan anak-anak Anda menyerap informasi dari internet tanpa ada pendamping baik hardware maupun software untuk mendapatkan hasil optimal. Diharapkan dengan fokus di topik ini, masyarakat bisa lebih bijak menggunakan apapun platform online.

 Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo.