Tuturan Ahmad Dhani ketika menceritakan bahwa dalam perjalanannya keberuntungan turut terlibat sebagai unsur penting mungkin ada tepatnya. Begitu pula anggapan kalau keberuntungan perlu dipancing sebagaimana dituturkan oleh Valentino Rossi dalam autobiografinya. 

Apalagi dua lelaki ini memiliki daya pikat kuat terhadap kerumunan: gerak-geriknya gampang mengundang perhatian, baik berupa pujian atau cacian.

Intro tersebut sebenarnya sebagai ejekan saja kepada Laila Fariha Zein, yang sekitar satu tahun lalu menulis Risalah Sampah. Menurut saya, terdapat faktor keberuntungan yang menyertai Risalah Sampah. Artikel yang kemudian menjadi ‘bentuk baku’ untuk Mata-Maya.com. Situs yang sempat dibuat untuk bermain di media daring tersebut mendapat tanggapan luar biasa melimpah.

Artikel itu bisa menjangkau banyak kalangan yang, ketika diperhatikan sekilas, tampak saling berlawanan. Pun mendapat banyak pujian. Pasalnya dianggap mewakili suara hati banyak orang. Secara pribadi pun tuturannya berpengaruh kuat terhadap saya dalam menyalakan semangat berperilaku atas dasar pijakan pemikiran yang matang.

Padahal semua tuturan dalam Risalah Sampah adalah curahan hati spontan Laila, yang ditulis melalui WhatsApp. Curahan hati ketika dirinya merasa dalam ruang, rasanya sedang tercemar penuh sampah yang hinggap. Sampah tersebut langsung dikeluarkan secara bertahap, melalui serentetan pesan pendek yang terus meluap.

Ejekan tersebut saya berikan lantaran saya belum mendapati lagi tuturan Laila yang bisa menghipnotis pembaca laiknya Risalah Sampah. Karyanya yang ini boleh dibilang megah. Malahan saya belum mendapat hentakan yang setara ketika membaca satu per satu status Facebook, cuitan Twitter, caption Instagram, dan postingan Tumblr milik Laila. Walau untuk yang terbit melalui media sosial ini punya pengaruhnya juga.

Padahal selepas terbitan Risalah Sampah itu, saya berusaha untuk dapat melayani Laila agar dapat ‘bicara lebih banyak pada khalayak’. Mulai dari merilis Mata-Maya.com, yang tentu saja harus siap dengan ritme bermain harian, sampai menyusun kembali rancangan majalah peLAntan, dengan penekanan terhadap LA sebagai cuplikan namanya. 

Sayang, sampai sekarang semua itu belum menunjukkan hasil yang dapat dibanggakan, apalagi menyamai Risalah Sampah yang berhasil menghentak. Jadi Laila hanya beruntung saja. 

Sejak Laila menanggapi obrolan saya tentang beragam hal, dari wacana perempuan termasuk tentang sex paruh akhir 2016 lalu, saya cukup serius memandang Laila. Terutama pada fragmen ketika obrolan terkait Paris Hilton dan Kim Kardashian—yang belakangan akur seiring permohonan Paris dituruti Kim. 

Kematangan berpikir yang dimiliki Laila ingin sekali saya teladani. Beberapa obrolan terkait dengan fenomena tertentu, semisal kehidupan selebriti, menjadi sarana yang saya pakai untuk menyerap pemikirannya. 

Dalam setiap pemikiran, tentu terkandung keyakinan, penalaran, dan perasaan yang saling berpadu. Wajar kalau kadang seseorang memiliki pemikiran yang terkesan kontradiksi. Imam Syafi’i saja punya pendapat lawas (qoul qodim) dan pendapat baru (qoul jadid). Alquran pun punya alur penyampaian yang membuat sebagian tuturan masuk kategori naskh dan sebagian lainnya termasuk mansukh.

Risalah Sampah sendiri berhasil memotret keadaan jaman now, ketika orang benar bermusuhan dengan orang benar. Orang mempertahankan kebenarannya, berbenturan dengan orang yang juga mempertahankan kebenarannya. 

Orang ini bisa kelompok, bisa parpol, bisa front, bisa kelompok fans, bisa apa pun. Pertentangan antara orang yang sama-sama yakin sama kebenarannya ini kan perlu kita cari, “Lho kenapa kebenaran kok bisa mempertengkarkan sesama manusia?”

Dari Risalah Sampah saya mendapat, mungkin tak selaras dengan kehendak Laila, bahwa kebenaran itu tidak untuk dibawa ke luar dari diri kita. Sesuatu yang seharusnya dibawa ke luar dari kita bukanlah kebenaran, melainkan kebaikan, keindahan, kemuliaan, kebijaksanaan, kearifan, yang tujuannya untuk memberikan pada semua orang rasa nyaman—sesuatu yang selalu ditekankan Laila dalam setiap tuturannya.

Kalau kita cermati, kebenaran dapat dibagi menjadi tiga kategori: kebenaran personal, komunal, dan real. Kebenaran personal adalah kebenaran subjektif masing-masing orang, kebenaran Nong Darol Mahmada misalnya. Kebenaran komunal adalah kebenaran subjektif masing-masing kelompok, seperti kebenaran Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bisa jadi kebenaran personal terkait komunal, seperti kebenaran Meyda Sefira menjadi tumpuan Hujan Safir.

Walau begitu, kebenaran personal dan komunal belum tentu merupakan kebenaran yang sejati. Benar yang sejati ini sesuatu yang sifatnya rumit, perlu kita tempuh berjalan ke sana terus menerus yang mungkin nanti ada hubungannya sama Allah. Apalagi Allah sendiri menyatakan bahwa kebenaran itu datangnya dari-Ku, manusia hanya mendapat cipratannya dan menafsirkannya.

Nah, tafsir kebenaran tersebut harus diperlakukan hati-hati. Karena penafsiran setiap orang atau kelompok dapat berbeda bahkan saling bertentangan. Melalui Risalah Sampah, Laila mengajak pembaca untuk tidak mempertengkarkan penafsiran tersebut, melainkan berusaha memberi rasa nyaman kepada setiap ciptaan Allah, menggembirakan tanpa merendahkan muruah sesama.

Selain berhasil memotret keadaan jaman now, Risalah Sampah juga berusaha memberi tawaran solusi. Laila tampak punya kecenderungan bahwa tak sekadar ngomel doang, tapi omelannya kerap disertai tawaran solusi.

Namun, dirinya tak keukeuh agar tawarannya dipakai, bahkan tetap merasa biasa saja kalau tak dipedulikan. “Aku cuma ingin berjalan, kalau mau mengikuti silakan dengan siap menerima risikonya, kalau enggan tak mengapa,” kira-kira sejenis demikian kalau dituturkan.

Tawaran solusi yang dituturkan melalui Risalah Sampah ialah mengajak kita untuk berhenti mencari, apalagi kemudian menuding, membenci, bahkan ingin memusnahkan siapa yang salah. Karena bagi yang kita tuduh siapa yang salah itu, bagi mereka kita yang salah. Jadi Laila mengajak kita belajar mencari apa yang salah dan apa yang benar. Yang salah bisa pada Laila, saya sendiri, atau orang lain. Jadi yang perlu dicari apanya bukan siapanya.

Kalau sebagai manusia, sebagai sesama kita wajib menerima semuanya, dengan penempatan masing-masing. Kalau kita mempertengkarkan siapa yang salah siapa yang benar, itu nanti yang terjadi bukan pembuktian mengenai kebenaran, melainkan kalah-menang secara kekuatan. Kalah-menang secara kekuatan sendiri sebenarnya adalah tataran paling rendah dari manusia, yang kayaknya bukan diciptakan untuk mengalahkan satu sama lain.

Melalui Risalah Sampah, Laila menunjukkan bahwa semua nilai baik bersumber dari Firman Allah maupun pencariannya manusia sendiri, hidup adalah mengalahkan diri sendiri. Sebagai manusia sendiri, saya merasa Laila kerap terlibat pertarungan melawan dirinya sendiri yang tak pernah selesai. Pertarungan yang kemudian membuatnya tak punya waktu untuk ikut ke dalam pertarungan menang-kalah.

Tentu saja Laila tak dapat terlibat dalam pertarungan menang-kalah. Dia tipikal orang yang tak mau kalah sekaligus tak tega menang. Kalau main bola kayak dia semua, bisa-bisa semua hasilnya berakhir imbang, balapan MotoGP pun bareng-bareng menyentuh garis finis. Saya sendiri merasakan, setiap lemah dia menguatkan, tapi saat kuat kuat dia menjatuhkan. Gitu terus sampai Ahmad Dhani balikan sama Maia Estianty.

Ajakan Laila untuk berlomba memberi rasa nyaman rasanya perlu digelorakan. Nyaris setiap orang punya keinginan memberi rasa nyaman. Oza Kioza berusaha memberi rasa nyaman melalui indera pendengaran, Rosa Amalia Iqony melalui penglihatan, Nong Darol Mahmada melalui pemikiran, Meyda Sefira lewat jalur kebersamaan, dan seterusnya.

Dengan berlomba memberi rasa nyaman, hasilnya dapat digunakan untuk membentuk keseimbangan—satu poin yang selalu ditekankan oleh Eny R. Octaviani, walau kadang kontradiksi dengan lakunya sendiri.

Kalau kita mau jujur dalam mengungkapkan pengamatan keadaan saat ini, boleh dibilang terjadi ketidakseimbangan hampir total. Cara berpikir sudah tidak seimbang, cinta juga tidak seimbang, hubungan antara hati dengan pikiran tidak seimbang, hubungan antara individu dengan masyarakat tidak seimbang, antara kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain juga terdapat ketidakseimbangan, antara pemerintah dengan rakyat juga penuh ketidakseimbangan. Bahkan teknis pertimbangan bayaran majikan dan buruh saja, penuh ketidakseimbangan antara beban dan pendapatan!

Dengan demikian, menurut (pembacaan saya terhadap Risalah Sampah) Laila, daripada saling memamerkan dan menyombongkan kebenaran masing-masing yang nanti juga ditanggapi dengan mempertahankan diri dengan memamerkan dan menyombongkan kebenaran masing-masing, mending kita kerjasama untuk mencari bersama-sama kemungkinan untuk menciptakan keseimbangan.

Karena itu, saya kerap memanasi Laila untuk banyak bertutur, tulisan atau lisan. Secara tulisan, dirinya punya kemampuan menulis secara tertib. Bacaannya banyak, dan beragam, serta daya endusnya tajam. Secara lisan, suara serak-serak kesetnya enak disimak, sekadar ngomong apalagi nyanyi. 

Terlebih lagi, wajahnya cantik dan badannya bagus, sesuatu yang disebut Oza Kioza sangat membantu dalam menarik perhatian kerumunan—yang perlu saya cari penguatnya melalui buku I’anatuth Tholibin syarh Fath al-Mu’in dan jurnal akademik Erotic Capital. Ya kalau memang tak dapat menulis terus, 5 menit ngoceh di YouTube juga bisa. Lagipula pada jaman now, seakan ‘jatah memimpin lingkungan’ sedang diberikan pada perempuan ‘kan?