Jika pembaca akrab dengan kalangan pesantren dan kepesantrenan, sungguh tidak sulit bagi saya untuk mengingatkan pembaca terhadap suatu penyakit yang lekat dengan pesantren tetapi malah dianggap wajar. Ya, gasab (ghashab).

Tentunya tidak semua pesantren terjangkiti virus ini. Namun pengalaman saya jalan-jalan ke berbagai pesantren menggambarkan bahwa penyakit itu telah kronis dan tersebar luas—bahkan menjadi identitas?

Apa itu gasab? Di dalam Fathul Qarîb, Ibn Qasim menyebutkan bahwa gasab adalah penguasaan terhadap hak orang lain secara kriminal—menyalahi aturan. Nawawi al-Bantani dalam komentarnya menambahkan bahwa ‘hak’—yang menjadi objek gasab tersebut bukan hanya hak milik (harta), namun juga boleh jadi hak kekhususan atau pula hak manfaat.

Mengenai hubungan dan perbedaan di antara ghashab (gasab) dan sirqah (mencuri), pendapat yang kini masyhur mengatakan bahwa yang menjadi titik perbedaan di antara keduanya ialah bahwa gasab merupakan pencurian secara terang-terangan, sedangkan sirqah sebaliknya. Sirqah merupakan praktik pencurian secara sembunyi-sembunyi.

Jelasnya, tragedi kehilangan sandal selepas pengajian atau salat berjamaah merupakan salah satu contoh nyata dari praktik gasab di pesantren. Para pelaku gasab sandal ini melakukan pengambilalihan hak milik orang lain tanpa izin dan terang-terangan. Sedangkan contoh sirqah, ketika pagi hari tadi teman saya menampakkan wajah yang lebih menyedihkan dari biasanya.

Ya, jatah bulanan dari orang tuanya yang tersimpan rapi dan sangat aman (dompetnya disembunyikan di sela-sela kitab di dalam lemarinya) itu telah raib. Kemungkinan besar, sang pencuri melakukan aksinya secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak mungkin membuka lemari dan mencuri di saat situasi kamar sedang ramai.

Bila kita berbicara lebih meluas, sesungguhnya al-Qurân—misalnya melalui surat al-Baqarah: 188 atau al-Mâidah: 38 telah menyinggung pencurian dan bahkan menyebutkan hukum bagi pelaku pencurian tersebut.

Artinya, pada zaman itu pun pencurian telah jamak dilakukan dan dianggap sebagai penyakit; sampai ‘membuat’ Gusti Allah ‘harus’ menurunkan ayat tersebut guna dijadikan pedoman oleh manusia dalam menyikapi dan memperlakukan para pelaku pencurian.

Dikombinasikan dengan beberapa hadis Nabi, ayat ini kemudian menjadi landasan ijtihad para ulama fikih dalam merumuskan macam-macam jenis beserta hukum pencurian tersebut.

Mengenai sebab-sebab dan kapan pertama kali pencurian itu dilakukan, saya tidak memiliki data yang valid. Entahlah mungkin gejolak pencurian yang semakin gawat ini merupakan suatu akibat dari tingginya angka populasi yang disertai dengan lebarnya jarak status sosial, saya tidak dapat memastikannya.

Namun dapat disimpulkan, budaya mencuri sudah sejak lama menjadi penyakit manusia. Paling tidak, ia sudah ada sejak sekitar 14 abad yang lalu ketika al-Qurân diturunkan. Dan celakanya, Islam sampai saat ini belum bisa menjadi jawaban dari persoalan tersebut.

Memang terlalu naif bila dikatakan ajaran dan hukum Islam sanggup menghilangkan seluruh kasus kejahatan; termasuk pencurian. Dan pada faktanya, Indonesia yang memiliki status negara berpenduduk muslim terbesar saja masih belum selesai menangani kejahatan sosial yang satu ini.

Pejabat di negara ini malah berbondong melakukan korupsi. Momen lebaran, yang menjadi salah satu simbol Islam, pada nyatanya sering kali menjadi alasan bagi para pencuri yang melaksanakan aksinya di bulan Ramadan. Kaum elite maupun kaum miskin di negeri muslim terbesar ini kompak hobi mencuri.

Dari sini dapat kita lihat, berbagai solusi yang ditawarkan Islam masih sebatas wacana. Keseriusan Islam dalam mencegah dan menindak perilaku pencurian sungguh belum terwujudkan dengan baik, apalagi memenuhi harapan.

Nah, bagaimana budaya mencuri (baik dengan metode ghashab, sirqah, atau yang lainnya) yang menjijikkan ini masuk dan berkembang di ruang lingkup pondok pesantren, saya juga tidak dapat mendeteksi dengan pasti. Namun yang jelas, sampai saat ini, setidaknya di pondok pesantren yang saya tinggali, kasus kehilangan dan pencurian menjadi kasus langganan yang ditangani oleh pengurus bagian keamanan selaku penegak hukum di pesantren.

Bahkan, tak hanya perilaku gasab sandal atau mencuri deterjen teman untuk mencuci pakaian, kenakalan-kenakalan lain yang terjadi di pesantren semakin kini semakin wah dan hampir ‘tak terkendalikan’.

Ini sungguh mengerikan. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang fokus mendidik para santri melalui cara agama dan untuk memahami agama, nyatanya masih belum move on dari kasus-kasus kenakalan yang dapat melahirkan kejahatan yang lebih serius.

Alih-alih berproses menjadi penerus para ulama, para santri kini malah betah dengan perilaku nakalnya. Daripada fokus menjadi produsen ahli agama yang mampu menjadi jawaban di tengah persoalan masyarakat, pesantren kini lebih sibuk mengurusi anak-anak nakal dan bahkan beralih fungsi menjadi panti rehabilitasi.

Pergeseran fungsi ini jelas sangat mengharukan. Selain perkembangan zaman yang justru mengganggu dan merusak masa belajar para santri, ketidaksiapan pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut juga menjadi faktor kemunduran kualitas santri dan pesantren saat ini.

Namun begitu, degradasi kualitas yang dialami santri dan pesantren secara umum saat ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk putus asa. Bagaimanapun, pesantren merupakan harapan terbaik dalam upaya menciptakan anak bangsa yang berakhlak. Namun tetap perlu disadari, konsep tarbiyyah, ta’dîb dan ta’lîm yang menjadi roh pesantren memang bukanlah hal yang mudah dijalankan.

Di sini, selain sorotan pemerintah dan dukungan penuh dari wali santri, tenaga ekstra para kiai sungguh diharapkan. Amunisi kesabaran dan upaya-upaya tambahan sangat perlu disiapkan, karena proses pendidikan yang perlu para kiai berikan terhadap para santri amatlah masih panjang.

Walhasil, kesadaran para santri sebagai peserta didik di pesantren perlu segera dibangkitkan. Mereka berada di pesantren tiada lain untuk fokus membekali diri dengan agama; dan perbaikan moral merupakan tujuan utama Kanjeng Muhammad diturunkan. Maka tak berlebihan, akhlak mulia adalah wujud manifestasi dari agama Islam itu sendiri.

Dan ketika bangsa ini secara berjamaah sudah kehilangan moral atau akhlaknya, maka kaum santri harus sadar; mereka adalah pengharapan penting bangsa ini dan mereka sudah berada di tempat yang tepat untuk itu.

Memang, gasab sandal atau alat mandi ‘hanyalah’ kenakalan kecil anak-anak. Sangat jauh jika dibandingkan dengan mereka yang terkena candu narkoba atau seks bebas.

Tetapi, bila yang dipilih adalah pembiaran, maka sandal dan alat mandi tersebut hanya akan menjadi tahapan awal bagi keberanian anak-anak tersebut untuk melakukan gasab yang lebih besar. Bukankah angka sepuluh berasal dari angka satu yang dibiarkan?

Kang Santri pasti masih hafal, Ibn Ruslan dalam mukadimah mandzhûmât Zubad-nya mengatakan: “Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, akan disiksa bahkan sebelum para penyembah berhala.” Maka dari itu, khususnya bagi para santri, mari kita mulai pengamalan ilmu bahkan sejak masih di pondok; mari kita bangun pengamalan ilmu bahkan dari hal yang sederhana seperti menghentikan budaya gasab.

Mari kita bermenung dan berkaca diri; bila santri saja sudah hobi mencuri, lalu bagaimana kita dapat berharap budaya korupsi pejabat di negeri ini bisa berhenti?

Wallâhu a'lam.