Pelajar
2 tahun lalu · 212 view · 4 menit baca · Politik politics-1327276_960_720_6.png

Ketika Santri Berpolitik

Politik bukanlah wajah baru di negeri ini, akan tetapi sudah lama politik mengerami bangsa ini, politik juga sudah merambah ke sekolah dan dunia pesantren. Politik sekarang bukanlah milik perorangan lagi, akan tetapi sekarang faktanya semua orang juga ikut berpolitik dan mereka juga merasa bangga berenang di lautan politik.

Pada waktu MTS saya mempunyai teman yang ingin menjadi ketua OSIS, calonnya 3-orang, lawan teman saya bernomor urut-2 memiliki pengaruh yang sangat kuat disekolah. Dapat dipastikan tanpa kampanyepun lawan teman saya bisa melenggang dengan mulus menuju kursi ketua OSIS.

Akan tetapi teman saya ini sangat ambisius untuk memenangkan kursi ketua OSIS, hingga suatu ketika terjadi suatu hal yang terselubung, teman saya datang menemui tim sukses lawannnya dan bebincang-bincang hangat dengan mereka.

Kemudian teman saya berkata ”jika kalian ikut saya, maka sebungkus rokok ini akan menjadi milik kalian”, Awalnya mereka menolak dan disinilah terjadi transaksi, hanya sebungkus rokok yang mereka lihat cukup terbilang mahal dan rokok yang tergolong enak akhirnya mereka kalah dengan sebungkus rokok.

Ketika pelaksanaan pemumutan suara yang paling banyak mendominasi permainan adalah temaan saya. Dapat dipastikan tampuk kepemimpinan akan jatuh ke tangan teman saya. Jika sebelumnya banyak penafsiran bahwa lawan teman saya yang akan memenangkan permainan ternyata dugaan mereka salah, karena pengaruh atau kepercayan sudah dikalahkan dengan sebungkus rokok.

Jika di zaman kakak saya bukan rokok tetapi permen. Ada yang berkampanye melalui pengeras suara untuk menyampaikan visi-misi misinya, sedangkan tim suksesnya berkampanye melalui jalur “gelap” yaitu penyebaran permen pada para siswa dan anehnya mereka merasa senang akan hal itu dan mereka juga mau mengikuti perintah untuk memilih orang yang memberi permen” nanti jangan lupa pilih teman saya” bahkan dengan tenangnya dia menjawab ”beres”.

Karena sekarang era modern yang menjadi senjata utamanya bukan rokok atau permen, Tetapi kertas merah dan kertas biru, bahkan saya pernah meenjumpai kasus seperti di atas yang mana salah satu calon kepala desa mendatangi 1-rumah, Dengan tujuan ingin silaturrahmi, Namun di balik itu terdapat keinginan yang terpendam,

Namun di akhir episode calon kepala desa tersebut berkata ”ada berapa orang disini pak” tuan rumah menjawab” ada 4-orang pak” maka keluarlah 4-lembar kertas biru,” nanti jangan lupa pilih saya” dengan entengnya tuan rumah menjawab ”beres”. Kalau di pikr-pikir siapa yang tidak mau kepada uang, Apalagi di berikan secara cuma-cuma tapi kita harus berfikir dulu apakah duit ini halal atau tidak.

Setiap hari di pemberitaan entah itu televisi atau media cetak, nama politik pasti muncul, bahkan politik ini bukanlah kata-kata yang asing di halayak orang banyak, politik juga memiliki 2-jalur yaitu uang dan kekuasaan, di benak mereka cuma ada 2-hal yaitu punya mobil mewah dan duduk di kursi jabatan tidak heran banyak masyarakat yang beranggapan bahwa politik itu buruk.

Sehingga kesejahteraan negeri ini semakin terpenjarah, Bahkan untuk mencapai semua tujuannya mereka melakukan berbagai cara, Hati nurani pun bisa kalah dengan adanya politik, yang menjadi penyebabnya adalah kertas merah dan kertas biru. Dalam berpolitik banyak hal yang perlu direnungkan kembali, tidak hanya karya sastra yang butuh perenungan politik.

Pun juga butuh perenungan, Jangan sampai karena politik agama di kesampingkan, Hubungan persaudaraan jadi terpecah belah, Tidak heran jika banyak orang yang memutuskan tali silaturrahi gara-gara politik yang salah jalan.

Ironis memang politik yang sekrang mengepung bangsa ini adalah politik yang bersifat merusak(destruktif), Pelopornya tidak lain adalah seorang politisi yang haus akan kekuasaan, Politik yang sedang mendominasi bangsa ini adalah politik yang berwajah kejam dan berwajah garang. Tidak jarang banyak orang yang mengeluh tentang politik di zaman ini apalagi zaman yang serba instan(globalisasi).

Pertanyaannya bagaimana kalu santri yang berpolitik?

Dulu pernah terjadi perdebatan yang cukup alot dan cukup panjang pada kurun 1930-an tentang hubungan politik dan agama, antara santri dan non-santri, bahkan suasana perdebatan itu masih di rasakan sampai tahun 1950-an. hal yang di perdebatkan apakah politik itu kotor atau tidak.

Non santri bersikukuh politik itu selamanya kotor, sehingga agama yang suci jangan sampai di bawa-bawa kedalamnya, Dan dari pihak santri pun langsung membalik formulanya justru karena politik itu kotor perlu di bersihkan dengan agama.

Jadi terdapat persamaan pandangan antara santri dan non santri, politik itu kotor, bedanya, Bagi santri politik itu tidak kotor, kalau mau politik itu bersih jangan sampai di pisahkan dari agama, non-santri menjawab, agama akan menjadi kotor jika di sandingkan dengan politik. maka dari itu jangan sampai agama di rusak oleh politik.

Sebenarnya kalau santri yang berpolitik sah-sah saja, karena mental seorang santri sudah digembleng secara khusus di dunia pesantren, agar ketika mereka terjun ke dunia politik tidak tersesat pada politik yang merusak, Dan pesantren adalah muaranya membangun karakter, jadi santri itu tidak hanya cerdas secara eqiu, dan juga memiliki akhlak yang terpuji, dan mental sepiritualnya tidak bisa di ragukan lagi, karena sikap dan tindakan seorang santri di kontrol oleh agama.

Saya sangat setuju jika ada seorang santri yang terjun ke dunia politik, sebab yang mengendalikan sifat dan hawa nafsunya adalah agama, dan semoga bisa memperbaiki tatanan politik yang hidup di negeri ini.

#LombaEsaiPolitik