Sejak dulu keabadian itu memang menarik. Apalagi keabadian akan kekuasaan terhadap harta dan takhta. Mungkin juga wanita. Pertarungan berdarah-darah pun tak pelak kita saksikan atau dengarkan dari dongeng-dongeng sebelum tidur, tentu saja demi keabadian dua hal itu.

Dahulu orang-orang mesti melakukan pertempuran yang hebat dan mematikan. Belakangan pendidikan datang dan menawarkan jalan lain, tanpa pertarungan yang habis-habisan dan berdarah-darah.

Ilmu pengetahuan bagaimanapun menawari kita jalan untuk menggapai itu, terlepas dari benar atau salah dalam meraihnya. Lagi pula pengetahuan bukan soal benar atau salah, melainkan bermanfaatkah untuk sesama, atau untuk diri sendiri.

Tapi apa yang terjadi jika yang dipertarungkan adalah usia yang abadi, a-mortalitas? Atau, katakanlah, melawan takdir kematian? Dapatkah ilmu pengetahuan, sekali lagi menyediakan jalan itu?

Kebanyakan ajaran dalam agama tidak begitu menarik untuk disimak, kecuali menawarkan satu angan-angan bahwa ada kehidupan setelah kematian. Dan itulah satu-satunya esensi dari kehidupan. Demikianlah, katanya.

Sedangkan bagi seorang nasionalis, mati demi negara adalah hal terhormat, sebab Anda akan hidup dalam ingatan setiap seseorang yang nasionalis pula, sebagaimana fatwa dalam sastra yang melegenda, seorang penulis akan hidup dan mengabadi dalam karya-karyanya. Memang terdengar evolusioner. Tapi membosankan, setidaknya bagi mereka yang ingin usianya abadi.

Ada kisah menarik mengenai seorang manusia yang tak mau dilumat mati, atau ingin hidup lebih lama atau selamanya. Karena semua hal terjadi selalu didahului oleh sebab, demikian pula seseorang itu. Keinginan hidup lebih lama itu bermula ketika satu peristiwa tragis terjadi.

Ia bernama Gilgamesh, dari Uruk. Gilgamesh adalah seorang Raja, yang dalam pertempuran hebat sekalipun, ia selalu keluar sebagai sang juara. Suatu hari, Enkidu, kawan terbaiknya mati. Gilgamesh dilanda satu kesedihan yang berlarut. Bagaimanapun, Enkidu adalah karibnya. Selama berhari-hari ia duduk di sampingnya, mengamatinya sedemikian takzim sampai ia melihat seekor cacing keluar dari lubang hidungnya.

Pada saat itu juga ketakutan akan kematian membuatnya bersumpah tak mau mati. Barangkali bisa kita bayangkan ia berkata serupa ini, "Aku tak mau mati. Siapapun akan kubunuh yang berkemungkinan membunuhku." Ia melawan takdir kematian.

Maka kemudian Gilgamesh menjelajahi seluruh penjuru dunia. Membunuh apa pun serta siapa pun yang berkemungkinan dapat membunuhnya. Semua itu dilakukannya demi satu pencarian: keabadian. Ini memang terdengar mirip dengan pengembaraan dalam film Jack Sparow yang mencari air keabadian.

Lalu apa yang terjadi? Gilgamesh bagaimanapun gagal dalam pencariannya, dan pulang dengan tangan kosong, tak ada air keabadian. Namun, ia pulang dengan sekeping kebijaksanaan. Bahwa: manusia diciptakan dengan kematian sebagai keharusan, dan Gilgamesh mesti belajar menerimanya.

Apa yang bisa kita petik? Saya tak mengarahkan Anda untuk menjejaki kisah Gilgamesh. Yang hendak saya katakan adalah, keinginan atas "melawan takdir kematian" itu memang ada, dan bukan saja dialami Gilgamesh belaka. Ada banyak realitas yang bisa kita sodorkan atas keinginan-keinginan hidup selamanya.

Hal sederhana bisa kita sepakati terhadap produk kecantikan. Kulit yang menua itu terjadi sebagai evolusi biologis. Tetapi produk kecantikan dapat menyembunyikannya, atau terapi medis atau operasi yang akrab kita dengar dengan sebutan Oplas atau Operasi plastik. setidaknya itu dapat membuat wajah tampak "awet muda". 

Bagaimanapun, itu satu fakta tak terbantahkan, bahwa ada banyak manusia serupa Gilgamesh di dunia ini yang mencoba melawan takdir kematian.

Kembali ke pertanyaan di muka: mampukah ilmu pengetahuan menyediakan jalan yang lebih daripada sekadar menyediakan oplas, dalam hal ini umur yang tak terbatas, melawan takdir kematian?

Sebelum menjawab ini. Mari jernihkan dulu mengenai apa yang kita pahami sebagai takdir. Ilmu pengetahuan atau sains dan agama adalah dua kutub yang berseberangan. Salah satu bedanya ada pada pemaknaan tentang kematian. Sains tidak menganggap kematian sebagai keharusan, melainkan kesalahan teknis belaka. Sedangkan agama sebaliknya. Manusia hidup untuk mati sebelum mencapai satu tempat keabadian: akhirat.

Sekarang, pertanyaannya kita perbaiki: mampukah sains membatalkan dalil agama dalam hal ini kematian sebagai keharusan, atau takdir?

Kalau kita merujuk pada fakta-fakta akan keberhasilan sains selama ini, saya mau katakan, yah, sains mampu melakukannya. Benar, memang, untuk soal mengekalkan usia, para ahli masih bertarung dalam laboratorium dengan segala percobaan.

Sedikit contoh: peristiwa turunnya hujan, bagi ajaran agama kebanyakan, bukanlah peristiwa yang tak ada campur tangan tuhan di dalamnya. Bahkan pemahaman ini direkam dalam beberapa kitab suci. Dalam alquran sendiri bisa dilihat pada QS. Al-An'aam, 6 : 99.

Tentu saja bukan tuhan, jika merujuk pada ilmu pengetahuan. Pengetahuan dasar yang sama-sama kita tahu adalah, hujan merupakan salah satu dari siklus hidrologi, yang dalam proses terjadinya terdapat tiga tahap: evaporasi (penguapan), kondensasi (pengembungan) dan presipitasi (saat terjadinya hujan).

Atau hal lain mengenai terjadinya petir. Kita tahu, dalam beberapa agama juga mengeklaim petir tidak saja sebagai peristiwa alam. Atau dalam banyak kepercayaan menyebutkan bahwa itu adalah cemeti para dewa.

Pada abad ke-18, Benjamin Franklin melakukan satu uji coba untuk menguji hipotesisnya. Yang ia duga adalah hujan hanyalah arus listrik, dan tahun-tahun berikutnya penangkal petir terpasang di setiap rumah orang-orang yang sebelumnya percaya bahwa petir adalah cemeti para dewa. Mereka tidak sadar tengah melucuti senjata sang dewa.

Sejauh ini, keberhasilan sains mencundangi takdir ilahi tampak semakin terang. Bagaimanapun, indikator keberhasilan itu ada di depan mata. Bahkan, para cendekiawan secara serius telah mengatakan, pada tahun 2050 manusia bisa mengalami a-mortalitas. Atau mengalami umur yang tak berkesudahan (Harari, dalam buku Sapiens).

Mengapa bukan im-mortalitas? Sebab a-mortalitas memungkinkan kematian masih dapat terjadi jika itu adalah kecelakaan parah. Entah tabrak mobil atau Anda gantung diri. Pada titik kecelakaan parah itulah, salah satu yang dimaksudkan dalam sains sebagai kesalahan teknis.

Tahun 2050 memang waktu yang sangat jauh untuk sekarang. Kita barangkali akan mati besok sebab kesalahan teknis, seperti pembuluh darah tersumbat atau bakteri yang membesar atau gagal jantung. Tapi, jika hal itu tak terjadi, menunggu tahun itu datang bukanlah hal yang muskil.

Maka, untuk waktu-waktu penantian itu, sambil menunggu 2050, kita bisa melewatinya dengan sejenis terapi medis atau melakukan operasi plastik. Barangkali Anda menginginkan tampak awet muda.