Anak merupakan anugrah yang tak tergantikan oleh apapun. Karena keberadaannya merupakan karunia dan bukti bahwa Tuhan telah sepenuhnya percaya dan menganggap anda telah pantas dikatakan sebagai seseorang yang telah dewasa. bagaimana tidak? merawat dan membesarkan anak bukanlah perkara mudah seperti yang terlihat di permukaan. Banyak sekali masalah yang akan anda hadapi ketika Tuhan telah mempercayakannya kepada anda.

Anak merupakan buah cinta yang hadir melengkapi kehidupan rumah tangga, tapi apakah mudah untuk membesarkan dan mendidik titipan Tuhan tersebut? dengan sangat dinamisnya pemikiran manusia dan sangat beragam pula cara manusia dalam merespon keadaan. itu menjadikan beragam pula bentuk ekspresi kasih sayang orang tua terhadap anaknya dan juga sebaliknya.

jika berkaca pada salah satu aliran pemikiran filsafat modern yaitu empirisme yang di prakarsai oleh filsuf berkebangsaan inggris yaitu David Hume, yang berpendapat bahwa pada dasarnya hakikat manusia itu bersih tanpa ada pengetahuan apapun (tabula rasa) ketika mereka lahir kemudian pengetahuan yang didapatkan oleh manusia adalah pengetahuan yang berpaku pada proses mengalami atau melalui empiri.

sehingga jika direlasikan dengan kondisi aktual dalam hal mendidik dan membesarkan buah hati kita hal tersebut dapat menjadi pertimbangan yang urgent. anak akan merekam semua hal yang dia lihat, dengar, dan rasakan. Sehingga perlu adanya management suasana dalam setiap interaksi karena anak memiliki kecenderungan untuk meniru tanpa ada proses memilah yang selektif.

Dalam proses pendidikan anak atau buah hati, konflik memang perlu sebagai suatu rangsangan psikomotorik dalam merespon suatu kondisi atau keadaan tertentu. Namun para orang tua biasnya berfikir bahwa reaksi tersebut akan sama antara anak yang satu dengan yang lain. Tak jarang dalam keluarga ada kasus diamana ada anak yang dibanggakan lebih dari saudaranya yang lain.

Hal tersebut lumrah terjadi dalam sebuah keluarga ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan yang pertama anak tersebut akan berusaha agar dapat di sejajarkan dan dibanggakan seperti saudaranya yang lain tersebut, dan kemungkinan yang lainnya anak tersebut malah akan unresponable terhadap lingkungannya dan cenderung bertindak sesuka hatinya karena ingin diakui dengan cara dan jati dirinya tanpa harus dibandingkan dengan orang lain.

Jika dihubungkan dengan salah satu teori psikologi yaitu psikoanalisa dari salah seorang psikolog berkebangsaan Austria dari lingkaran Vienna bernama Sigmund Freud, yang berpandangan bahwa jiwa manusia selalu berada dalam kondisi yang tidak stabil. Bagi dia ruh murni yang digambarkan sebagai suatu kesadaran mutlak tidak pernah ada karena pada dasarnya manusia akan selalu di pengaruhi oleh faktor-faktor biologisnya.

Jadi dari pemikiran Freud bisa disimpulkan bahwa manusia berepapun usianya akan selalu terpengaruh oleh faktor-faktor ini. Tanpa terkecuali bahkan jika demikian seseorang yang telah dianggap dewasa sekalipun pasti tidak akan pernah memiliki suatu kondisi yang stabil. Jika dikontekstualisasikan dengan permasalahan mendidik dan membesarkan anak maka terdapat sebuah relasi yang menarik.

sehingga perlu adanya pemahaman yang mendasar bahwa orang tua juga bukan hanya menjadi subjek dari proses pendidikan itu, melaikan juga harus menjadi objek dari rangkaian proses yang ada. Karena seringkali orang tua ingin memberi pengarahan yang benar kepada anaknya, tapi orang tua tersebut sendiri tidak menyadari bahwa keseharian yang dia perlihatkan di depan anaknya ternyata tidak mendukung rangkaian proses tersebut.

Untuk dapat memberi gambaran yang sedikit menjelaskan penanganan permasalah tersebut, saya akan memberi sebuah contoh kasus yang pernah saya alami, beberapa waktu yang lalu, kebetulan saya memiliki seorang kekasih yang usianya lebih muda di bandingkan saya, sekitar kurang lebih lima tahun di bawah saya. Kami sudah setahun berhubungan, dan saya juga sudah sangat dekat dengan keluarganya.

Setiap apa yang kami lakukan bersama selalu dalam pengawasaan orang tuanya. Awalnya saya sangat respek dengan keluarga mereka karena keramah tamahannya, selama saya berhubungan dan melakukan interaksi dengan mereka saya berinisiatif untuk melakukan suatu pengamatan kecil tentang bagaimana relasi diantara mereka, antara dia dan ibunya, antara dia dan ayahnya, antara dia dan adiknya, dan antara dia dan saya sendiri.

Saya akan menjelaskan mulai dari bagaimana hubungan dia dengan ibunya terlebih dahulu. Seperti layaknya seorang anak yang tentunya akan mendapat pendidikan awal di lingkungan keluarganya, saya berpandangan bahwa dia sangat terpengaruh dengan pola prilaku ibunya. Alasannya karena hampir setiap prilakunya hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh ibunya.

Terutama pada prilaku konsumtifnya. Itu terjadi karena mungkin kebiasaanya yang sering dilakukan oleh ibunya yang terbiasa membeli makanan matang untuk dikonsumsi dari pada membeli bahan makanan mentah dan memasaknya sendiri di rumah, karena sibuk dengan bisnisnya Sehingga budaya praktis tersebut menjadikan dia begitu menyepelekan uang dan boros dalam mengguanakannya. Namun yang membuat saya aneh adalah ibunya yang sering mengeluh kalau anaknya boros dan tidak menghargai uang.

Kemudian selanjutnya mengenai bagaimana hubungan antara dia dan ayahnya. Secara kasar saya menilai hubungannya dengan ayahnya terkesan datar dan sangat normatif. Namun berbeda dengan realitanya serta dengan apa yang diaplikasikannya di kehidupan sehari-harinya. Kemudia diperparah dengan posisi ayahnya yang sedang berada diluar daerah karena urusan bisnis. ayahnya sering mengingatkan agar dia tetap santun dan sopan dalam bersikap kepada orang yang usianya lebih dewasa, namun kenyataanya berbeda.

Dia kerap kali berkata kasar bahkan kepada ibunya sendiri, dan tak jarang ibunya sering curhat kepada saya bahwa dia bingung dengan sikap anaknya yang sering berkata kasar bahkan ibunya tersebut bilang kalau dia sakit hati dengan sikap anaknya tersebut. hal ini mungkin dikarenakan tidak adanya sosok yang disegani atau ditakuti dirumah sehingga dia merasa bebas untuk melakukan dan bersikap sekehendak dia.

Kemudian tentang relasinya dengan adiknya, menurut penilaian saya yang cukup berusaha berkomunikasi dengan adiknya, terkesan bahwa hubungan mereka hanya sebatas jika ada keperluan saja dan terkesan pasif. Kuarang adanya komunikasi yang cukup baik. Sehingga terkesan memperkeruh relasi mereka ketika sedang berkumpul di rumah, karena memang mereka jarang sekali berkumpul dan berkomunikasi.

Kemudia tentang hubungannya dengan saya sendiri. Mungkin layaknya hubungan pasangan muda-mudi yang umumnya mengalami pertengkaran atau konflik yang hadir dan mewarnai hubungan suatu hubungan, hanya saja bedanya pada intensitasnya yang lebih sering. Awalnya saya menganggapnya biasa, tapi kemudian saya merasa mulai aneh karena intervalnya sangat rapat antara satu konflik dengan konflik selanjutnya.

Setelah saya mencari tahu ternyata memang dia memiliki masalah dengan hubungan sebelum dengan saya. Setelah saya usut ternyata dia pernah memiliki hubungan yang melanggar norma kesusilaan. Saya cukup terpukul dengan itu dan kecewa mendalam awalnya saya berusaha tetap menjalani dan tetap bertahan namun pada akhirnya kandas karena ada pihak ketiga.

Dari semua kenyataan dan fakta pada kasus yang saya angkat ini, hal yang bisa di garis bawahi, bahwa keberadaan orang tua yang lengkap dan ikut serta dalam proses pendewasaan anak sangatlah penting, mengapa demikian? Dari kasus tersebut faktor utama yang melatar belakangi adalah posisi orang tua yang terpisah, ayah berada di luar daerah karena keperluan kerja, sedangkan ibu sibuk dengan bisnisnya, sehingga komunikasi sangat rendah.

Hal yang saya kritik dari sikap orang tuanya yang terkesan diam ketika anaknya berbuat kesalahan,dengan alasan tak ingin membuat mental anaknya drop, tapi yang terjadi si anak malah merasa apa yang dia lakukan tidak salah dan normal-normal saja, padahal dalam tatanan norma yang ada dan diakui secara umum oleh masyarakat, beberapa tindakan yang dia lakukan merupakan tindakan pelanggaran norma yang serius dan cukup berat.

Apakah diam merupakan bentuk kasih sayang? Sebaliknya apakah marah itu adalah bentuk kebencian? Kadang kita tidak cukup dewasa untuk memahami keduanya. Jika mengutip pandangan umum teori behaviorisme yang berendapat bahwa prilaku manusia dapat dikembangkan dengan menggunakan hadiah atau reward dan dikurangi menggunakan hukuman atau punishment. Maka harusnya ada solusi dari permasalahan seperti ini.

Jika orang tua hanya diam tanpa ada tindakan sama sekali entah itu pemberian reward untuk setiap perbuatan yang baik sehingga dapat terus berkembang dan punishment untuk perbuatan yang buruk agar dapat berkurang, apakah pola prilakunya dapat dengan benar kita bimbing sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab? Mari kita pikirkan kembali.

Berkaca dari salah satu ajaran di dalam paham filsafat cina yaitu konfusianisme yang berbunyi “jangan pernah lakukan pada orang lain, hal yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu”. Jadi jika ingin memiliki hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak anda, jangan pernah mendiamkan dan terkesan pasif karena alasan sayang, karena anak akan cenderung melakukan hal yang sama kepada anda namun dengan motif yang sangat berbeda.

Di akhir saya mengambil beberapa konklusi dari pengalaman saya ini dan menjadikannya sebagai bahan refleksi terhadap permasalahan orang tua dan anak. Karena bagi saya salah satu faktor lahirnya generasi yang unggul diawali dengan keluarga yang harmonis dan komunikatif, karena karekter anak akan dibentuk mulai dari keluarga, jika keluarga harmonis, maka segala kegiatan postif dan proses pembelajaran juga akan terfasilitasi dengan baik.