Petani, Tanam kata
1 bulan lalu · 235 view · 4 min baca · Seni 77336_15413.jpg
Webgram

Ketika Puisi Bekerja

Tampaknya penyair dan penyihir tak ada bedanya. Kata-katanya ibarat mantra.

Sampai tulisan ini saya ketik, saya belum seutuhnya ketika saya hendak membicarakan kekuatan puisi. Saya bak seekor lebah di safanah bunga, semua tampak menggiurkan untuk dicicipi sarinya, tetapi karena bingungnya, saya hanya di udara sampai sayapku lelah.

Seperti itulah analoginya. Inspirasi datang secara beruntun, banyak ide, banyak referensi. Saking banyaknya, saya jadi tak tahu harus memulai dari mana. Bahkan ketika kutulis semuanya tak akan pernah cukup.

Begitulah sehingga tulisan ini berkali-kali saya hapus. Mengganti judul dan prolog, Isi dan bahkan sampai semuanya.

Pada mulanya, saya ingin menulis tentang puisi dalam jejak kemerdekaan. Hanya sekerucut itu. Menceritakan tentang bagaimana puisi telah mengantar Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Mengingat tak lama lagi  dirgahayu Indonesia. Momentum yang pas.

Ketika tema itu yang saya angkat, maka momoknya ialah Chairil Anwar. Tentang bagaimana dia diburu oleh penjajah karena puisinya yang dia sebar di kertas-kertas, bahkan di tembok-tembok.

Lelaki itu adalah binatang jalang di mata penjajah Jepang. Puisi-pusisnya telah tumbuh sebagai pohon perlawanan di kepala pribumi. Akarnya menyerabut ke urat-urat dan berbuah sebagai kepalan tinju.

Pada masa itu, Chairil Anwar adalah seorang penyair yang memang mendapat pengakuan orang di sekitarnya. Tapi mesti begitu, secara resmi, karya-karyanya sedikit yang bisa terbit.

Secara umum, pada masa Chairil Anwar, karya sastra digunakan sebagai media propaganda. Karya-karya, baik itu berupa sajak, syair, puisi, bahkan cerpen dan novel, diciptakan sebagai media menumpahkan kegelisahan para sastrawan untuk merdeka. 


Sebelum terlalu jauh, di bagian ini ada baiknya kita memahami dulu apa itu puisi, sajak, dan syair. Mengingat betapa banyak di antara kita yang tak bisa membedakan ketiganya, termasuk saya sendiri. 

Setelah beberapa referensi, akhirnya saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya syair adalah puisi itu sendiri, tetapi puisi lama yang tak terikat oleh rima. Sajak pun begitu, tetapi dia muncul sebagai bentuk lain dari puisi yang lebih bebas. 

Sementara puisi yang dijadikan rujukan untuk mengartikan keduanya adalah karya sastra yang lebih padat, punya aturan, bersifat liar, dan kaya makna. Sehingga puisi adalah batang tubuh dari sajak dan syair, sehingga sajak dan syair bisa juga disebut puisi. 

Namanya juga kesimpulan, sesimpul itu saya memahami. Dan memang tulisan ini bukan untuk membahas itu, tetapi membahas bagaimana ketika puisi itu bekerja.

Lanjut pada karya-karya sastra yang terus didirahimkan Chairil Anwar. 

Dia didiskriminasi oleh Jepang. Pada karya-karyanya itu tercium aroma perlawanan. Maka Jepang membentuk Kenpaitai atau Djawa Shinbunkai untuk mengawasi segala bentuk aktivitas para sastrawan.

Salah satu puisi Chairil Anwar yang berhasil terbit tetapi kemudian dimusnahkan adalah puisi yang berjudul Siap Sedia.

Siap sedia.

Kawan-kawan
Dan kita bangkit dengan kesadaran,
Mencucuk menerang hingga belulang.
Kawan-kawan.
Kita mengayun pedang ke dunia terang.

Ini salah satu puisi Chairil Anwar yang berusaha dia samarkan. Usahanya berhasil dan puisinya terbit. Tetapi tak lama kemudian, Gunsereibu memahami makna yang tersirat dalam puisi itu. Gunsereibu merupakan lembaga yang lebih tinggi dari kenpaitai yang telah mencium aroma perlawanan dalam puisi Siap Sedia. (Jassin, 1969)

Tapi bagaimanapun, Jepang mendiskriminasi. Apa lagi yang bisa diperbuat? Tinta telah ditorehkan. Puisi telah tumbuh. Tak terbit di koran, di potongan kertas dan tembok-tembok pun jadi. Sebegitu aktifnya para sastrawan kita di jalur memperjuangkan kemerdekaan.

Dan tidak sia-sia. Puisi telah bekerja. Tidak seperti pedang yang melemahkan lawan, tetapi sesuatu yang membangkitkan semangat juang. 

Dan pada bagian ini, puisi seakan menyampaikan bahwa dalam pertarungan, kemenangan yang terhormat bisa diraih bukan karena lemahnya lawan, tetapi karena seberapa kuatnya kita.

Termasuk semangat yang telah tumbuh di hati Soekarno, sang proklamator, sahabat Chairil Anwar.


Persetujuan dengan Bung Karno

AYO! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan Bicaramu
di panggang di atas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu dizatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu diuratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh.

Kemudian, puisi yang kekuatannya saya kerucutkan pada kemampuan dia mempersembahkan kemerdekaan tak berhenti di sini. Seperti yang saya tulis di prolog di atas.

Cerita yang cukup berkorelasi dan tak kalah menariknya datang dari kisah di jaman Rasulullah. Dialah Hassan Bin Tsabit. 

Suatu waktu, Rasulullah mendapatkan perlakuan tak baik dari penduduk Makkah. Tapi Rasulullah tak berniat melawan dengan cara kekerasan. Maka Baginda mengundang Hassan Bin Tsabit. 

Ketika bertemu, Rasulullah berkata, “Wahai Hassan, padamkanlah kedengkian mereka dengan sajak-sajakmu. Sebaliknya, bangkitkanlah semangat sahabat-sahabatku dengan sajak-sajakmu.”

Hassan menjawab, “Demi Allah yang mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan menghentikan mereka dengan puisiku, bagaikan sayatan di kulit mereka.”

Dari kisah ini kita bisa memahami, puisi benar-benar dipercayai mempunyai kekuatan.

Apakah hanya itu? Tidak! Tempat di mana puisi itu disebut Waka atau Haiku oleh masyarakat Jepang, di mana puisi itu disebut kanshi oleh msmsayaraka Cina, orang Yunani menyebutnya Pooima, Rhyme di Eropa, atau di mana pun dan apa pun namanya, puisi punya jejak tersendiri. 

Dan tentu saja kita sama-sama tahu betapa banyak amarah yang kemudian luluh dengan kata-kata. Betapa kata-kata telah menumbuhkan kembali asa yang sebelumnya patah. Dan sangat mungkin, Anda adalah bentuk dari kerja puisi yang dulu bersarang di kepala ibu Anda. 

Sehinga, sekali lagi saya katakan, penyair tak lampau berbeda dengan penyihir. Kata-katanya bagaikan mantra.

Artikel Terkait