Penulis
2 minggu lalu · 6037 view · 3 menit baca · Politik 83116_40560.jpg
Kaskus

Ketika Prabowo Dikeroyok

Dinamika politik nasional akhirnya mencapai titik klimaks. Prabowo yang awalnya di atas angin bersama Partai Demokrat kini dalam posisi sebaliknya. Setelah hasil quick count menempatkan Jokowi-Ma'ruf sebagai pemenang, SBY bermanuver. Saya tidak terkejut karena memang begitu tabiat SBY. 

Saya pernah ngobrol dengan Ruhut Sitompul. Menurutnya, soal pencalonan AHY sebagai Cagub DKI Jakarta (2017) terlalu maksa. SBY memang ingin anaknya atau paling tidak keluarganya yang memang tampuk kekuasaan. Coba lihat saja struktural Partai Demokrat hari ini.

Kalaupun bukan keluarga, harus orang yang bisa dicucok hidungnya. Namun Anas Urbaningrum tak ingin itu. Bagi Anas, meritokrasi merupakan ciri demokrasi yang sehat. Sementara SBY ingin dinasti dipertahankan. Dampaknya, Anas harus digusur dari partai tersebut dengan cara-cara yang kurang sehat.

Kekalahan kandidat yang didukung SBY membuatnya berang. Meski anaknya sebagai Sekjen partai, namun SBY tak senang dengan sikap Anas yang belakangan sangat mendominasi. Merasa kecolongan, SBY menyusun strategi yang akhirnya menjebloskan Anas ke penjara melalui KPK. 


Kini, SBY kembali beraksi. Setelah Prabowo dianggap tidak mau mendengar titahnya, SBY segera menyusun strategi. 

Awalnya SBY ingin putra sulungnya AHY menjadi pendamping Prabowo dalam Pilpres 2019. Namun, Prabowo ternyata tak sebodoh yang SBY pikirkan. Prabowo malah memilih Sandiaga Uno yang satu partai dengannya.

Sebenarnya saat itu SBY sudah kecewa. Akan tetapi, demi anaknya yang bisa terganjal syarat nyapres pada 2024 bila tak mendukung salah satu pasangan, SBY dengan berat hati mendukung Prabowo-Sandi. Dukungan seperempat hati kepada Prabowo-Sandi sebenarnya sangat nyata. Hanya saja, Prabowo-Sandi tidak mempersoalkan itu.

Kini SBY sudah kelihatan 'belangnya'. Bukannya mempersoalkan data input yang kerap kali salah, SBY malah menginstruksikan 'serdadunya' menyerang Prabowo. Tetapi menyerahkah Prabowo? 

Sejauh ini Prabowo-Sandi masih enjoy menghadapi pertempuran Pilpres 2019. Bagi Prabowo, serangan politik hal yang bisa. Soal dikhianati, ia juga sudah sering merasakan.

Sekarang yang tampak panas malah Partai Demokrat. Kubu Jokowi malah tenang-tenang saja. 

Ya, Demokrat mesti berkeringat jika ingin Jokowi memberikan kursi menteri. Itu pun bila Jokowi-Ma'ruf yang menang. Sementara 'serdadu-serdadu' SBY terus menyerang, Prabowo menyerang dengan lebih elegan. Ia mengundang media internasional.

Semua analis bakal bertaruh untuk Jokowi yang kini didukung SBY. Selain SBY, dua jenderal yang tampak terang-terangan 'panas' dengan Prabowo ialah Wiranto dan Hendropriyono. Wiranto melalui kekuasaan sedikit mengancam, sementara Hendropriyono tiba-tiba bermain politik identitas. Ia ingin WNI keturunan Arab jangan menjadi provokator.  

Kedua jenderal yang mulai frustrasi itu sedang berbagi peran. Wiranto yang partainya babak belur dalam pileg tampak ketakutan meski di permukaan ia sedikit wibawa. 


Hendropriyono yang menantunya punya pasukan tiba-tiba melucu soal WNI keturunan Arab. Sementara 'serdadu' SBY yang kerap melontarkan serangan tajam, Andi Arief, mulai "berkicau'. Andi Arief yang pernah ditangkap dalam dugaan penggunaan narkoba sedang berdrama.

Mereka yang waras pasti bisa membaca 'drama' Andi Arief soal Prabowo. Ia ingin menciptakan opini dengan tujuan melemahkan sekaligus memanasi pendukung Prabowo-Sandi. Sayang, usahanya tak berpengaruh, Prabowo-Sandi terus fokus pada manual count

Prabowo-Sandi juga diserang ketika Ijtimak Ulama III berhasil menetaskan rekomendasi. Said Aqil Siradj dengan cepat mengumpulkan ulama NU untuk menangkal putusan Ijtimak Ulama III. 

Satu per satu pendukung Prabowo-Sandi akan diproses hukum, sebut saja Ustaz Bachtiar Nasir. Upaya pelemahan terhadap Prabowo dan pendukungnya sejauh ini belum berhasil. Meski Mahfud MD sudah turun, namun Prabowo malah santai-santai saja.

Meski dikeroyok kanan-kiri dan muka-belakang, saya belum melihat tanda-tanda Prabowo-Sandi bakal menaikkan bendera putih. Tipikal prajurit dan pengusaha memang begitu, bangkrut bagi Sandiaga itu biasa, kalah dalam perang bagi Prabowo biasa. 

Bagi SBY maupun Jokowi, kekalahan merupakan aib. Masa sih penguasa sekarang dan mantan penguasa selama 10 tahun dikalahkan Prabowo-Sandi?

Lalu bagaimana strategi Prabowo menghadapi dua raksasa dan serdadu-serdadunya. Menurut saya, Prabowo-Sandi akan memberi kejutan menarik. Pasalnya, masih ada 'pemain' syarat pengalaman di barisan Prabowo-Sandi. Amien Rais masih punya stok strategi. Selain itu, Prabowo-Sandi didukung serdadu-serdadu militan. Mereka siap turun ke jalan untuk berorasi di mimbar jalanan.

Psywar akan terus berlangsung. TNI-Polri akan berhitung: siapa yang harus mereka dukung ketika perang Baratayuda terjadi? Dalam perang Badar, pasukan umat Islam memang kecil, namun semangat mereka besar. Terjadi pada bulan Ramadan, bukan mustahil perang Badar ala umat Islam Indonesia akan terjadi.

'Pengeroyokan' yang dilakukan terhadap Prabowo merupakan hal yang lumrah dalam politik. Siapa kuat uang dan massa dipastikan akan memenangkan perang. 


Kita berharap pertarungan para elite tidak menimbulkan korban jiwa, nyawa, apalagi bangsa. Perilaku elite patut menjadi bahan renungan sekaligus catatan demokrasi kita. 

Bagaimana menurut Anda? Apakah SBY yang akan menang atau malah Prabowo membalikkan hasil pertandingan dan menang?

Artikel Terkait