1 tahun lalu · 834 view · 3 min baca menit baca · Politik 18576.jpg
Jokowi-JK tampil khas dengan pakaian adat tradisional (Bone-Solo) di Sidang Tahunan MPR RI 2017. Foto: Biro Pers

Ketika Politisi Menyinyir Lawannya dengan Doa

Setidaknya sudah 3 (tiga) kali ada doa para politisi negeri ini yang bernuansa nyinyiran. Hanya karena memandangnya sebagai lawan, apa pun hal bisa jadi alat serang, termasuk gunakan doa sebagai senjata.

Adalah Jokowi dan Ahok yang pernah mengalami laku yang demikian. Dua politisi berkarakter pekerja keras untuk rakyat ini acapkali dapat serangan dari lawan-lawan politiknya. Ya, kebanyakan dibangun meski dengan cara yang tidak semestinya.

Ritual berdoa, apakah layak orang gunakan sebagai ajang tebar prasangka negatif hingga fitnah? Di ritual yang mayoritas orang anggap sarangnya sakralitas, yang idealnya mengedepankan kepasrahan dan keikhlasan, justru dibalut oleh para politisi yang ambisius dengan beragam macam bumbu ketidaksenonohan.

Tepat di Sidang Tahunan MPR RI 2017, Rabu (16/8), Jokowi mendapat serangan brutal seperti itu dari politikus bernama Tifatul Sembiring. Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR RI ini menghantam Presiden Jokowi dari sisi yang sama sekali tak pantas—semacam argumentum ad hominem.

Ya allah, ya mutakabbir. Beri petunjuk Presiden RI bapak Joko Widodo. Gemukkanlah badan beliau karena kini terlihat semakin kurus. Padahal tekad beliau dalam membangun bangsa dan negara ini tetap membaja untuk maju terus agar menjadi bangsa yang adil, makmur, sejahtera.

Menyinggung pula soal kasus pentersangkaan dan penangkapan sejumlah aktivis “Aksi Bela Islam”. Di sini, terkesan yang hendak Tifatul katakan, aktivis-aktivis tersebut adalah ulama yang tidak selayaknya dikriminalisasi.

Tanamkan rasa sayang pada rakyat, sayang kepada umat, mencintai dan menghormati ulama yang istiqomah, sebab ulama itu adalah pewaris nabi. Tunjuki beliau, ya allah, agar tetap berlaku adil sebagai pemimpin negeri yang kami cintai ini.

Tak sampai di situ, Tifatul juga menyindir-serta Wakil Presiden Jusuf Kalla dari segi umur. Lagi-lagi, argumentum ad hominem yang Tifatul kembali pasang dalam nada-nada nyinyirannya.

Ya allah, bantulah Wakil Presiden kami bapak Jusuf Kalla. Meskipun usia beliau tergolong tua, tapi semangat beliau masih membara.

Terhadap itu, Jokowi hanya merunduk seperti padi menguning-berisi, khidmat dengar doa “mulia” dari sang akhi. Sementara Jusuf Kalla, yang duduk bersampingan dengan Jokowi, tampak menengadahkan tangan sembari tersenyum halus mendengar bunyi-bunyian Tifatul.

“Amin,” mungkin seperti itu respons mereka atas doa Tifatul yang digumam secara politis. Entahlah.

Persis di acara yang sama, politikus Partai Gerindra Muhammad Syafi’i juga pernah berlaku serupa. Di Sidang Tahunan MPR RI 2016 silam, Syafi’i yang kala itu juga bertugas membacakan doa penutup seperti Tifatul, menyinggung kinerja Jokowi sambil selipkan nyinyiran terhadap Kepala Negara Indonesia ini.

Jauhkanlah kami dari pemimpin yang khianat, yang memberi janji-janji palsu, yang memberi harapan kosong. Jauhkanlah kami, ya allah, dari pemimpin yang khianat, yang kekuasaannya bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, dan seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat.

Politikus yang pernah mengklaim kasus chat mesum Rizieq-Firza adalah rekayasa ini juga menyelipkan soal bentrok antara warga dengan aparat negara dalam doanya. Itu terkait masalah penertiban di Medan, Sumatera Utara.

Di mana-mana, rakyat digusur tanpa tahu ke mana mereka harus pergi. Di mana-mana, rakyat kehilangan pekerjaan, ya allah. Di negeri yang kaya ini, rakyat ini outsourching, wahai allah, tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat.

Pun demikian apa yang juga pernah dialami oleh Ahok sebelum dirinya dijebloskan ke penjara karena video rekayasa Buni Yani. Terhadap Ahok, doa itu datang dari politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais.

Bertindak sebagai khatib salat Idul Adha di masjid Rumah Sakit Islam Sukapura, Jakarta Utara (12/9/2016), Ketua Dewan Kehormatan PAN itu singgung isu Pilkada DKI Jakarta 2017. Ia (seolah) mengingatkan para jamaah untuk tidak salah dalam memilih pemimpin, padahal sebenarnya hanya ia jadikan sebagai ajang kampanye gelap (black campaign).

Pilih yang jujur, yang cinta rakyat kecil. Yang bukan tukang gusur, bukan yang meladeni kepentingan pemodal.

Tapi, tak seperti Jokowi yang hanya tampak pasrah dengar nyinyiran lawan politiknya, atau seperti JK yang hanya bisa menebar senyum halus, Ahok justru memberi repons. Sebab, bukan Ahok namanya jika tidak lakukan serangan balik.

Usai mendengar kabar Amien melantungkan kampanye gelapnya lewat doa, Ahok langsung layangkan pesan agar masjid tidak ia gunakan sebagai sarana berpolitik praktis. Bahwa masjid, sesuai imbauan MUI, juga khotbah, tidak boleh dipolitisasi sedemikian rupa hanya untuk menyerang lawan politik semata.

Ketua MUI Ma’ruf Amin pada saat itu juga langsung beri responsnya. Ia katakan, sebaiknya khatib (Amien Rais) menyampaikan hal-hal yang bersifat umum dalam berkhotbah, bukan hal-hal spesifik yang bisa menyerang orang per orang.

Begitulah ketika politisi menggunakan hal-hal, yang semestinya sakral, malah jadi senjata menyerang lawan-lawan politiknya. Tak ada kata batasan. Apa pun cara bisa jadi halal. Itulah cermin politisi kolot, politisi yang apolitis.

Artikel Terkait