2 tahun lalu · 538 view · 5 menit baca · Politik harian.analisadaily.com_.jpg
Foto: harian.analisadaily.com

Ketika Politik Mengubah Media Menjadi Boneka

Media massa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, yang telah memberikan pengaruh yang begitu hebat. Masyarakat sangat mudah percaya dengan apa yang ditampilkan oleh media massa. Ditambah lagi kini media massa telah mengalami perkembangan begitu pesat, sehingga mampu membentuk opini publik melalui tayangan yang disajikannya.

Televisi merupakan salah satu media massa yang paling besar memberikan pengaruh serta paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas. Di era reformasi saat ini TV tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai pesan saja, tetapi juga berfungsi sebagai penarik dukungan massa.

Beberapa kalangan yang mempunyai kekuasaan akan menjadikan media massa sebagai alat untuk mendapatkan dukungan di ranah politik. Sebagaimana telah diketahui bahwa kepemilikan media merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kekuasaan, karena media massa merupakan alat yang utama dalam membentuk opini publik.

Strategi Baru Menarik Dukungan Massa

Pemilik media massa sebenarnya memiliki kemampuan untuk memenangkan persaingan politik di Indonesia. Kita tahu bahwa di Indonesia ada beberapa stasiun televisi yang pemiliknya berkecimpung di dunia politik.

Metro TV yang dimiliki oleh Surya Paloh, di mana Surya Paloh menjabat sebagai ketua umum Partai Nasional Demokrat (NasDem), dan TVOne milik keluarga Bakrie, di mana Aburizal Bakrie juga sebagai ketua umum Partai Golongan Karya, merupakan dua stasiun TV berita terbesar di Indonesia. Tayangan berita yang disajikan oleh dua stasiun TV tersebut mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat.

Ironisnya, berita yang ditayangkan oleh media massa sering kali diragukan kebenarannya, dan banyak dari masyarakat yang menerima begitu saja apa yang disampaikan oleh media massa. Ini merupakan peluang yang dapat dijadikan sarana oleh pemiliki media yang kebetulan berkecimpung di ranah politik untuk melakukan kampanye terselubung.

Masih ingat ketika Pemilu tahun 2004, media massa begitu gencar memberitakan siapa saja yang jadi calon Presiden dan Wakil Presiden, serta apa saja yang menjadi visi dan misi mereka. Politik pencitraan yang dilakukan oleh beberapa calon Presiden dan Wakil Presiden melalui media massa ternyata begitu efektif untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Terbukti dengan terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan wakil presiden RI periode 2004-2009. Pada pemilu 2009, politik pencitraan lagi-lagi terbukti efektif menjadikan SBY terpilih lagi untuk periode kedua yaitu 2009-2014.

Tayangan media yang disajikan secara terus menerus telah mampu membentuk pola pikir masyarakat terhadap setiap fenomena yang terjadi. Masyarakat dengan mudahnya percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh media massa. Meskipun saat ini masyarakat sudah mulai memiliki pemikiran yang cerdas dan pengaruh yang diberikan oleh media mulai menurun, tetapi pengaruh tersebut tidak serta merta hilang begitu saja.

Aspek inilah yang dijadikan sebagai landasan bagi pemilik media untuk melakukan kampanye menuju Pemilu-pemilu selanjutnya. Kita bisa lihat bagaimana satu per satu pemilik stasiun TV mulai terjun ke ranah politik. Trans Corp. yang dipimpin oleh Chaerul Tanjung dan MNCTV Group (RCTI, Global TV, dan MNCTV) milik Hari Tanoesudibyo, sudah ikut pula bergabung dengan partai NasDem.

Pencitraan Menggunakan Media Massa

Ungkapan “Pemilik Media adalah Penguasa Dunia” memang benar adanya. Karena media massa mampu membentuk opini publik, media massa merupakan sumber informasi di dunia, sehingga tidak sulit bagi para pemilik media untuk meraup suara yang signifikan pada pemilu nanti. Pencitraan menjadi sebuah cara yang unik di mana sebenarnya pencitraan telah lama digunakan dalam setiap kampanye.

Tetapi, pencitraan dalam politik baru menjadi sebuah trend ketika Presiden SBY sukses menjadi presiden Indonesia dua periode berturut-turut. Hal inilah yang menyebabkan munculnya politik pencitraan. Propaganda melalui media dengan mensosialisasikan bentuk-bentuk solusi terhadap permasalahan yang melanda negara Indonesia mulai dilakukan oleh partai-partai pemilik media. Hal tersebut sekaligus juga sebagai kampanye terselubung bagi mereka.

Dengan citra yang sudah terbentuk sedemikian rupa, maka bukan hal yang mustahil seorang pemilik media bisa sukses meraup dukungan rakyat, dibandingkan dengan politikus murni yang sudah lama berkecimpung di dunia politik. Konsep pemahaman masyarakat terhadap pemberitaan media yang masih terkesan polos, merupakan peluang besar untuk melakukan orasi dan pembentukan citra terhadap publik.

Orator-Orator Hebat Mulai Bermunculan, Media Massa sebagai ‘Boneka’ Politik

Orator ulung mulai bermunculan untuk menciptakan citra yang mampu membius masyarakat. Tayangan yang paling banyak menyajikan bentuk-bentuk pencitraan ini adalah debat calon presiden. Para pengamat menyatakan kemenangan presiden Kennedy pada tahun 1960 sebagian dikarenakan keberhasilannya dalam debat presiden di televisi dengan Richard Nixon.

Dari peristiwa di Amerika tersebut bisa kita lihat bagaimana kemudian cara itu diadaptasi di Indonesia. Orator-orator ulung mulai ‘bekerja’ merangkai kalimat-kalimat yang begitu mempengaruhi para penonton, menyajikan visi dan misi, menyatakan sebuah solusi dan membentuk citra di hadapan publik.

Dengan melihat fenomena-fenomena tersebut, bisa disimpulkan bahwa pemilik media merupakan pihak yang memiliki peluang paling besar untuk meraup keuntungan di dunia politik. Kemunculan Partai Nasional Demokrat yang dipimpin oleh Surya Paloh merupakan lawan berat bagi Partai Demokrat yang notabene tidak memiliki media massa.

Ditambah lagi Surya Paloh, juga merangkul pemilik media massa lain seperti Trans Corp (dipimpin Chaerul Tanjung) serta MNCTV Group (dipimpin oleh Hari Tanoesudibjo). Belum lagi Aburizal Bakrie sebagai pemilik TVOne dan ANTV. Sehingga bukan perkara sulit bagi mereka untuk membentuk citra di hadapan publik. Pembentukan opini publik melalui orasi-orasi menjadi semacam teknik jitu dalam mempersiapkan diri untuk maju ke kancah pemilu .

Strategi ‘tebar pesona’ menggunakan media massa seperti TV saat ini menjadi sebuah cara yang cukup jitu untuk meraup suara. Kondisi masyarakat Indonesia yang masih memiliki ketergantungan begitu besar kepada media menyebabkan masyarakat Indonesia begitu mudah terpengaruh oleh politik media tersebut.

Orator ulung, solusi terhadap permasalahan yang ada di tengah masyarakat, dan berbagai janji-janji mulai ‘dipersembahkan’ ke rakyat, melalui media massa tentunya. Semua itu dilakukan untuk membentuk citra dan tujuan akhirnya adalah masyarakat mendukungnya untuk menjadi presiden, dan partainya menjadi pemenang di Pemilu.

Media massa di era reformasi saat ini sudah dapat dikatakan mulai kehilangan tingkat objektivitasnya. Apalagi ketika media massa sudah mulai menyentuh ranah politik (dalam artian pemilik media tersebut sudah mulai berkecimpung di ranah politik), maka tidak menutup kemungkinan tayangan-tayangan yang disajikannya bertujuan untuk menggiring opini masyarakat ke arah pembentukan citra, dengan tujuan akhirnya adalah mendukung di Pemilu nanti.

Ketika media massa dijadikan boneka politik, maka masyarakat akan ‘dipaksa’ menyaksikan tayangan-tayangan yang berisikan kampanye terselubung, baik dalam bentuk berita maupun tayangan iklan-iklan yang membentuk citra dari pemiliki media tersebut. Hal itu membuat banyak kalangan masyarakat merasa jenuh dengan hal-hal yang berbau politik. Alasannya sudah bisa ditebak, banyak sekali janji-janji yang tidak pernah terpenuhi ketika mereka masih kampanye.

Dengan adanya fenomena semacam ini, maka media massa cenderung mengalami perubahan fungsi. Tidak hanya sebagai penyampai informasi pada masyarakat, melainkan berfungsi pula sebagai “boneka politik” yang bertugas untuk meraup keuntungan berupa kekuasaan di masyarakat.

Maka saran saya adalah masyarakat harus memiliki kemampuan dan kecerdasan dalam mengkonsumsi informasi dari media, agar terhindar dari bentuk-bentuk konstruksi sosial media massa berupa kampanye terselubung.

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait