Hal yang sedang ramai dibicarakan publik saat ini adalah poligami. Kehebohan netizen menyoal poligami berawal ketika ustaz Arifin Ilham memperkenalkan istri ketiganya. Berbagai nyinyiran dan kritikan pun santer ditujukan kepadanya.

Hal ini juga yang menggelitik saya untuk menulis karena perdebatan panjang terkait poligami tak kunjung selesai untuk dikupas di linimasa media sosial. Saya menyadari bahwa pro-kontra akan selalu ada, karena penyeragaman pendapat adalah hal yang mustahil dicapai. Apalagi negara ini menganut demokrasi, jadi perbedaan pendapat selayaknya harap dimaklumi.

Kontroversi poligami yang akhir-akhir ini dilakukan oleh para pemuka agama (baca: ustaz seleb) mendorong terjadinya diskusi publik para netizen. Tentu kita masih ingat ketika publik dikejutkan dengan berita poligami yang dilakukan oleh Aa Gym, hingga digugat cerai oleh istrinya.

Banyak publik yang kecewa dengan kabar poligami da’i kondang tersebut, kemudian dibarengi dengan santernya pemberitaan kebangkrutan usaha yang dikelola Aa Gym serta berkurangnya jama’ah yang menghadiri dakwahnya.

Selain Aa Gym, beberapa waktu lalu netizen juga dikagetkan dengan praktik poligami diam-diam tanpa sepengetahuan istri sah yang dilakukan oleh ustaz Al Habsyi dan penyanyi religi Opick. Melakukan poligami secara diam-diam adalah tindakan kebohongan dan ini jelas bentuk kejahatan perkawinan.

Ditambah lagi, kini praktik poligami kembali dilakukan ustaz Arifin Ilham yang notabene dikenal publik sebagai pemuka agama. Rentetan peristiwa poligami yang marak terjadi di kalangan ustaz seleb tersebut bisa menjadi preseden buruk yang mencoreng citra agama Islam.

Mereka yang pro-poligami lebih banyak menggunakan dalih agama untuk melegitimasi dibolehkannya praktik poligami tersebut. Ayat yang biasa digunakan sebagai senjata para pihak pro-poligami untuk membenarkan poligami ialah surat An-Nisa: 3 yang biasanya hanya dipahami secara parsial.

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” [QS. An-Nisa’: 3].

Interpretasi akan sebuah ayat selama ini memang tidak pernah tunggal karena banyak perdebatan di kalangan ahli tafsir kitab suci itu sendiri. Meskipun secara eksplisit Islam membolehkan poligami, namun saya mengacu pada hasil kongres ulama perempuan se-Indonesia yang diselenggarakan bulan April 2017 lalu menyepakati bahwa di ujung ayat tersebut juga mengandung pesan yang sangat kuat bahwa sesungguhnya Islam mengajarkan monogami bukan poligami.

Sayangnya karena tafsir-tafsir agama, wacana, atau discourse kebanyakan lebih didominasi oleh ulama laki-laki, maka suara ulama perempuan tidak banyak didengar, dan dakwah terkait tafsir ayat perkawinan monogami tidak banyak dimunculkan.

Lebih lanjut lagi, dalam kongres tersebut juga dijelaskan bahwa akar poligami bukan berasal dari tradisi Islam, sebab tradisi poligami sudah dilakukan sejak sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Poligami juga bisa ditemukan pada banyak kebudayaan di berbagai negara. Jadi, ketika para pelaku poligami menggunakan dalih karena sunnah Nabi, pertanyaannya adalah sunnah yang bagaimana? Pembenaran seperti ini justru sangat kontradiktif dan menggelikan.

Di Indonesia sendiri poligami memang bukan sesuatu yang dilarang, sekalipun dengan dalih agama. Bagi saya, poligami adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Diakui atau tidak, praktik poligami justru lebih banyak menampakkan wajah dzalim. Poligami lebih banyak membawa kemudharatan daripada kemaslahatan karena dalam perkawinan poligami banyak terjadi pengabaian dan pelanggaran hak-hak istri dalam keluarga. Selain itu, poligami juga memicu terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang bisa berupa kekerasan seksual, fisik, psikis, dan ekonomi bagi perempuan.

Budaya patriarki yang mendukung suburnya poligami semakin melegitimasi poligami dan memberikan ruang bebas bagi para pelakunya. Pemberian kuasa penuh kepada laki-laki telah menempatkan perempuan yang dipoligami terjerat dan tertindas.

Posisi perempuan yang tersub-ordinat dalam lembaga perkawinan nampak jelas terlihat ketika ketaatan seorang istri dinilai dari kepatuhan terhadap perintah dan (ke)terpaksaan menyetujui keinginan suami, termasuk keinginan suami untuk berpoligami. Sebagai makhluk yang berkedudukan setara, perempuan seharusnya diberikan hak untuk memutuskan sesuatu di dalam keluarga, bukan bergantung pada keputusan suami.

Mereka yang mengatakan bahwa poligami bertujuan untuk menaikkan derajat perempuan atau tindakan untuk memuliakan perempuan dengan janji surga, maka segala macam argumen tersebut sebaiknya tidak ditelan mentah-mentah. Sebab saat ini tak jarang praktik poligami banyak yang menggunakan kedok agama sebagai pembenaran.

Ketika perempuan dianggap tidak mampu secara ekonomi dan solusi yang ditawarkan ialah dengan cara mengawinkannya lewat poligami, alih-alih mengangkat derajat dan martabatnya, hal ini justru membuat perempuan makin terperosok dalam jurang pemiskinan berkelanjutan.

Ada pula mitos yang menggunakan sex ratio sebagai landasan poligami bahwa jumlah laki-laki lebih banyak bila dibandingkan dengan perempuan. Poligami dinilai sebagai bentuk perlindungan dan penyelamatan untuk kaum perempuan karena takut akan kehabisan pasangan.

Faktanya, mitos tersebut sudah terbantahkan dengan adanya data terkini dari CIA World Factbook pada Januari 2016. Perbandingan populasi pria dan wanita adalah 101:100. Artinya, ada 101 pria setiap 100 wanita atau dengan kata lain “banyak perempuan akan menjadi istri dari sedikit laki-laki”.

Hingga kini perdebatan poligami memang tidak pernah selesai. Rentetan polemik poligami merupakan sejarah panjang. Di Indonesia sendiri, jejak perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam menentang poligami sudah tercatat dalam sejarah yang pernah ditorehkan oleh seorang Kartini di mana dia sangat menentang soal poligami karena dianggap menyiksa dan merugikan perempuan.

Penentangan poligami juga terjadi pada era kepemimpinan Soekarno ketika sang proklamator tersebut melakukan poligami dengan Hartini. Saat itu terjadi reaksi keras dari organisasi perempuan Perwani (Persatuan Wanita Indonesia).

Menilik catatan panjang sejarah perdebatan poligami dan akar permasalahannya, maka tak berlebihan jika poligami ditempatkan sebagai isu publik yang harus dikritisi.

Wacana poligami terus bergulir dalam berbagai isu, tak hanya isu seputar agama, namun poligami juga merupakan tentang isu kesetaraan, keadilan gender, diskriminasi, relasi kuasa, ketimpangan populasi, ledakan penduduk, ketersediaan pangan dan kesejahteraan keluarga, kualitas pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, dan juga isu kesehatan reproduksi.

Oleh sebab itu, jika sekarang banyak pihak yang menyederhanakan poligami hanya sebatas pada urusan syahwat, sunnah, pilihan individu, atau dengan dalih agama sebagai pembenaran tindakan poligami itu sendiri, hal ini tentu hanya akan membuat posisi perempuan semakin tersub-ordinasi dalam perkawinan dan problem-problem sosial yang diakibatkan oleh praktik poligami tak kunjung mendapat solusi.

Poligami tidak semudah dan sesederhana itu!

Agaknya apa yang sudah dikatakan oleh Dian Rositaningrum istri Opick cukup memberikan pelajaran bahwa dalam perkawinan, poligami perempuan adalah pihak yang paling rentan mendapat ketidakadilan dan kekerasan.

“Berpikirlah, wahai imam yang bijaksana... Poligami tidak semudah memuntahkan spermamu pada lubang yang baru ...”