1 bulan lalu · 290 view · 5 min baca menit baca · Perempuan 52971_90457.jpg
Ann News

Ketika Perempuan sebagai Pelaku Kejahatan

Beberapa waktu yang lalu, media sosial Twitter dan Instagram di Jepang dihebohkan oleh kasus Yutaka Takaoka (21), yang ditangkap pada 23 Mei 2019 karena diduga berusaha membunuh setelah menikam seorang lak-laki kenalannya yang berusia 20 tahun dengan pisau dan menyebabkan cedera serius. 

Setelah kejahatan itu, ketika pelaku dibawa ke kantor polisi, pelaku tersenyum karena suatu alasan dan mengatakan kalimat yang tidak terduga, “Aku sangat menyukainya dan tidak bisa menahan diriku (untuk membunuh laki-laki tersebut).”

Hal ini tidak hanya viral di negeri matahari terbit tersebut, namun juga di dunia ketiga ini dan seperti biasanya, dari utas yang dibuat oleh netizen. Berbagai macam pendapat terhadap utas tersebut pun beragam. 

Ada yang mengaitkan ini dengan serial anime dengan tokoh yandere terkenal di serial Mirai Nikki, Gasai Yuno; ada juga yang mengatakan senyuman sang gadis begitu manis; ada yang tidak percaya jika hal ini benar adanya dan mengira ini adalah adegan film yang dalam proses syuting.

Dari beragam komentar itu menimbulkan satu pertanyaan yang terlintas di kepala saya, "kenapa hampir sebagian besar orang (baik dia laki-laki dan perempuan seperti terkejut ketika perempuan melakukan kejahatan, kekerasan bahkan membunuh?" Saya justru tertarik dengan cara orang menyikapi, dan memiliki perspektif seperti atau seolah-olah membuat dirinya 'tidak menolerir' perbuatan yang dianggap perbuatan itu hanya dapat dilakukan oleh laki-laki dan sifatnya maskulin, dengan daya upaya yang dapat berpotensi mengakibatkan luka fisik, non-fisik, bahkan berakibat kematian. 

Tentunya, sebagian besar orang selalu percaya semua daya upaya itu hanya dihasilkan melalui kekuatan laki-laki. Ada kesenjangan dan inequality dengan sendirinya dalam hal ini.


Suatu ketika, saya mengingat sebuah kasus lama yang ada di Inggris. Berawal dari petugas polisi yang tiba di rumah Anda untuk memberi tahu Anda bahwa seorang anggota keluarga Anda telah terbunuh. Apa respons dan bagaimana Anda menyikapi hal tersebut? 

Bagi Marian Partington, selama 20 tahun ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada saudara perempuannya, Lucy. Ia hanya mengunjunginya dalam satu kali kunjungan dan itu untuk yang terakhir kalinya hingga pada Sabtu pagi di bulan Maret 1994 ia didatangi oleh petugas Kepolisian.

Lucy dilaporkan menghilang pada Desember 1973 ketika ia menunggu bus di Cheltenham. Dia berusia 21 tahun dan dalam tahun terakhirnya untuk gelar sarjana bahasa Inggris di University of Exeter. 

Dua dekade sebelum Lucy ditemukan dan kebenaran suram tentang kematiannya pun mulai terkuak. Berdasarkan laporan atau hasil investigasi, ada tanda-tanda jika ia telah mengalami penyiksaan hebat, dibunuh, dipenggal, dan dimakamkan di ruang bawah tanah 25 Cromwell Street, Gloucester, bersama dengan korban lain oleh pembunuh berantai Fred dan Rosemary West. 

Namun Fred West membunuh dirinya sendiri saat berada di penjara pada Tahun Baru 1995.

Pada bulan November tahun yang sama, Rosemary yang merupakan istri dari Fred West dinyatakan bersalah atas sepuluh pembunuhan, termasuk terhadap putrinya yang berusia 16 tahun, anak tiri perempuannya yang berusia delapan tahun dan kekasih suaminya yang tengah hamil. 

Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. (Ini juga bisa Anda baca di buku A Study Guide for Byrony Lavery's “Frozen) "Kematian Lucy adalah tentang eksploitasi seksual dan kekejaman," kata Marian. “Disiksa dengan kejam dan sadis sebelum kematiannya."

Tetapi saya tidak bisa membicarakannya tanpa menghadapi kengerian atas apa yang terjadi padanya. Satu hal besar adalah dia tidak memiliki suara. Lucy tercekik ... Saya merasa jika saya tidak berbicara tentang apa yang telah terjadi, saya mungkin juga sudah mati..." tutup Marian. 

Marian yang bekerja dengan organisasi sekuler yang disebut the Forgiveness Project dan menceritakan kisahnya kepada tahanan pria dan wanita sebagai bagian dari pekerjaan keadilan restoratif yang ia lakukan.


Pada tahun 2004, ia menulis tentang Rosemary West (yang telah menjadi tokoh yang dibenci di Inggris) sebuah surat yang penuh kasih sayang dan empati kepadanya. Namun West merespons dengan memintanya untuk tidak berhubungan lagi dengannya. 

Datang untuk berdamai dengan kejahatan itu tidak mudah. Marian mengingat komitmen West: "Saya tidak menggunakan kata-kata yang kosong dan ringan, tapi saya ingat, duduk dan mendengarkan apa yang telah dia lakukan ... dan saya bisa merasakan diri saya telah rusak oleh karena ceritanya."

Bekerja dan belajar memahami seorang pelaku kejahatan yang notabenenya seorang wanita, katanya, sangat menantang. Wanita jauh lebih kecil kemungkinannya daripada pria untuk melakukan kejahatan, tetapi tingkat kekerasan wanita yang dilaporkan di Inggris telah meningkat.

Jumlah anak perempuan dan perempuan yang ditangkap karena kekerasan meningkat lebih dari dua kali lipat antara 1999/2000 dan 2007/2008. Apakah ini mencerminkan peningkatan kekerasan per kasus sama dan atau dalam visibilitasnya (atau keduanya) banyak diperdebatkan pula. 

Seperti inti poin saya di atas, adanya gagasan tentang seorang wanita yang melakukan kekerasan, bahkan pembunuhan itu sangat mengejutkan dan pasti ada yang salah dalam proses tahapan pembentukan pribadi seorang perempuan. Tapi kenapa?

Apakah kekerasan di tangan perempuan berbeda dengan kekerasan di tangan laki-laki? Ya memang, kita tidak dapat memperlakukan kekerasan terhadap laki-laki dan perempuan sama, begitu juga oleh laki-laki dan perempuan. 

Pelaku perempuan sering kali distereotip secara kejam oleh media (seperti kasus di tanah air yaitu pembunuhan mengenai Ade Sara Suroto, pelakunya juga ada dua, yaitu Assyifa Ramadhani dan Ahmad Imam Al Hafitd, namun mereka (perempuan) dan korbannya (tentu saja) selalu dilayani, dilihat, dan ada semacam frame dengan sendirinya buruk oleh sistem peradilan pidana. Ini secara umum bukanlah hal yang baru.

Kekerasan perempuan tidak mudah dihadapi, tetapi makin banyak orang yang mengeksplorasi gagasan bahwa untuk merehabilitasi pelaku perempuan dan mendukung korban dengan lebih baik, kita harus berangkat pada pemahaman yang lebih progresif tentang apa yang membuat perempuan terluka dan atau terbunuh dan membunuh.

Di masa lalu, kekuatan dan kekerasan perempuan diakui dan bahkan dirayakan. Pejuang wanita seperti Joan of Arc, Boudicca dan pejuang Amazon adalah ikon perempuan yang keras dan tentu jauh dari kata feminine. Bahkan baru-baru ini, perempuan di masyarakat Barat dan non-Barat sering mengambil peran utama dalam dunia militer bahkan di dunia ketiga ini, kan, entah TNI atau Polri. 


Perempuan telah membuktikan bahwa mereka mampu mengerahkan kekerasan dengan cara yang tampaknya mampu dan menunjukkan pilihan dan hak untuk memilih yang kadang-kadang meski dengan cara keji. Misalnya, Nazi melatih setengah juta wanita untuk dinas militer, sekitar 3.500 di antaranya menjabat sebagai penjaga kamp konsentrasi.

Dan pada tahun 1997, catatan dari jurnalis Katharine Quarmby, saat dia mengunjungi Rwanda, tiga tahun setelah genosida di sana, ia dikejutkan oleh berapa banyak wanita yang terlibat sebagai pengamat, penghasut, dan bahkan tokoh-tokoh kunci dalam genosida sama seperti yang terjadi di Holocaust. 

Memang ada perasaan pengkhianatan ketika tahu bahwa perempuan terlibat dan tampak lebih dalam, entah bagaimana, karena perempuan tidak seharusnya melakukan kejahatan semacam itu.

Sejak tahun 1970-an, telah ada fokus pada kekerasan laki-laki terhadap anak (perempuan) dan perempuan. Dalam banyak hal, hal itu telah mengubah kerangka kerja untuk mengarakterisasi kekerasan (khususnya kekerasan dalam rumah tangga) menjadi kekerasan yang sebagian besar terkait dengan gender. 

Ini tidak mengherankan 'kesenjangan gender' dalam kejahatan faktor ini yang sering disebutkan sebagai alasanya. Namun, tidak satu pun dengan dirumuskannya hal ini juga berarti pelanggar/pelaku kejahatan seorang perempuan tidak ada dan bagaimana mereka diperlakukan telah menjadi bagian utama dari penelitian kriminologis dan penelitian terkait soal feminism legal theory.

Artikel Terkait