Beberapa pekan lalu, sohib saya mengalami peristiwa yang cukup menyita pikiran dan perhatiannya. Safraan, sapaan akrabnya, tertuduh sebagai pelaku pencitraan. Tak ayal dia meresponsnya dengan kalimat, “Asu tenan iku.”

“Tenang dulu, bro. Jangan terlalu baper,” tutup saya.

Kamis sore, tepatnya di Libertaria Cafe, kami berjumpa. Saat sedang asyik-asyiknya saya menikmati kopi pribumi (Kopi Ibu), ia malah menyuguhkan curhatan yang cukup menggelitik itu. Pasalnya, setiap kali berjumpa, pasti kami mendiskusikan bacaan buku masing-masing atau perenungan atas fenomena yang sedang ramai dibicarakan. Safraan sore itu memang tampak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Dasar baperan!

“Hancur kau dikoyak-koyak perasaan,” kata saya untuknya.

Safraan hanya melempar senyum tipis khasnya. Bagaimana tidak, seorang yang intelektual tak semestinya menanggapi soal receh itu dengan emosional. Oleh karena itulah tulisan ini saya suguhkan, siapa tahu pembaca juga mengalami hal yang sama.

Perihal pencitraan ini memang menarik untuk dikupas, sebab telah banyak yang menyalah-artikannya bahkan lepas dari sebagaimana mestinya ia digunakan. Parahnya, kini kata “pencitraan” cenderung digunakan sesuai dengan kondisi hubungan seseorang dalam berelasi sosial. Sampai di sini, ada tiga kemungkinan penyebabnya: sekadar ikut-ikutan, memang tak mengetahui artinya, atau ada persoalan dalam hati penggunanya. Kalau di kampung, yang terakhir itu disebut “Siriq Ate”.

Lantas bagaimana pencitraan sebenarnya? Jika kita bedah kata per kata, inti “pencitraan” ialah “citra”, yang lainnya merupakan imbuhan semata. Dalam KBBI dan Wikipedia, kata “citra” diartikan sebagai kombinasi antara titik, garis, bidang, dan warna. Ketiganya menciptakan imitasi dari satu objek. Biasanya adalah objek fisik atau manusia. Dengan demikian, citra bisa berwujud gambar.

Sementara dalam bahasa Inggris, citra diartikan image—nah loh, beda ya dengan picture yang berarti gambar. Sampai di sini, saya menduga awal mula kata “pencitraan” itu disamakan dengan “Jaim” atau Jaga Image. Penyatuan semacam itu sering kali dilontarkan oleh sebagian generasi milenial dan sangat relevan dengan era post-truth. 

Dalam ilmu komunikasi, kata “citra” bermakna sebagai hal yang berada di benak seseorang. Sementara, menurut Rhenald Kasali, ia adalah kesan yang timbul karena pemahaman akan kenyataan. Jadi, peristiwa yang dialami sohib saya memang benar adalah pencitraan: mencitrakan diri sebagaimana adanya, tak dibuat-buat sama sekali. “Maka, Safraan, sampai di sini, kau tak perlu emosi, karena kau tak mengada-ada."

Lantas apa hubungan “pencitraan” dengan era post-truth

Sebelum ke sana, mari kita dudukkan apa itu post-truth. Sederhananya, ia adalah pascakebenaran, atau dengan kalimat lain: memosisikan yang benar sebagai yang kedua. Apatah lagi sejak berkembangnya media komunikasi, sebut saja Facebook (2004), YouTube (2005), dan Instagram (2010), sebagai media yang sering kali memfasilitasi kita menemui hoaks atau kebohongan.

Tudingan yang diterima sohib saya itu memang berada di salah satu media tersebut. Pasalnya, Safraan sering mengunggah fotonya yang sedang berdiskusi. Baca buku dan tulisan-tulisan karyanya juga. 

Selaku teman, saya menyaksikan, memang Safraan demikian adanya, tak mengada-ada. Bahkan ia sering kali menerima olok-olokan “kutu buku”. Saking benarnya, Safraan berprinsip membaca buku enam jam sehari. Ia menuliskan apa saja selama tiga jam dalam kurun waktu tersebut. Sekali lagi, “Memang pencitraan kau, Safraan!”

Sohib saya itu memang seorang intelek. Tapi dalam hal ini, Safraan gagal menjelaskan mengapa ia melakukan hal yang demikian di setiap media sosialnya.

Padahal sejak 1996, seorang sarjana berkebangsaan Amerika Serikat telah mengemukakan di salah satu karyanya bahwa akan ada pencitraan dalam konotasi buruk. Atau jauh sebelum itu, Joseph Goebbels telah mengungkapkan, kebohongan yang terus diulang-ulang akan jadi kebenaran. “Nah loh, Safraan gak bohong sama sekali terkait setiap unggahan itu. Saya saksinya.”

Jadi, sederhananya, keterhubungan antara pencitraan dengan era post-truth itu adalah kepalsuan yang seolah-olah dan dengan motif ke-aku-an yang menggunakan media sosial kekinian. Misalnya: Anda mengunggah yang sama sekali di luar kemampuan Anda atau mengakui hal yang sebenarnya bukan kedirian Anda.

Itulah pencitraan negatif, yang awal mulanya hanya berkonotasi positif. Dengan begitu, mungkin yang mengatakan Safraan melakukan pencitraan adalah orang yang punya masalah di hatinya sendiri (siriq ate).

Saya justru antusias mendukung kebiasaan Safraan untuk terus berlaku demikian. Dengan begitu, ia sama saja menyebar kebaikan. Bayangkan saja jika tulisan-tulisannya itu mampu mengubah pandangan pembacanya? Atau, karya-karyanya tersebut jadi pemantik diskusi orang banyak, minimal di satu forum. Bermanfaat, tidak, dibanding mengunggah screenshot PUBG atau ML?

Herannya saya, “Kok unggahan unfaedah itu tidak pernah ada yang menegur sebagaimana yang Safraan terima?” Inilah post-truth di mana kebenaran adalah hal yang nomor dua.

Dalam fenomena ini, sama-sama kita saksikan, ada dua hal yang tampak berbeda, yakni pemanfaatan media sosial secara positif dan dalam hal yang biasa-biasa saja atau bahkan yang buruk-buruk amat. Misalnya: menyebar hoaks, ujaran kebencian, dan plagiasi.

Sebenarnya, arah penggunaan media sosial tersebut sangatlah bergantung pada kedirian penggunanya. Sebab ia bebas nilai. Yang memberinya nilai ialah penggunanya sendiri.

Dengan demikian, memang bisa jadi ada yang menggunakan media sosial sekadar pencitraan dalam konotasi negatif. Soal ini bisa kita konfirmasi lebih jauh dengan mengklarifikasi benar-tidaknya.

Namun, apa pun penamaan dan sebabnya, agar tak paradoks dan mengandung ambiguitas defenisi, kita tegaskan saja bahwa yang mendasar dari pencitraan negatif adalah kebohongan. Karena itu, mari ganti pencitraan negatif menjadi kebohongan.

Jujur saja, sebenarnya saya membayangkan media sosial yang isinya tanpa kebohongan. Pasalnya, kini hampir semua media sosial yang kekinian itu telah menginternalisasi perangkat lunak yang disebut-sebut sebagai bagian tak terpisahkan dari revolusi industri 4.0. Misalnya, Artificial Intelligence (AI), Algoritma, dan ToT, di mana semua perangkat lunak itu bisa melakukan semacam filterisasi terhadap hal-hal yang berkonotasi negatif, salah satunya kebohongan.

Dalam salah satu diskusi bersama Muhidin M. Dahlan yang saat itu diselenggarakan oleh HMHS UMY, ia mengatakan, “Siapa yang berhak mengukur bahwa telah terdapat hoaks dalam satu unggahan di media sosial?” 

Pertanyaan tersebut memang sulit dijawab. Tapi setidaknya, sesuatu yang sulit bukan berarti mustahil kita pecahkan. Singkatnya, dengan adanya perangkat yang telah saya sebutkan di atas, paling tidak kita menemui wujud potensi untuk menjawab tantangan zaman dewasa ini.

Dalam hal ini, kawan-kawan yang sedang dan telah menempuh studi di Fakultas Teknik Informatika dan sejenisnya mesti mengambil peran akan persoalan ini. Sebab secara akademik, merekalah yang berkompeten untuk hal itu, minimal membuat semacam sistem atau menciptakan aplikasi yang di dalamnya tidak dimungkinkan menyebarluaskan hoaks, ujaran kebencian, dan plagiasi.

Untuk niatan semacam ini, memang banyak kendalanya, tak hanya argumentasi yang Muhidin M. Dahlan ucapkan di atas.

Argumen yang senada juga pernah datang dari salah seorang sohib saya, Wiji. Dalam satu kesempatan, ia mengemukakan bahwa kendala lain yang akan dihadapi adalah soal haluan isme para pencipta aplikasi media sosial kekinian itu. Menurutnya, mayoritas dari mereka berhaluan pada isme kebebasan, sehingga sangat kecil kemungkinannya memperoleh izin agar memasukkan semacam sistem filter terhadap hoaks, ujaran kebencian, dan plagiasi.

Bagaimana dengan pemerintah? Ah sudahlah, mengharapnya sama dengan adagium “guru kencing berdiri murid kencing berlari”.

Menghadapi era saat ini dengan sekelumit tantangan untuk merealisasi niatan itu, kita mesti menggalakkan “Literasi Media Sosial” berbasis data dan argumentasi. Hal itulah yang paling mungkin untuk kita lakukan saat ini daripada mengatakan “kembalikan pada diri masing-masing”.