Deru semangat sumpah pemuda tahun ini terasa sedikit berbeda. Lebih menggigit dengan berita berhasilnya tim pendakian Indonesia, Pasid dan tim, Summit Attack Island Peak. Island Peak yang disebut Imja Tse oleh orang lokal, atau mini Everest di kalangan para pendaki, merupakan tempat pendakian yang cocok menjadi tempat latihan sebelum benar-benar ke Everest.

Teknik dan alat yang digunakan sama. Para pendaki harus menggunakan kapak es, crampons, tangga aluminium untuk menyeberang crevasse, serta harus mempunyai teknik tali-temali untuk melakukan jumaring.

Hal lain yang tidak kalah penting untuk diapresiasi, selain dari Summit Attack, adalah fakta bahwa tim yang memang dipersiapkan untuk menggapai puncak dunia Everest ini semua beranggotakan ASN (Aparatur Sipil Negara). Bukan ASN yang diangkat setelah berprestasi sebelumnya, Pasid dan tim hanya ASN biasa yang memang sejak kuliah telah menjalani kegiatan ekstrem ini dengan serius.

Tim yang berisikan 4 orang (Pasid, Eko, Rosidi dan Ilham) memang sejak di bangku kuliah sudah aktif berkegiatan ekstrem. Puncak-puncak gunung di Indonesia sudah hampir semua dikunjungi puncaknya. Bahkan dengan cara tidak biasa, berlari saat naik dan turun, dan di target waktu!.

Ekspedisi Island Peak merupakan satu prestasi tersendiri menurut hemat saya. Tidak dalam bentuk piala atau medali, tapi mencapai puncak-puncak dunia merupakan achievement yang tidak sembarangan. Memerlukan keahlian, ketekunan, kerja keras dan tekad yang bulat layaknya atlet lain.

Aconcagua, gunung terbesar di Benua Amerika, di Argentina merupakan salah satu dari ekspedisi sebelumnya yang juga berhasil dan sukses. Denali, gunung tertinggi di Amerika Utara, yang sebelumnya telah direncanakan sayang harus diundur karena pandemi yang mengguncang dunia.

Persiapan fisik dan psikis harus serius dipersiapkan secara matang. Tidak bisa sambil lalu tanpa arahan yang jelas. Para pendaki profesional butuh pelatih untuk menyusun jadwal dan memantau hasil latihan. Selain tantangan dari alam yang langsung berhadapan dengan nyawa, musuh terbesar juga datang dari dalam diri, dan itu harus ditaklukkan, tanpa kompromi!.

Dunia kerja ASN memang mempunyai karakteristik berbeda dengan swasta. Birokratis sesuai alur struktural, kaku sesuai aturan yang ada hingga tidak secair swasta dalam menyelesaikan satu pekerjaan.

Ketat dan panjangnya masalah perijinan untuk cuti misalnya, untuk sekali perjalanan ekspedisi ke luar negeri, Eko yang sehari-harinya bertugas sebagai auditor, harus mendapatkan tanda tangan kepala kantornya di Samarinda. Padahal, sebelum ijin sampai di meja kepala kantor, Eko harus melewati terlebih dahulu 2 atasan lainnya.

Setali tiga uang dengan Eko, Pasid yang saat ini bekerja di salah satu kantor pajak Bandung, harus melewati proses yang lebih panjang. Selain tanda tangan kepala kantor, Pasid harus juga mengajukan ijin berjenjang ke kantor regional yang menaungi sebelum keputusan akhir ada di kantor pusat Jakarta.

Selain ijin cuti yang sangat terbatas, hak cuti setahun 12 hari kerja dan maksimal 24 hari kerja selama 2 tahun, rutinitas pekerjaan harian ASN juga menjadi tantangan berbeda. Pekerjaan yang terus mengalir sepanjang tahun, serta kondisi lingkungan kantor yang relatif homogen membuat pegawai yang ingin aktif berprestasi di luar kantornya harus lebih bisa mengatur jadwal.

Latihan fisik harian seperti joging bisa dilakukan pagi hari dan sore sembari berangkat atau pulang kantor. Latihan kekuatan dan ketahanan bisa di sekitaran kantor atau rumah. Teknik memanjat seperti tali-temali bisa dilakukan di akhir minggu selama tidak mengganggu pekerjaan harian atau tugas pokok lainnya.

Untuk ekspedisi yang membawa nama Indonesia dan membuat harum, seharusnya pegawai-pegawai seperti ini mendapatkan ijin khusus. Ada peran federasi atau instansi yang menaungi untuk memfasilitasi hal-hal administratif seperti ini. Dengan syarat dan ketentuan yang berlaku tentunya, bukan asal  tanpa dasar.

Pasid, Patuan Handaka Pulungan, yang juga karena ketekunannya menjalani olahraga ekstrem, juga ikut mewakili kontingen Indonesia di ajang pesta olahraga Negara-Negara ASEAN, Sea Games 2019, cabang olah raga Obstacle Course Race. Tidak tanggung-tanggung, Pasid menyumbangkan medali Perunggu untuk kontingen Indonesia.

Bukan tanpa dasar atau asal tunjuk Pasid ikut mewakili Indonesia. FOHRI, Federasi Olahraga Halang Rintang Indonesia, yang menaungi cabang olah raga Obstacle Course Race telah melakukan seleksi ketat. Hasil seleksi diajukan oleh FOHRI untuk ditetapkan Kemenpora sebelum akhirnya dijadikan dasar oleh kantor tempatnya bekerja untuk memberikan ijin bertanding.

Tembok dan sekat untuk ASN berprestasi di luar pekerjaan sehari-harinya saat ini bukanlah menjadi suatu momok yang menakutkan lagi. Tidak ada alasan pembenar untuk mundur sebelum bertanding. Faktor biaya besar pun saat ini dapat disiasati oleh  sponsorship.

Selama bisa dibuktikan dengan prestasi, tentu sponsor akan datang dengan sendirinya. Pasid, Eko, Rosidi dan Ilham bisa menjadi contoh nyata bahwa ketekunan, kerja keras dan niat yang baik bisa melapangkan jalan yang ada.