Sore itu, sembari menunggu azan magrib, saya bertukar pesan dengan teman di kampung halaman. Awalnya hanya via chat WhatsApp, namun ia kemudian menelepon. Setelah bertukar kabar baik, saya bertanya perihal bagaimana kondisi di rumah? Apakah aman-aman saja? Tidak ada pencurian atau semacamnya? Saya ingin memastikan.

Karena akhir-akhir ini, kasus pencurian marak diberitakan di banyak media. Saya juga pernah mendapati sebuah video di Instagram, ada dua orang yang berboncengan sepeda motor di kawasan Jabodetabek. Dalam suasana ramai, banyak orang berlalu lalang, mereka berani menyatroni sebuah mobil yang diparkir di bahu jalan.

Alih-alih mendapatkan barang curian, keduanya malah ketangkap. Sepintas saya melihat warga berhamburan berlarian ke pencuri tersebut. Saya membayangkan keduanya akan kembali ke jeruji besi dengan muka bonyok, setelah beberapa hari ini bebas menghirup udara segar.

Di sisi lain, Litbang Kompas merilis temuan baru bahwa ada peningkatan kasus pencurian selama masa pandemi Covid-19 ini. Selama periode 30 Maret-5 April 2020, terdapat 3.413 kasus, sedangkan pada periode 6-19 April meningkat menjadi 3.815 kasus.

Teman saya, sebut saja namanya Amid, mengatakan bahwa pencurian di desa malah lebih mudah dilakukan. Karena setiap rumah hampir tidak dipasang pagar besi. Kalaupun toh dipasang pagar besi, lewat belakang rumah masih bisa. Karena hampir setiap rumah di desa saya belakangnya masih hamparan sawah dan ladang yang lumayan luas.

Ia kemudian mengingatkan saya untuk berhati-hati. Terlebih pada orang yang pakaiannya amburadul dan terkesan compang-camping. “Kemarin yang nyuri ayam di rumahnya Kang Min (nama samaran), orangnya berpakaian kayak gitu. Kayak nyamar menjadi orang gila,” ucapnya mewanti-wanti agar saya waspada.

Saya pun awalnya merespons sekadarnya dan menyangkal barangkali ia salah mendapatkan informasi. Pencurinya tidak berpakaian seperti itu. Tapi pakaiannya mungkin malah necis, berdandan rapi, pakai parfum wangi. Berdandan ala pegawai bank.

Ia membantah bahwa informasi yang didapatkannya itu benar. Demi meyakinkan saya, ia menambahi lagi kabar pencurian yang datang dari desa tetangga, dengan ciri-ciri pelaku serupa. Kambing satu raib dibawa maling ketika pemiliknya sedang terlelap. Padahal, katanya, kambing itu untuk biaya operasional khitan anaknya sehabis lebaran.

“Pokoknya, kamu hati-hati. Apalagi di kota, kan? Di sana, kan, banyak orang-orang baru (pendatang). Pokok waspadai saja orang-orang yang pakaiannya aneh-aneh, compang-camping. Orang berpakaian seperti itu mesti pencuri yang menyamar menjadi gelandangan,” tandasnya semangat mengingatkan.

Saya masih takdim menyimak ceritanya. Katanya, beberapa waktu lalu, ia mendapati sebuah berita, ada orang yang mengaku sebagai pengemis namun malah menggondol sebuah televisi. Padahal pemilik rumah sedang mengambil uang receh di belakang. 

“Ya gimana ya. Paling ini karena banyak narapidana yang dibebaskan dalam waktu yang tidak tepat. Banyak juga yang menganggur tidak kerja. Dan semua butuh makan, jadi ya gimana,” katanya membeberkan situasi yang tengah terjadi.

Untuk ucapannya yang terakhir itu, saya turut mengamini. Pasalnya memang saat ini, situasinya sedang sulit-sulitnya. Banyak orang yang menjadi pengangguran dadakan, sementara kebutuhan makan setiap harinya tetap. Di sisi lain, bantuan dari pemerintah kadang tidak sampai kepada orang yang membutuhkan.

Namun tetap saja, pencurian itu tidak dibenarkan. Terlebih lagi mengalamatkan tuduhan pencuri kepada seseorang dengan ciri-ciri pakaian compang-camping, menyamar menjadi pengemis dan sebagainya, seperti yang dilontarkan oleh Amid di atas.

Dalam hati, saya menduga ada kemungkinan konstruksi tentang pencuri yang ada di kepala Amid seperti itu. Mereka yang pakaiannya tidak rapi, jelek, compang-camping, kemudian menjadi pengemis dan gelandangan seperti telah sah jika dicap sebagai pencuri. Dalam konteks akademis, apa yang dilakukan oleh Amid ini adalah semacam pemberian tanda atau identitas seorang pencuri.

Menyimak cerita Amid, saya teringat tempo hari ketika masih duduk di bangku kuliah. Ada seorang tokoh semiotika, namanya Roland Barthes.

Roland Barthes ini, dalam bukunya Mitologi, pernah memberi wejangan bahwa pakaian, mobil, makanan, film, iklan, headline surat kabar, semua hal itu tampak sebagai objek yang beragam. Kata Roland Barthes, semuanya itu adalah tanda. Mobil ini menunjukkan status sosial, begitu pun pakaian, makanan, dan film. Semuanya merupakan tanda dan bisa menunjukkan status sosial atau identitas.

Dengan hati-hati, terlebih masih berpuasa, saya menyangkalnya pelan-pelan agar energi tidak keburu habis sebelum azan magrib berkumandang.

Saya mengawali dengan pertanyaan balik, apakah orang yang pakaiannya bersih, rapi, parfumnya wangi, dan bahkan berpeci tidak ada kemungkinan untuk menjadi pencuri? Ia mengilah, kalaupun orang seperti itu menjadi mencuri, itu potensi dan kadar yang dicurinya pun pasti kecil.

Saya kemudian bercerita tentang korupsi di negeri ini. Pelaku yang menjarah uang rakyat, tanpa mengenal waktu, situasi, dan kondisi, adalah orang-orang yang berdasi. Mereka kadang atau malah sering tidak memikirkan kepentingan rakyatnya. Apakah mereka bisa disebut sebagai bukan pencuri? Atau pencuri dengan kadar yang kecil?

“Ya kalau mau waspada di kondisi seperti ini, menurutku, ya harus. Tapi kalau mencurigai, menuduh, apalagi mengecap seseorang itu pencuri atau perampok dilihat dari pakaiannya, saya tidak sepakat, Mid. Saya tidak setuju,” tegas saya.

Beberapa saat kemudian, dari teleponnya terdengar sayup-sayup suara azan. Ia memungkasi dengan mengucap salam.

Saya membayangkan, Amid hari itu akan ditemani menu berbuka dengan konstruksi baru tentang pencuri, atau malah ia tidak menggubrisnya sama sekali.