Waktu itu, matahari mulai naik meninggi. Kerumunan massa tanpa jas almamater khas anarko mulai berkumpul sesak memadati gerbang timur kampus. Status konsentrasi massa tetaplah mahasiswa, dengan sedikit bercampur partisipan dari kanal-kanal yang tak kukenal.

Sang orator mulai menaiki gerbang kampus yang tergembok kuat. Dengan posisi bak penunggang kuda, sang orator yang terlihat takut ketinggian itu tampak tak tenang menaiki dan duduk di sisi nyaman gerbang kampus yang tinggi besi. Sang orator pun mulai cuap-cuap menata retorika sebuah orasi.

Kuperhatikan saja, aku kenal, aku paham, aku tahu, ya kamu. Walaupun sudah terkoordinasi korlap, terbimbing oleh pendahuluan pertemuan koordinasi, terdoktrin wacana yang dimunculkan, aku saat yang saat itu masih menyisakan sesak di dada. 

Ah, sialan, kok begitu narasi verbalnya! Tak cukup mewakili paragraf-paragraf yang tertulis luas di sebuah sajian nalar yang bebas.  

Belum sempat menyesali pemasungan gejolak nalar bebasku, semprotan gas lakrimator membuat tersedu-sedu mendadak. Walhasil, lengkaplah sudah kekurang-ajaran arena yang dikuasai seorang orator. 

Ketersediaan satu mimbar ataupun anjungan orasi tunggal, secara implisit, menciptakan sebuah kediktatoran orator. “Waktu dan tempat, kami berikan” seolah membisik lembut di telinga partisipan tanpa ada penolakan dari peserta demo, pemirsa, ataupun partisipan lainnya pada acara-acara yang sejenis. 

Walaupun itu sudah menjadi sebuah kesepakatan yang digalang, kesatuan pendapat dan aspirasi yang akan disampaikan, bagi saya, itu tetaplah sebuah dominasi.

Orator demo akan cas cis cus dengan narasi-narasi verbalis olahan otak kanan dan kiri pribadinya. Walaupun alur penyampaian aspirasi sudah disarikan dari kanal-kanal yang terakomodasi, bagi saya, ia tetaplah emosi dan nalar pribadinya. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan nilai kebebasan hakiki.

Jangan harap apa yang disampaikan orator itu sesuai persis dengan goyangan dan hentakan aspirasi terjujur dari hati Anda saat itu. Ia akan melewati sensor-sensor yang kadang tak terduga. Dan, Anda terlihat bego sebagai pemirsa pasif.

Orator hanya berjaya ketika beribu-ribu hentakan sporadis dari narasi-narasi pribadi partisipan terpancung hebat di arenanya. Dominasi seorang orator seolah memberi redaktif imperatif yang halus: sudah, diam saja kamu!

Meskipun disediakan sesi pergantian orator, tetap saja jiwa-jiwa yang tak kebagian cuap-cuap akan menderita. Perlahan namun pasti, buncah-buncah liar nan bebas dari ide-ide ataupun simpulan narasi di otak Anda saat itu pastilah sudah sempurna terkekang hebat.

Tidak ada kata ulung dalam urusan orator. Keulungan hanyalah dominasi waktu dan tempat saja. Bisa saja ia adalah orator yang tolol dan bodoh menurut otoritas kebebasan nalar Anda saat itu. 

Komunikasi yang terjadi hanyalah transmisi antena tunggal, yaitu juluran-juluran adagium, egoisme, frasa pragmatis, ujaran persuasif yang terkadang jauh dari harapan kekuatan nalar terbaik yang Anda miliki. Ibarat kebo yang di-pierching hidungnya.

Komunikasi interpersonal yang terjadi dari alur transmisi seorang orator kepada sasaran (target) atau penerima (receiver), bagi saya, tampak seperti panggung lawak. Justru yang dominan adalah komunikasi transaksional yang menghasilkan kewajiban-kewaajiban untuk bergerak, berteriak, berjingkrak, melempar, bersalto, mengepal tangan, menguratkan otot leher, dan sebagainya.  

Sang orator yang meneriakkan yel-yel resistensi akan disambut partisipan dengan segenap luapan emosional dengan susunan redaktif yang tak jarang sangat seragam untuk menghasilkan himpunan dan kumpulan suara agar kompak dan serempak. Saat itulah artikulasi kebebasan alat ucap Anda terbelenggu seratus persen. 

Tatap muka yang berlimpah antara orator dengan partisipan, bagi saya, tak ada artinya dengan sebuah perwakilan satu kanal suara yang belum tentu terdahsyat menurut nalar pribadi Anda.

Orator yang membawakan pesan verbal maupun non-verbal tak ubahnya penguasa atmosfer kebebasan arus komunikasi dan ide yang terjadi saat itu. Layaknya mimbar Jumat, ceramah, kultum, pembacaan puisi, pembacaan doa, yang banyak mengharuskan ujaran imperatif: diam!

Aspirasi publik yang berujung pada mulut orator, siap-siaplah kaku oleh leksikal kosmis ala pidato yang mengekang. Bagi saya, tidak ada kata ampuh bagi komunikasi massa yang berujung tunggal di mulut orator.

Jelas sekali, antonima dari sebuah orasi adalah menulis. Tidak ada menulis yang terwakilkan. Jika ada, itu adalah sebuah todongan moncong senjata yang terkokang di atas kepalamu.

Dalam sebuah demo ataupun acara lain yang menyediakan orator, inspirasi-inspirasi kebebasan nalarmu yang jika ditulis akan berlembar-lembar itu, saat itu juga akan dirobek oleh narasi orasi yang hanya beberapa menit.

Saya ucapkan selamat saja kepada orasi yang telah mengalami peyorasi atau penyempitan makna. Yaitu, orasi yang dikenal di kalangan umum sebagai bentuk ungkapan melalui verbal, dan disampaikan pada khalayak umum, serta memiliki sifat persuasif, dominatif, dan diktatoris.

Kedigdayaan orator bergantung terhadap pola idol, atau berhala hahaha. Kemampuan memikat melalui kata-kata dan bahasa tubuh tentunya diawali dengan pembangunan tampilan dan sengatan idola. 

Untuk membuat sebuah tekanan, orator harus meninggikan desibelitas gelombang suaranya dan sentuhan mimik wajah yang cenderung jauh dari kata tampan. 

Sedang bagi seorang penulis, tak perlu membuat deretan tanda seru sepanjang 5 cm untuk membuat sebuah tekanan. Di sinilah perbedaan gaya persuasif yang membuat orator cenderung dekat dengan solusi motorik. 

Orasi seorang orator yang mendominasi di ruang publik, bagi saya, tidak lebih dari sebuah kegaduhan yang tidak cukup bermanfaat bagi penggemar sofis.