“Kezhaliman akan terus terjadi bukan karena banyaknya orang-orang jahat tapi karena diamnya orang-orang baik” –Imam Ali AS-

Nasehat yang bijak dari Imam Ali bin Abi Thalib di atas selayaknya tidak hanya dijadikan kata mutiara, melainkan benar-benar dilakukan. Orang-orang baik yang melihat kezhaliman di depan matanya tidak boleh berdiam diri apalagi jika punya kemampuan untuk melawan. Salah satu kezhaliman yang sampai saat ini menciderai kemanusiaan adalah aksi terorisme yang terjadi di mana-mana. Munculnya terorisme ini akibat berkembangnya paham radikalisme secara luas.

Radikalisme bisa dengan cepat menyebar karena pengaruh media. Dua media yang paling efektif menyebarkan paham ekstrim adalah media sosial dan media online. Seperti yang umum diketahui, bahwa kebanyakan manusia modern tidak bisa terlepas dari internet.

Segala sesuatu yang dituliskan atau diposting di media sosial dan media online bisa menjadi viral dan dikonsumsi oleh banyak orang. Dari beberapa pengakuan penganut radikalisme, mereka banyak menyerap informasi yang diunggah di situs-situs radikal.

Lihatlah, betapa besar peran sebuah media dalam menyebarkan paham tertentu atau pemikiran. Seseorang yang tidak terbiasa berpikir kritis bisa termakan bujuk rayu dari media-media tersebut. Semakin lama menyerap tulisan-tulisan di media radikal, semakin ia meyakini bahwa semua yang dibacanya sebagai suatu kebenaran. Pada akhirnya, ia akan membenarkan segala bentuk kekerasan dan bukan tidak mungkin suatu saat ia akan turut andil dalam aksi kekerasan. Mengerikan bukan?

Hal ini disadari benar oleh pemerintah. Situs-situs radikal segera diblokir sehingga pengguna tidak bisa mengaksesnya. 

BNPT dan Kemenkoimfo menyatakan setidaknya ada 4 kriteria sebuah website digolongkan mengajarkan gerakan radikal. Empat kriteria itu antara lain:

  • Menginginkan perubahan yang cepat dengan kekerasan dan mengatasnamakan agama
  • Mengkafirkan orang lain/takfiri
  • Mengajak bergabung dengan ISIS
  • Mendefinisikan jihad dalam lingkup yang sangat sempit

Ada 22 situs yang diblokir dan pemblokiran itu menuai protes. Aturan tentang kebebasan pers dan hak asasi manusia terus didengungkan oleh pendukung media-media tersebut. Akhirnya, pemerintah melepaskan pemblokiran terhadap 22 media online yang dianggap menyebarkan radikalisme. Tetapi disertai dengan pengawasan yang ketat.

Selepas pemblokiran, media-media itu sepertinya tetap bersikukuh pada  pendiriannya yang memihak kekerasan. Tidak jarang mereka menyebut teroris sebagai pejuang jihad dan menyebut aksi terorisme sebagai bentuk perjuangan.  Mereka terkadang membuat berita yang tidak benar mengenai golongan yang berbeda pendapat dengan mereka.

Apakah ini patut didiamkan? Akankah kita tidak akan berbuat apa-apa melihat hal ini? Beruntung masih ada orang-orang sadar dengan bahaya radikalisme yang disebarkan lewat media.

Mereka lalu melawan dengan tulisan-tulisan yang cerdas dan mengajak orang untuk kembali ke akal sehatnya. Mereka menyajikan  fakta-fakta yang selama ini ditutupi oleh media radikal. Perlawanan yang berimbang, melawan tulisan dengan tulisan, melawan pemikiran dengan pemikiran.

Sebagian membuat media-media alternatif untuk mengimbangi berita-berita yang dimuat dalam situs radikal. Media-media alternatif yang menangkal radikalisme macam itu wajib diperbanyak jumlahnya. Jika kita tidak bisa ikut membantu, paling tidak ikut membagikan tulisan yang mereka buat sehingga lebih banyak orang yang membaca.

Sedangkan di media sosial sendiri, beruntung ada beberapa penulis yang tidak pernah lelah melawan pemikiran radikal  seperti Denny Siregar, Hasanudin Abdurakhman, Ahmad Zainul Muttaqin, Surya Hamidi dan lain-lain.

Mereka punya banyak pengikut atau follower yang setia dengan tulisan-tulisan mereka.  Sebagai dampaknya, banyak pula yang tercerahkan dengan tulisan mereka. Satu hal yang patut disyukuri.

Bukan hal yang mudah melawan radikalisme yang dibalut agama, terlebih masyarakat kita belum terbiasa dengan pemikiran kritis dan pola pikir yang terbuka. Mereka rentan menjadi korban pencucian otak/ brain wash oleh media-media ekstrim. Karena sulitnya perjuangan ini, sungguh sangat layak jika penggagas media alternatif penangkal radikalisme dan penulis-penulis di sosial media disebut sedang berjihad.

Melawan secara fisik mungkin lebih gampang daripada melawan pemikiran. Sudah saatnya orang-orang waras ikut berjihad melawan kebodohan dan kekerasan sebab menanggulangi terorisme bukan hanya tentang menangkap para teroris tetapi juga memperbaiki pola pikir yang mengarah pada radikalisme.