"Tindakan menyalahkan hanya akan membuang waktu. Sebesar apapun kesalahan yang Anda timpakan ke orang lain, dan sebesar apapun Anda menyalahkannya, hal tersebut tidak akan mengubah Anda"  - Wayne Dyer


Ternyata tidak hanya remaja yang mengalami puber, tetapi orang tua juga bisa mengalami puber yaitu puber untuk kedua kalinya. Istilah puber kedua dalam dunia medis bisa disebut dengan periode perimenopause, di mana di usia paruh baya akan mengalami kondisi perubahan fisik dan emosional.

Periode ini mungkin akan dialami pada usia 35-50 tahunan  dan hanya akan dialami oleh 10-20 persen orang. Mungkin istilah puber sangat popular di kalangan masyarakat di mana puber merupakan masa transisi yang akan dilalui anak menuju ke remaja atau dewasa. Namun puber kedua ini memiliki perbedaan dengan puber yang dilalui pada masa remaja.

Jika pubertas saat remaja akan lebih dipengaruhi oleh hormone yang menyebabkan haid pada perempuan, perubahan suara pada laki-laki sedangkan pubertas pada orang tua akan lebih ke pada perubahan sikap yang akan seperti anak muda padahal usia sudah hampir menempati angka jumlah banyak.

Mungkin hal ini bisa terjadi karena ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan terjadinya puber kedua. Diantaranya yaitu:

Faktor kondisi keluarga

Keluarga yang tidak harmonis mungkin bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya puber kedua bagi usia paruh baya. Akibat dari hal ini bisa menyebabkan suatu perselingkuhan bahkan perceraian.

Karena mereka mungkin akan bertemu kembali dengan teman lama bahkan mantannya yang kemudian menyebabkan orang ketiga di suatu hubungan, faktor lainnya bisa juga karena ditinggal jauh keluar daerah, atau sudah ditinggal mati.

Faktor kondisi ekonomi

Ekonomi yang rendah dalam keluarga mungkin menjadi salah satu penyebab orang tua mengalami puber kedua.

Faktor kondisi sosial

Gaya kehidupan sosial sekitar bisa menjadi salah satu penyebabnya, karena ada beberapa ibu sosialita yang gayanya seperti anak muda sehingga akan menarik lainnya untuk meniru gayanya.


Ada beberapa respons tanggapan seorang anak tentang puber kedua yang terjadi kepada orang tuanya. Ada yang hanya menggelengkan kepala, ada yang bisa menerima kondisinya bahkan hingga mensupport, ada juga bahkan yang cuek dengan pubernya orang tua. Hal itu tergantung dengan sifat anak dan kondisi anak.

Seperti halnya dengan yang dialami oleh Ibu dari teman saya, Ibunya mengalami puber kedua karena sudah lama ditinggal oleh ayahnya, kemudian Ibunya memiliki kekasih baru dan sering keluar bersama. Anaknya memaklumi karena mungkin membutuhkan pendamping hidup lagi setelah sekian lama kehidupannya hanya bekerja untuk membiayai anaknya.

Sebagai anak kadang ada rasa risih dengan puber keduanya orang tua, karena orang tua akan berperilaku layaknya anak muda yang sedang mencari jati dirinya.

Hal yang sering terjadi pada psikologi orang tua saat puber kedua adalah suka berpenampilan menarik seperti anak muda, centil dengan lawan jenis, labil seperti remaja dan mood akan sering berubah.

Namun jika orang tua dikatakan sedang puber kedua mereka selalu menangkis, mungkin karena mereka tidak merasa bahwa sedang mengalami puber Kembali. Beberapa orang tua akan mengalami puber yang bisa mengandung aktivitas positif bahkan negatif.

Salah satu puber positif yang dialami orang tua yang wajib didukung adalah semakin mesranya mereka dengan antar sesama. Seperti halnya dengan kemesraan bapak Habibie dengan Ibu Ainun  yang di filmkan. Apabila orang tuamu mengalami puber tersebut maka hal itu wajib didukung.

Dan salah satu puber negatif yang dilakukan oleh orang tuamu misal nakal dengan orang lain atau centil maka hal tersebut harus kamu hindarkan dengan cara memberi tahu menasihati kepada orang tuamu. Menasihati dengan sopan agar orang tua tidak tersinggung.

Contoh pengalaman saya ketika bekerja di sebuah pabrik, ada beberapa atasan atau leader yang perbuatannya sangan nakal dan centil dengan karyawannya bahkan berpenampilan layaknya seperti anak muda yang sedang single tidak ingat anak istri.

Perbuatannya yang sering dilakukan adalah menggoda bahkan bisa merangkul dan memegang tangan karyawannya. Ada suatu kejadian teman saya yang digoda mengatakan kepada salah satu atasan “pak anggaplah aku seperti anakmu sendiri”, kalimat itu adalah untuk mengingatkan sang atasan dengan cara sopan agar tidak mengganggunya lagi.

Pada dasarnya puber kedua yang dialami oleh orang tua akan lebih dahsyat dibandingkan dengan puber pertama saat anak mulai memasuki remaja.

Puber pertama saat remaja akan timbul lebih alami dan tidak memiliki efek yang buruk karena hal ini adalah hal normal yang akan lalui oleh semua manusia.

Sedangkan puber kedua saat sudah memasuki usia paruh baya, mereka akan cenderung dipengaruhi oleh tantangan dan lingkungan yang menarik untuk mencapai kepuasan yang selama ini belum tercapai.

Puber kedua pada orang tua akan aman dan tidak akan memiliki efek buruk jika dapat teralihkan menjadi aktivitas yang bermanfaat, selain itu juga harus melakukan kontrol diri. jika hal tersebut kebablasan dan tidak terkontrol maka akan berimbas ke perilaku bosan dengan keluarga dan pekerjaan, boros dalam hal uang, mempunyai pikiran untuk berselingkuh, dan bisa mengakibatkan depresi.