87740_17455.jpg
pixabay.com
Agama · 4 menit baca

Ketika Muslim Iran Memilih Meninggalkan Agamanya

Tulisan aslinya berjudul How Islamism Drive Muslims to Convert. Tulisan yang cukup mengejutkan ini muncul di laman nytimes.com edisi 25 Maret lalu, ditulis oleh Mustafa Akyol, seorang jurnalis Turki yang menyoroti fenomena perpindahan agama di Iran.

Dalam tulisan itu, Akyol memaparkan fenomena sekaligus faktor mengapa kaum muslim di Iran banyak yang memilih berpindah keyakinan, terutama menjadi seorang Kristiani. Agama Kristen bahkan disebut tengah berkembang pesat di negeri para mullah itu dibanding negara-negara lainnya.

Mengutip sebuah studi di tahun 2015 oleh dua peneliti dari St. Mary’s University di San Antonio dan WEC International di Singapura, dia menyebutkan, setidaknya 100 ribu umat Islam Iran telah berpindah keyakinan menjadi Kristiani sejak 1960 sampai tahun 2010.

Akyol menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya fenomena tersebut adalah kekerasaan dari karakter keagamaan yang berkuasa di Iran. Misalnya, dia mengutip keterangan dari Azam Kamguian, seorang mantan Muslim Iran.

Azam mengatakan, dia sudah hidup ribuan hari di Iran ketika Islam menumpahkan darah. Yang dimaksud tentu saja Republik Islam Iran, bukan Islam itu sendiri. Namun, saat sebuah rezim politik berkuasa merasa mewakili sebuah teologi tertentu, akan susah untuk membedakan di antara keduanya.

Akyol juga menyampaikan bahwa fenomena semacam ini tidak hanya terjadi di Iran melainkan juga di negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Di negaranya yang secara resmi sekuler, Turki, tekanan yang muncul dari kalangan konservatif religius telah mendorong anak-anak muda di sana ke arah deisme – percaya kepada Tuhan, namun tidak pada agama.

Demikian juga di Arab Saudi, Bangladesh, dan Malaysia, dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Di Indonesia, seorang teman muslimah saya baru-baru ini menyatakan, “Aku pusing beragama di Indonesia.” Hal ini dikemukakannya saat ikut merespons kasus puisi kontroversial dari Sukmawati. Dia bertanya-tanya, apakah dirinya memang kurang beriman dibanding mereka yang ramai menghujat puisi tersebut.

Di titik ini, identifikasi Akyol bahwa gejala otoritarianisme, kekerasan, kefanatikan, dan patriarki dalam beragama (Islam dalam hal ini), telah mengasingkan orang (alienasi) di hampir setiap negara mayoritas Muslim, mendapatkan konfirmasinya.

Jalaluddin Rakhmat dalam Agama dan Kekerasan (2012) menjelaskan bagaimana kekerasan, sesungguhnya, hanya akan membuat orang menjauh dari dan bahkan meninggalkan agama itu sendiri.

Tidak kurang, nama seperti Christopher Hitchens, seorang Inggris yang amat religius, akhirnya menjadi ateis karena kecewa dengan agama yang dianggapnya telah menjadi sumber kekejaman. Seumur hidupnya, ia menjadi pendakwah ateis yang efektif, terutama terhadap orang-orang yang menjadi korban kekejaman agama.

Ada juga Dan Baker, seorang pendeta Kristen Evangelis yang berubah menjadi pemuka kaum Ateis di Amerika. Sebabnya juga karena tindakan kekerasan umat beragama. Lalu ada Ayaan Hirsi Ali, seorang muslimah Somalia yang akhirnya memilih menjadi Ateis karena hal yang sama. Kang Jalal menulis:

“Waktu remaja, ia masuk sekolah muslimah yang berbahasa Inggris dan didanai Saudi. Guru-gurunya keluaran Saudi. Dengan semangat ia berpindah dari mazhab Syafii yang toleran kepada mazhab baru yang sangat keras. Hidup dengan aliran keras ini tidak membahagiakannya. Ia menyaksikan berbagai tindakan kekerasan, terutama kepada perempuan, atas nama agama.

Ia mengungsi ke negeri Belanda. Di sini, ia mendapat perlakuan yang tidak enak dari sesama Muslim. Setelah kecewa dengan peristiwa 11 September, setelah membaca Manifesto Atheis dari Herman Philipse, secara resmi ia meninggalkan Islam dan menyatakan diri Atheis.”

Otoriterianisme agama termanifestasikan dalam kekerasan sikap dan tindakan. Kekerasan sikap mewujud dalam rupa agitasi, propaganda, stigmatisasi sesat, kafir, dan sejenisnya, terhadap mereka yang berbeda atau dianggap menyimpang. Sementara kekerasan fisik, mewujud mulai dari persekusi, perusakan tempat ibadah, hingga aksi terorisme.

Pemicunya, cara pandang keagamaan yang bercorak tekstual ketimbang kontekstual; hukum ketimbang spiritual; monolitik ketimbang dialektik; kaku ketimbang luwes; ekstrim ketimbang moderat. Cara pandang ini kemudian bermuara pada obsesi untuk mendirikan sebuah negara Islam atau negara yang menerapkan syariat Islam (islamisme).

Padahal, protes anti-pemerintah yang meletus di Iran pada hari-hari terakhir tahun 2017 kemarin diidentifikasi oleh Akyol sebagai bentuk kekecewaan jutaan warga Iran terhadap Republik Islam. Beberapa bahkan kecewa terhadap Islam sendiri. Karena itu, secara diam-diam di antara mereka meninggalkan keislamannya.

Sejarah juga mencatat bagaimana bergumulnya antara agama dengan politik (baca: kekuasaan) telah membuat carut-marut wajah agama itu sendiri. Agama apa pun itu.

Laman perpektifofficial.com dalam Potret Buruk Kekerasan Agama di Indonesia menulis bahwa sejarah kekristenan telah membuktikan bahwa semakin dekat gereja secara institusi dengan politik pemerintahan, semakin bobrok kondisi keagamaannya.

Gereja pada akhirnya terlibat secara aktif dalam tindak kekerasan yang immoral dan melawan ajaran dari agamanya sendiri. Demikian juga di Israel, agama Yahudi dijadikan dasar sekaligus pembenaran untuk melakukan penindasan nyaris tanpa henti kepada Palestina.

Profesor Nadirsyah Hosen dalam serial Ngaji Politik Islam-nya di salah satu portal terkemuka membeberkan bagaimana Islam sebagai ajaran mulia kerap terkotori oleh praktik siasat meraih kekuasaan dari berbagai dinasti di masa kekhilafahan Islam dulu.

Walhasil, teisme hanya membuat wajah agama menjadi brutal dan jauh dari watak welas asihnya bagi manusia. Karena itu, di akhir tulisannya Mustafa Akyol merasa bersyukur Islam masih memiliki tradisi lain di samping wajah kerasnya.

Alih-alih melarang, Islam malah telah mendorong para teolog dan filsuf Muslim abad pertengahan dulu menggunakan filsafat Yunani. Sementara itu, tarekat dan laku sufistik berfokus pada pengembangan kebajikan, yang memungkinkan mereka menyebarkan iman melalui inspirasi dan teladan.

Jalan tasawuf juga banyak ditawarkan oleh para cendekiawan muslim Indonesia. Haidar Bagir menawarkan Gerakan Islam Cinta, upayanya memulihkan misi Islam sebagai agama belas kasih.

Ulil Abshar Abdala, intelektual muslim yang sering digelari aktivis liberal, kini malah tengah giat-giatnya mengajak umat untuk ngaji Ihya Ulumudin, sebuah kitab tasawuf karya ulama besar Imam Ghazali.

Islam menjadi mayoritas di Indonesia juga berkat jalan tasawuf. Selama 800 tahun Islam susah di terima oleh penduduk pribumi sejak kedatangannya di abad VII M. Baru pada abad XV Islam secara massal diterima oleh mayoritas orang Nusantara.

Hanya dalam rentang 50 sampai 100 tahun, secara revolutif Islam diterima dan menjadi agama mayoritas di Tanah Air, hingga hari ini. Semua berkat munculnya sebuah lembaga bernama Wali Songo yang menggunakan corak sufistik dalam dakwahnya.

Alih-alih memukul keyakinan lama, mereka malah merangkul dengan kearifan. Alih-alih antipati, mereka malah berempati dengan tradisi yang berlaku. Berkebalikan dengan tasawuf yang empatik, islamisme hanya melahirkan jalan kekerasan atas nama agama.

Ketika muslim Iran memilih meninggalkan agamanya, inilah saatnya tasawuf diarusutamakan kembali -- tak terkecuali di bumi Nusantara ini.