Waktu dan kondisilah yang bisa merubah segalanya. Jika sebelumnya dalam rangkaian idulfitri maka ada cuti bersama para pegawai. Ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk tinggal lebih lama di tempat wisata. Begitu pula ketika mudik, tidak saja bersua dengan kerabat tetapi ada aktivitas yang menggerakkan ekonomi secara nasional.

Itu dulu. Kini, mudik justru sejak jauh hari di awal Ramadhan justru tidak bisa dilaksanakan. Bahkan, melalui pidato pimpinan negara dilarang sama sekali.

Perusahaan penerbangan yang sudah menerbitkan tiket, diminta untuk melakukan penjadwalan ulang. Seorang kawan yang merantau ke Bali, memupus harapannya untuk pulang. Tidak lagi bisa menunaikan hari lebaran di kampung halaman. Tiketnya dijadwal ulang oleh maskapasi sehabis lebaran.

Sementara itu, kepala daerah pada tanggal 6 Mei serentak meresmikan pos penyekatan di perbatasan. Terkecuali wilayah yang tidak mendapatkan pembatasan. Diantaranya, Makassar-Gowa-Maros dalam kawasan mamminasata.

Bupati Maros, Chaidir Syam meresmikan pos di perbatasan Maros-Pangkep. Setiap kendaraan yang akan melintasi perbatasan perlu mendapatkan pemeriksaan. Begitu pula sosialisasi dilaksanakan dalam pelbagai bentuk. Termasuk media sosial.

Hanya saja, bagi orang di Indonesia selalu ada celah. Ditemukan adanya surat pemeriksaan rapid antigen yang dipalsukan. Sebelum itu, sudah lazim. Dimana sekelompok anak muda yang akan mengikuti kegiatan di Lombok ditemukan menggunakan surat yang dipindai kemudian disunting.

Akibatnya, mereka diminta untuk melakukan pengetesan ulang. Sehingga ada konfirmasi asli kondisi Kesehatan kelima anak muda tersebut. Hanya satu diantaranya yang menggunakan surat benar-benar dari klinik.

Dalam keseharian di Indonesia, terbiasa dengan kelihaian tersendiri. Belum lagi, seorang Kepala Rumah Sakit di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, memberikan surat keterangan kepada seorang pejabat tanpa pemeriksaan sama sekali.

Dengan dalih membantu sang pejabat untuk keperluan dinas. Atas akibat ulahnya ini, kepala rumah sakit tersebut dicopot dari jabatannya. “Membantu” dalam kondisi seperti itu bukan dalam urusan pertolongan. Justru akan mengorbankan orang lebih banyak lagi.

Kepolisian menggulung sindikat pemalsu surat keterangan yang beroperasi di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Mereka menjual jasa untuk memberikan keterangan surat sehat tanpa melalui pemeriksaan.

Tidak saja individual melakukan itu. Di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara justru intstitusi yang selama ini terpercaya. Badan usaha milik negara, Kimia Farma. Mereka menggunakan alat tes yang didaur ulang.

Semua kondisi menunjukkan betapa watak berkelit telah tumbuh dan mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat kita.

Dalam bahasa percakapan di Papua, sering disebut dengan “selamat datang di dunia tipu-tipu”. Senada dengan itu, orang di Ambon menyebutnya parlente. Dimana ada pencitraan yang jauh dari kondisi yang sebenarnya.

Ada saja orang yang hendak mudik, kemudian menggunakan cara ini. Sehingga kalaulah petugas tidak cermat, maka mereka memungkinkan mudik tanpa halangan. Cukup dengan melakukan “tipu-tipu” tadi.

Setidaknya unggahan di media sosial memperlihatkan dua lokasi yaitu Karawang dan Cikarang. Para pemudik nekat menerobos pos yang sudah ada. Petugas yang jumlahnya tidak sebanding dengan pemudik, kemudian kewalahan dalam bertugas. Sehingga ribuan pemudik berhasil melintasi perbatasan tanpa pengawasan sama sekali.

Begitu pula Cikarang hingga Bekasi. Pemeriksaan surat tak dapat dilaksanakan. Para pemudik nekat menerobos pos polisi yang sudah didirikan dengan rapi. Dengan kondisi tersebut, akhirnya juga pengendara motor bisa melintasi perbatasan dengan tanpa penegakan aturan sama sekali.

Adapun di Jambi, bis CV. Sriwijaya Lestari bahkan menerobos pos penyekatan. Setelah petugas mengejar bis tersebut, akhirnya dapat dipaksa untuk kembali ke pos.  dalam biss endiri ada penumpang yang hendak mudik. Merekapun tidak melengkapi syarat pemeriksaan rapid antigen.

Belum lagi dalam satu unggahan staf khusus Presiden RI, Fadjroel Rachman di twitter. Terdapat satu truk yang justru seolah-olah mengangkut barang. Tetapi ternyata dalam truk tersebut ada penumpang dan juga kendaraan sepeda motor. Padahal dari luar terlihat seolah-olah itu adalah muatan barang.

Kejadian tahun lalu, dimana ada mobil derek membawa sebuah mobil. Padahal mobil tersebut juga ada penumpang. Bukannya mobil yang rusak, tetapi seolah-olah mobil yang bersamalah kemudian diderek.

Kasus tahun lalu juga dimana penumpang rela untuk berjejal-jejal di bagasi bis. Seolah-olah bis tersebut kosong tetapi sejatinya ada penumpang di bagian bawah yang merupakan tempat bagasi.

Inilah kondisi-kondisi kasus di Indonesia. Dimana untuk urusan mudik, terkait dengan menuntaskan rindu itu sendiri.

Mereka sama sekali belum mampu memahami konteks larangan. Dimana hari-hari menjelang idulfitri ini, justru pertambahan penderita covid-19 semakin meningkat setelah penurunan angka di awal April lalu.

Bukan pula soal memahami, karena ini sisi emosi. Dimana lagi-lagi mudik sudah menjadi bagian dari kehidupan. Ketika tidak menempuhnya, ada kehilangan pada sisi perasaan dan juga suasana yang ada.

Melarang mudik, sesungguhnya merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk membatasi penyebaran virus. Hanya saja dengan pelbagai pengalaman masing-masing, justru ada yang mulai pesimis dengan kondisi yang ada. Sehingga mereka menjadi nekat untuk tetap menunaikan “kewajiban” mudik.

Apapun itu, kita kemudian mencatat bahwa setidaknya dalam dua idulfitri terakhir ini justru mudik tidak lagi dapat dilaksanakan. Mudah-mudahan ini menjadi pelarangan terakhir kalinya. Sehingga idulfitri yang akan datang dirayakan dengan kebersamaan. Kali ini, cukup dengan kesendirian.