Siang ini matahari menyorot tajam di atas ubun-ubun. Terik panasnya menyengat seluruh kerumunan massa di lapangan dekat alun-alun. Massa bergemuruh ramai layaknya lautan manusia dan mereka berdesak-desakan, hingga suara bising terdengar di seluruh hamparan alun-alun.

Tak seperti biasanya memang, alun-alun yang biasanya hanya ramai di sore hari dimana tempat orang menghabiskan waktu sorenya bersama keluarga.

Kini, ditengah panasnya terik matahari di lapangan alun-alun itu mendadak ramai orang berkerumun layaknya ada sebuah pertunjukan. Ternyata siang ini ada sebuah agenda kampanye dari seorang calon Bupati. Akhir-akhir ini memang sedang ramai pentas pemilihan kepala daerah.

Dan samudera wajah yang berkeringat itupun semakin bergemuruh ramai. Orang-orang tak sabar agar acaranya segera di mulai.

Akhirnya sang calon Bupati pun naik ke atas podium. Dan segera ia mendongakan mikrofonnya dan membuka selembar catatan pidato yang hendak dibacanya.

Namun, ketika ia hendak membacakan pidatonya, kerumunan massa di lapangan itu justru gaduh dengan suara gemerungsung. Sang calon Bupati pun terdiam. Namun suara gemerungsung itu makin keras. Sang calon Bupati kita, di podium tinggi itu,merasa tak dipedulikan. Hingga menghela nafas dan mencoba menenangkan massa yang gemerungsung ramai itu.

“Saudara-saudara. . .,”, pekiknya di depan mikrofon.

“Mohon perhatian . . ..”

Namun orang-orang tetap ribut. Sang calon Bupati pun kembali menghela nafas dan mencoba kembali menenangkan.

“Saudara-saudara. . . mohon perhatian, harap diam sebentar.”

Orang-orang tetap gemerungsung ramai. Mereka kepanasan. Mereka menunggu acara yang di idam-idamkannya: bukan pidato, melainkan lagu dangdut para penyanyi tenar yang sudah hadir di dekat panggung agar segera di mulai. Memang karena alasan itulah mereka berkumpul.

Dan sontak sekerumunan massa di lapangan itu berteriak keras dan berulang kali. Mereka berteriak, 

“Dangdut! Dangdut!”, ”Goyang! Goyang!”, Joged!”….. 

Sang calon Bupati kita pun mendadak berkeringat dingin. Ia seperti kena tampar. Ia merasa perlu unjuk wibawa, dengan nada sedikit keras ia berkata;

“Saudara-saudara mau diam atau tidak,”,

“Kalau tidak mau diam, saya lebih baik turun mimbar saja!”, katanya dengan suara keras membentak.

Namun ternyata orang-orang tetap tak peduli. Mereka tetap gaduh dan teriak tak beraturan. Hingga terdengar suara serempak di tengah kerumunan massa itu:

“Yah, turun saja!”

Sang calon Bupati pun menelan ludah, Ia mendadak merasa tak berdaya dan menngeluh dalam hati:

“ Ya Allah, kenapa jadi begini”

Sebagai seorang bekas “pejabat tinggi” ia merasa tak dihormati. Pengalaman yang tak pernah ia temui sepanjang hidupnya, yakni tak dipedulikan dan tak dihiraukan. Selama hidupnya, ia selalu berada di belakang meja besar, dengan jas dan dasi yang necis. Orang kantornya memandangnya dengan segan. Kerabatnya memandangnya dengan takut-takut, meskipun cuma ketemu di pesta hajatan.

Orang-orang dikompleknya selalu minggir untuk memberinya tempat di depan, waktu nonton wayang atau waktu sembahyang Jum’at. Tetangganya penuh hormat sebelum mendahului saat mau berjalan. Bertahun-tahun ia dibentuk oleh kelaziman untuk memandang tiap makhluk yang berkelebat di depannya cuma punya dua kategori: “bawahan” atau “atasan”.

Namun kini ia menghadapi segerombolan manusia yang tak peduli pada atasan dan hormat. Sekumpulan manusia yang tak bisa diatur menurut pangkat dan jabatan.

Ia bertemu rakyat. Ya inilah rakyat. Ia tak beraturan, tak sopan, bahkan terkadang bandel dan tak mudah diperintah. Karena rakyat bukanlah pegawai negeri atau karyawan yang selalu taat pada hirarki. Ia penuh dengan aneka keluh kesah, harapan, protes dan keinginan, yang seringkali tak akur. Ia tak perlu “diperintah”. Ia hanya perlu “diurus”.

Dan pendidikan politik tak bisa diberikan cuma beberapa jam, beberapa hari, ketika politik sudah seperti jenazah dalam laboratorium, dan hanya ditiup untuk sebuah upacara lima tahun sekali. Kampanye bukan pendidikan politik karena politik ialah kegiatan mencari dan memakai jalan untuk melaksanakan suatu cita-cita yang dianggap baik bagi masyarakat.

Kini kampanye telah berubah menjadi “show-business”. Hanya berisi para pesohor yang cantik, tampan, wangi, merdu, bertubuh bagus dan tak berkeringat. Mereka dipasang, atau memasang diri, sebagai orang-orang yang diharapkan dipilih dalam sebuah persaingan kekuasaan.

Tak penting agenda apa yang hendak diperjuangkan politisi/bintang dan bintang/politisi itu. Yang penting: nun di sana ada sosok audio–visual yang menarik. Apa yang disebut sebagai “massa” pun berubah. Massa yang dulu sebagai sumber kekuatan politik, kini jadi sumber kekuatan marketing. Sehingga tak ada lagi konsep warga negara, yang ada hanya konsumen.

Dan politik pun seolah-olah hanya semacam permainan kekuasaan yang ditentukan oleh kiat mengelabui dan berpura-pura. Politik cuma jadi intrik: sebuah pertarungan di suatu arena nun jauh di luar wilayah orang ramai dan tak pernah dipertanggungjawabkan kepada publik.

Saat orang pada sibuk dengan urusan masing-masing karena terdorong oleh kepentingan untuk kaya atau dapat posisi, masyarakat pun berangsur-angsur akan lepas dari proses politik yakni proses bersama untuk mengatur hubungan-hubungan kekuasaan yang bisa menyelesaikan persoalan yang menghimpit hidup mereka.

Banyak hal yang kemudian hanya diserahkan kepada sejumlah ”juru atur”, pemegang kekuasaan negara alias spesialis aman dan tertib. Apatisme masyarakat pun menyeruak, kesewenang-wenangan penguasa pun merayap.

Dan ketika politik mati, ia tidak mati karena bunuh diri.

Ketika mereka bertemu rakyat, ternyata rakyat sudah muak..

Ia tak lagi mau dijejali dengan tipu muslihat…