Pernahkah kita bertanya mengapa pemerintah memberikan batasan usia minimal bagi laki-laki maupun perempuan yang ingin menikah? Saking pentingnya akan hal ini, pemerintah sampai mengubah ketentuan minimal usia tersebut.

Disebutkan dalam Pasal 7 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang awalnya batas minimal usia bagi laki-laki adalah 19 tahun dan perempuan 16 tahun, sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 diganti bahwa keduanya harus berusia minimal 19 tahun.

Alasan sederhananya mungkin untuk menghindari dan meminimalisasi tingginya angka perceraian. Data dari badan statistik Jawa Timur, pada 2018, ada sekitar 339, 797 perkawinan. Di tahun yang sama pula, ada sekitar 88,955 kasus perceraian, baik itu cerai talak maupun cerai gugat

Peraturan dan angka perceraian di atas sengaja penulis sampaikan sebagai gambaran kecil, bagaimana jadinya jika kita memilih nikah muda hanya karena takut berzina.

Nama saya Mawar. Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak saya perempuan dan adik laki-laki. Keluarga kami berasal dari Madura, bapak dari Bangkalan dan ibu dari Pamekasan. Tetapi karena urusan pekerjaan, orang tua saya memilih tinggal di Surabaya.

Pada saat kelas 3 SD, orang tua saya memilih untuk pindah ke Denpasar, Bali. Alasannya sama, karena urusan pekerjaan. Sejak saat itu saya tinggal Bersama kakak, adik, dan kakek saya

Setelah lulus SD, kakak saya memilih ikut orang tua ke Denpasar. Tetapi saya tidak, saya memilih untuk tetap di Surabaya sampai saya lulus SMP.

Pada saat SMP inilah saya dipertemukan dengan lelaki yang saat itu saya merasa bahwa dialah calon imam yang baik bagi saya. Tanpa berpikir panjang, saya berpacaran dengannya. Sampai saya melanjutkan SMA di Denpasar, kami tetap berhubungan (LDR).

Setelah lulus SMA, saya melanjutkan studi di salah satu universitas di Denpasar. Entah karena apa, makin lama saya makin yakin pada lelaki pacar saya ini. Akhirnya kita membujuk orang tua masing-masing agar dinikahkan, alasan saya waktu itu “dari pada berbuat zina, dan bikin malu keluarga, menikah adalah jalan keluarnya”.

Atas restu orang tua, kami dinikahkan secara agama saja tanpa mendaftarkan ke KUA (nikah sirih). Tidak lama saya dikaruniai seorang putra. Sedangkan posisi suami saya masih lontang-lantung, mau beli rokok saja tiap harinya disubsidi oleh orang tua saya. Di sinilah penyesalan saya dimulai.

Semenjak lahirnya anak pertama, suami saya sudah mulai merasa tidak betah tinggal di rumah. Sama-sama berstatus sebagai mahasiswa, dia beralasan ingin segera menyelesaikan studinya, agar bisa hidup mandiri.

Saya tidak bisa menyebutkannya secara real, yang pasti pendidikan suami saya ini tidak memperbolehkan para mahasiswanya untuk menikah sebelum selesai masa studinya. Secara tidak langsung, pernikahan kami disembunyikan kebenarannya.

Waktu itu saya mengamini saja. Dengan besar harapan suami saya akan pulang dengan membawa kesuksesan sebagaimana yang dicita-citakannya.

Karakter asli suami saya makin tampak ketika saya hamil anak kedua, serta tingkah laku mertua yang seenaknya saja, memberikan uang sekian juta untuk mengugurkan janin dalam kandungan.

Suami saya merasa belum siap untuk memiliki anak lagi. Hal ini dijustifikasi oleh mertua yang tidak ingin punya cucu lagi untuk sementara. Mertua ingin anaknya untuk meyelesaikan studinya dulu. Sontak keluarga saya menolak dengan keras.

Sejak saat itu pula saya sering mendapatkan kekerasan dari suami dan mertua saya. Sampai pada suatu saat saya dipaksa untuk minum obat untuk memuluskan niatnya menggugurkan janin yang sedang saya kandung.

Tanpa berpikir panjang, saya memilih untuk pulang ke rumah orang tua. Tangis pun pecah ketika ibu mendengar cerita bagaimana perlakuan suami dan mertua kepada saya. Saya merasa saat itu pula sudah tidak ada gunanya lagi saya melanjutkan hidup.

Saya tidak bisa memaafkan kesalahan saya sendiri, tetapi ibu selalu menguatkan saya. Beliau berkata, “Tidak apa, ini belum berakhir, kamu masih bisa memperbaiki semuanya.”

Di saat semua mulai mereda, waktu itu usia kandungan saya sudah 9 bulan, suami saya seakan memberi secerca harapan. Melalui sambungan telepon, dia berkata, “Semuanya akan baik-baik saja, mari kita omongkan secara bijak di Surabaya.”

Oleh karenanya saya bersama kakak dan ibu saya memilih menyusulnya ke Surabaya untuk mendapatkan kejelasan. Dalam perjalanan inilah, selepas menyeberang di pelabuhan Gili Manuk, saya mengalami kontraksi.

Akhirnya keluarga membawa saya ke klinik dekat pelabuhan untuk proses persalinan. Sampai saat anak saya yang kedua ini lahir, suami saya tetap tiada kabar. Teleponnya sudah tidak aktif lagi.

Singkat cerita, sesampainya di Surabaya, saya tetap saja tidak bisa bertemu dengan suami saya, dihubungi tidak bisa, tetangganya tiada tahu keberadaannya. Saat itu pula hati saya menangis memikirkan nasib kedua anak saya, bagaimana nanti jika mereka menanyakan keberadaan bapaknya.

Setelah jauh-jauh dari Denpasar ke Surabaya dengan tangan hampa, kami memutuskan balik ke Denpasar. Saya merasa sudah tidak ada gunanya lagi memperjuangkan cinta lelaki yang tidak mau bertanggung jawab.

Teruntuk kalian para wanita yang sekarang sedang menjalin hubungan, jangan sampai menjadikan takut berzina sebagai alasan utama untuk nikah muda (nikah sirih). Memang terdengar begitu realistis, tetapi dampaknya menghabiskan banyak air mata.

Kurang lebih begitulah singkat cerita obrolan penulis semalam pada saat bertemu dengan kawan lama yang dipertemukan kembali di sebuah warung kopi. Kesimpulan yang penulis ambil dari kisah tersebut adalah apa pun alasannya, jangan nikah muda (nikah sirih). Agama memang membolehkan, tetapi wanita akan selalu dirugikan.