Dalam sebuah kehidupan pastinya pernah dikecewakan atau dikhianati hingga terkadang menimbulkan rasa takut dan sulit untuk membangun rasa percaya lagi pada seseorang. Hal itu bisa menjadi awal dari sebuah permasalahan kepercayaan yang tak jarang dialami oleh kebanyakan orang.

Di masa sekarang ini permasalahan kepercayaan sering disebut dengan istilah trust issue. Trust issue bukanlah persoalan yang sepele karena dikhawatirkan seseorang yang mengalami masalah tersebut akan mendapatkan dampak buruk bagi dirinya. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan trust issue itu?.

Trust issue adalah keadaan di mana seseorang memiliki masalah kepercayaan, lebih cenderung berfokus pada hal negatif. Mengansumsikan hal terburuk dan memperhatikan kelemahan orang lain daripada memperhatikan ketakutannya. Serta sering kali merasa tidak nyaman saat mempercayai atau mengandalkan orang lain.

Apabila dirasa kondisi trust issue sudah menguasai diri maka akan berdampak munculnya pikiran negatif, seperti spekulasi bahwa orang lain akan melukai, mencekal, ataupun pengkhianatan.

Istilah trust issue mungkin sudah tidak asing di telinga kita, trust issue kerap kali merujuk pada hubungan relationship. Namun, dapat juga terjadi pada hubungan antar pribadi. 

Masalah kepercayaan ini tidak selalu muncul akibat interaksi negatif di masa kecil. Namun, bisa juga karena pengalaman negatif seperti sering dibohongi, dikecewakan, diabaikan, dan dimanfaatkan oleh orang-orang terdekat kita yang kemudian memicu munculnya ketidakpercayaan di kemudian hari.

Sehingga secara tidak langsung tubuh kita memiliki naluri agar tidak mudah memberikan kepercayaan kepada orang lain. Ketakutan yang tidak bisa dikontrol menyebabkan diri kita sering menahan dan menutup diri dengan relasi-relasi sehat lain.

Keadaan ini membuat seseorang cenderung mempersiapkan diri untuk penghianatan atau kekecewaan. Reaksi spontan yang biasa dilakukan adalah menganggap bahwa semua orang tidak jujur atas apa yang mereka ucapkan.

Seseorang dengan masalah kepercayaan ini akan berusaha menghindari perasaan intim dan lebih memilih sendirian daripada mengambil risiko patah hati. Dalam kesendiriannya seseorang yang mengalami trust issue akan mencari bukti apakah benar seseorang jujur atas ucapannya atau tidak. 

Mungkin jika di lihat secara sekilas trust issue memang bisa terlihat baik atau buruk tergantung diri kita dan bagaimana melakukannya. Tetapi apabila masalah kepercayaan ini berdampak negatif maka sebisa mungkin diri sendiri harus cepat menangani kondisi ini.

Harus sadar jika masuk dalam masalah kepercayaan ini akan berakibat sulit untuk percaya lagi dan akan menghambat perkembangan diri. Karena dampak negatif yang dirasakan bisa berujung pada gangguan mental seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan trauma, skizofrenia, dan lain-lain.

Mengenal tanda-tanda trust issue yang harus diperhatikan:

  1. Terlalu fokus pada hal negatif, seseorang dalam menjalin sebuah hubungan seharusnya saling percaya dan melihat hal positif satu sama lain. Namun, apabila lebih cenderung fokus pada hal negatif ini bisa menjadi salah satu tanda masalah kepercayaan.
  2. Melakukan semua hal sendiri, perilaku ini mengarah pada perfeksionisme, stres, dan banyak bekerja yang dapat menyulitkan diri untuk bekerja secara tim. Karena merasa tidak nyaman untuk mempercayakan pekerjaan kepada orang lain.
  3. Selalu berasumsi bahwa tidak pernah ada yang jujur atau tidak mempercayai tanpa melihat keadaan.
  4. Kerentanan dalam sebuah hubungan dan memilih sendiri daripada menanggung kemungkinan risiko sakit hati.
  5. Menyimpan sesuatu untuk diri sendiri daripada berbagi cerita dengan orang lain.

 Tanda-tanda trust issue dapat di minimalisir dengan melakukan beberapa hal, yaitu dengan:

  1. Meningkatkan kesejahteraan psikis dan emosional yaitu dengan melakukan kebaikan untuk diri sendiri maupun orang lain.
  2. Belajar untuk selalu mensyukuri atas segala hal yang dimiliki.
  3. Mengingatkan diri tentang semua hal yang dikuasai atau kekuatan karakter yang dimiliki.
  4. Mengenang dan mengingat memori bahagia yang pernah dialami.
  5. Belajar sabar, ikhlas, dan memaafkan serta melepaskan kebencian.
  6. Memahami bahwa ada waktu untuk bersantai dan berhenti memikirkan hal-hal yang dapat menguras energi.
  7. Tahu cara untuk mengisi ulang energi fisik, mental, dan emosional dengan berbagai kegiatan yang relaxing.


Selain meminimalisir kemungkinan terjadinya trust issue, diri sendiri juga harus sadar untuk membangun kembali trust (kepercayaan) dalam sebuah relasi sosial. Karena sebagai makhluk sosial tentunya memerlukan adanya bantuan orang lain. 

Membangun kepercayaan dapat diawali dengan menerima kepercayaan (trust) itu, dibangun dengan membiasakan dalam rutinitas kehidupan dan berlatih terus menerus. Jika tanpa tekad nyata pemahaman dan menerima itu tidak akan berarti apa-apa. Membangun trust berarti memikirkan sesuatu yang positif dalam segala hal.

Memulai langkah dan berkomitmen untuk mengubah mainset bahwa membangun kepercayaan ini bukanlah sebuah tindakan berbentuk risiko atau tindakan yang penuh ancaman. Kita harus berusaha membuat diri sendiri berpikir bahwa ketidakpastian itu sebagai sebuah kemungkinan dan peluang.

Kepercayaan bukan suatu hal yang dapat dibangun dengan sekejap mata, melainkan melalui proses yang panjang hingga terjadi sebuah kebiasaan yang konsisten dalam sebuah hubungan. Kepercayaan yang mutlak dibutuhkan landasan yang kokoh untuk membangun relasi yang sehat.

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari adanya trust issue dalam tubuh. Setelah memahami tanda dan cara meminimalisir maka sebaiknya juga tahu apa saja dampak yang dapat terjadi. Diantaranya ialah:

  1. Menjadi pribadi yang posesif, dampak ini merupakan salah satu dampak terbesar yang mungkin terjadi.
  2. Menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
  3. Memicu tindakan abusif, abusif bisa disebabkan oleh masalah kepercayaan ini. Tidak hanya menuduh tetapi juga bisa main fisik.
  4. Menjadi pribadi yang overthingking, seperti yang diketahui masalah kepercayaan ini membuat seseorang selalu memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi ke depannya. Sehingga membuat seseorang menjadi berlebihan dalam memikirkan sesuatu hal


Pada akhirnya, seluruh permasalahan dalam diri seharusnya sudah menjadi kendali diri sendiri untuk mengatisipasi terjadinya dampak negatif. Mengendalikan diri dengan belajar berpikir positif dan berkembang setiap hari.

Serta tidak memaksa diri untuk memikirkan sesuatu yang berat adalah kunci. Namun lingkungan serta orang sekitar tentunya juga harus menjadi komponen penting yang mendukung.