The future teaches you to be alone // The present to be afraid and cold // So if I can shoot rabbits // Then I can shoot fascists
Bullets for your brain today // But we’ll forget it all again // Monuments put from pen to paper // Turns me into a gutless wonder
And if you tolerate this // Then your children will be next // And if you tolerate this // Then your children will be next // Will be next

—  If You Tolerate This, Your Children Will Be Next, Manic Street Preachers

Seorang anak perempuan mendengarkan lagu Manic Street Preachers dari kamar sebelah. Ia mengenakan kaus warna hitam dan celana jeans pendek selutut, ia memainkan ujung celananya yang robek, menarik beberapa benang dan melakukannya berulang kali.

Tetapi ia memilih untuk tidak begitu mempedulikan keributan kamar sebelah. Maklum saja, ibunya memilih untuk membangun usaha sewa kamar untuk anak kuliahan, apalagi mengingat kota ini adalah kota strategis hingga menjadi pilihan yang tepat untuk menjalankan bisnis ini.

Anak perempuan itu lalu memutar saluran televisi kabel di kamarnya, menaikan volume suara dan tengah menyaksikan salah satu film Romawi kuno. Seorang pria berbadan tegap dan penuh otot mengayunkan sebuah kapak dengan pegangan buntelan tongkat kayu dari pohon Betula pubescens terbaik ke atas meja dan mulai berteriak “Karena aku adalah liktor !” Di sampingnya berdiri magistrat yang terdiam namun kebingungan setengah mati. Kemudian melayanglah kapak itu sekali lagi. Layar televisi merah.

Anak perempuan itu terdiam menatap layar tanpa berkedip.

Beberapa saat kemudian layar kembali menyala.

***

Bagaimana kamu menyebut “Fasis.” Salah satu serial televisi yang diproduksi oleh Amazon Studios berhasil menarik perhatian banyak orang; The Man in the High Castle. Tidak ada yang begitu luar biasa, tetapi untuk serial televisi dengan cerita sejarah alternatif cukup menarik.

Rating untuk serial The Man in the High Castle mendapatkan 8.2/10 di IMDB dan 95% di Rotten Tomatoes, setidaknya cukup menarik untuk ditonton daripada beberapa pilihan serial televisi ala Fox Channel. Seperti yang di awal dikatakan, tidak ada yang begitu luar biasa, hanya saja sulit untuk membayangkan bagaimana Nazi berkuasa dan menguasai Amerika.

Beberapa orang pemuja Hitler tentu saja akan sangat menyukai serial televisi itu, tapi untuk beberapa orang juga bahwa ini hal yang mengerikan dan tidak layak untuk ditonton. Dalam pikiran mereka, membayangkan fasis berkuasa adalah hal yang sulit dibayangkan.

Seseorang otoriter yang membentuk suatu nilai dan sistem yang dianggapnya sangat ideal, dengan indoktrinisasi, perang, militer, dan omong kosong lainnya. Beberapa orang akan menganggap itu masuk akal, karena fasisme adalah suatu “keasyikan obsesif”—kumpulan militan nasional yang berkomitmen—seperti yang dikatakan oleh Paxton.

Jauh daripada itu orang-orang lupa bahwa fasis bukanlah hanya sekedar Adolf Hitler ataupun Mussolini ataupun seseorang otoriter nasionalis, tetapi fasis yang lahir dan tumbuh besar di kehidupan sehari-hari manusia. Kita tidak pernah menyadarinya. Fasis bukan hanya sekedar mengenai ideologi nasionalisme, bukan lagi pergerakan sayap kiri ataupun sayap kanan, karena fasisme itu sendiri tidak pernah menempatkan diri di keduanya.

Foucault menjelaskan fasisme dalam buku terjemahan Bahasa Inggris L'anti-Oedipe oleh Deleuze dan Guattari menekankan bahwa fasisme terjadi dalm kehidupan kita sehari-hari, di kepala kita dan dalam perilaku kita sehari-hari, fasisme yang menyebabkan kita untuk mencintai kekuasaan, keinginan hal yang sangat yang mendominasi dan mengeksploitasi. Masyarakat tidak lagi melihat seberapa mampu mereka menciptakan seorang fasis seperti Adolf Hitler ataupun Benito Mussolini—dalam konsep kenegaraan yang otoriter. 

Ketika Hitler Lahir dan Dewasa. Hitler bukanlah seorang anak yang begitu cerdas dan menjadi anak istimewa saat masa kecilnya. Hitler cenderung menjadi “aneh”. Masa remaja-nya terselamatkan dengan pemahaman nasionalisme—khususnya nasionalisme Jerman. Tetapi, tidak ada yang begitu terlalu buruk dengan masa anak-anak atau masa remaja Hitler.

Seperti layaknya masa remaja, ada konflik antara anak laki-laki dengan ayahnya, Hitler remaja yang berharap bahwa ayahnya akan membiarkannya mengizinkan dan menerimanya untuk menjalankan pendidikan yang ia inginkan. Tidak lama Alois Hitler meninggal dan seluruh perkembangan pendidikan Hitler menurun drastis.

Masyarakat pada umumnya akan mengamini sepenuhnya dengan konsep Freud akan konsep ideal sebuah keluarga: daddy-mommy-me (ayah-ibu-saya sebagai anak). Inilah yang kemudian kita kenal juga dengan konsep keluarga nuklir. Bahwa setiap anak akan mencari figur seorang ayah, karena ayah adalah kepala rumah tangga yang akan dianggap memiliki kapabilitas, kekuasaan pasti untuk mengatur keluarga, termasuk dengan masing-masing anggota keluarga.

Oedipus menginformasikan kepada kita, jika kita tidak mengikuti garis ayah-ibu-anak, maka kita tidak mengikuti alternatif itu dan masuk dalam konsep sebuah keluarga nuklir. Oedipus terkait pada semacam nasionalisme, agama, ataupun sentimen ras. Bukan sebaliknya (Nasionalisme, agama, atau sentimen agama yang terkait Oedipus).

Figur ayah bukanlah seseorang yang digambarkan sebagai bos, tetapi “bos” yang digambarkan sebagai figur ayah ini. Seperti Adolf Hitler yang kehilangan sosok bos dalam diri Alois Hitler begitu Alois meninggal dunia. Dalam konsep keluarga otoritas berada di tangan ayah dan fungsi lembaga keluarga adalah sebagai alat kontrol (bahkan mungkin alat kendali) pada anak.

Selepas ibu Hitler meninggal, Hitler tinggal di sebuah penampungan tunawisma di Wina. Saat itu, antisemitisme  di Wina merupakan hal yang biasa dan tentu saja Hitler mendapatkan asupan antisemitsme melalui situasi politik saat itu hingga kemudian ia menjadi antisemit.

Jangan dilupakan bahwa Hitler sangat menyukai dengan nasionalisme Jerman. Saat ia masuk dalam Angkatan Darat, ia bahkan mendapatkan Eisernes Kreuz—medali militer dengan simbol salib besi sebagai bentuk penghargaan—dari Second Class hingga First Class. Dan masyarakat membantu membesarkan Hitler hingga akhirnya ia menjadi Führer, pemimpin absolut Nazi Jerman.

Dalam pikiran kita bagaimana bisa tentara-tentara Jerman melakukan Holokaus , sebuah tindakan paling biadab di muka bumi ini. Tentu saja selain perkara masalah statistik (angka red), itu merupakan hal yang paling tidak bisa diterima, karena denaturalisasi adalah sesuatu yang menjijikan dan biadab. Dan tindakan ini tidak hanya diamini dan dilaksanakan oleh tentara-tentara Jerman.

Tentara-tentara ini hanya salah satu bagian dari kenegaraan, ada komponen lain yang juga menjadi andil, masyarakat Jerman. Antisemitisme ini sudah lama sebelum Holokaus terjadi. Dan ketika Holokaus terjadi, tidak ada satupun yang menyatakan solidaritas kepada orang-orang Yahudi—bahkan seperti institusi agama Gereja-gereja.

Dan fenomena bagaimana individu dan kelompok masyarakat ini melakukan hal di laur keinginan atau hasrat mereka? Bagaimana orang-orang ini mengatakan “ya” saja kepada peraturan atau sistem. Apakah mereka takut? Psikiater dari Wina, Wilhelm Reich, telah mempertanyakan itu dalam bukunya, The Mass Psychology of Fascism; “Mengapa massa beralih kepada otoritarianisme meskipun itu jelas bertentangan dengan kepentingan mereka?”.

Reich menganalisa fenomena ini dari struktur ideologi masyarakat Jerman dengan menyebutnya Bolshevism atau Fasisme Merah dengan represi seksual yang mereka pelajari dari kelaurga nuklir mereka. Dan bagaimana Nazi memprovokasi atau memanipulasi alam bawah sadar dengan membangkitkan fantasi Primal scene  melalui penggunaan simbol Swastika  sebagai simbol agama.

Oedipal Triangle: Hitler, Mussolini, Soeharto. Fasisme bukan hanya terjadi di Jerman atau Italia, tetapi juga di negara lain, bahkan Amerika sekalipun dan juga Indonesia. Karena fasisme bukan hanya sebuah pegerakan atau ideologi nasionalis otoriter yang diucapkan oleh seorang diktaktor macam Hitler atau Mussolini, tetapi juga yang diamini oleh pemerintahnya dan juga masyarakatnya.

Sejarah Orde Baru banyak mencatat tidak hanya satu dua persoalan tindakan represif Soeharto, bukan hanya Mafia Berkeley , tetapi seperti isu rasisme dan anti-PKI yang menyebabkan pembunuhan massal dengan jumlah korban yang menyampai hingga 500.000 orang. Rezim Orde Baru mengeluarkan pernyataan mengenai pembersihan politik PKI dengan pencabutan jabatan, hukuman penjara, hingga pembantaian besar-besaran seperti pembantaian PKI 1965 - 1969.

Tidak hanya angkatan bersenjata Indonesia yang turut serta dalam melakukan pembantaian, tetapi juga kebanyakan masyarakat Indonesia pada saat itu. Sebelum Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, pembantaian dan penjarahan etnis Tionghoa terjadi di tahun 1965 - 1969 yang diduga juga terkait dengan partai komunis Indonesia.

Tidak hanya di Jawa, pembersihan politik juga terjadi di luar Jawa, seperti Sumatera, Bali, Kalimantan, hingga lainnya. Di Kalimantan puluhan ribu suku Dayak diusir dari tempat tinggal mereka, yang mengharuskan mereka ke luar dari Indonesia.

Kerusuhan Mei 1998 tidak hanya penembakan terhadap para aktivis dan mahasiswa-mahasiswa, tetapi juga pembantaian, penjarahan, hingga pemerkosaan etnis Tionghoa terkait isu rasial. Kita mengenalnya dengan Indonesia “anti-Cina”.

Ketakutan masyarakat bahwa pada saat krisis moneter Indonesia, orang-orang etnis Tionghoa menguasai perekonomian Indonesia hingga menyebabkan krisis ekonomi di tahun 1998—seperti ketakutan masyarakat Jerman ketika orang-orang Yahudi mulai menetap di Jerman. 

Akar Fasisme dalam Keluarga Indonesia. Mekanisme kekeluargaan Freud (daddy-mommy-me) menggambarkan umumnya mekanisme keluarga nuklir, begitupun mekanisme yang berada di Indonesia. Di antara lembaga-lembaga lain sebagai agen paling kuat, lembaga keluarga adalah agen dari yang paling kuat dalam memberikan represi psikologis seorang anak.

Lembaga keluarga di Indonesia yang secara umum menempatkan kekuasaan pada ayah sebagai kepala rumah tangga. Sistem yang diterapkan adalah sistem patriarki—yang bahkan secara indegenous tak selalu patriarkis. Figur ayah adalah yang kerap menuntut anak untuk menjadi apa yang diinginkan, alih-alih bahwa mereka yang melahirkan dan membesarkan anak—termasuk figur ibu di dalamnya yang turut mengamini.

Lembaga keluarga meng-oedipal-kan sebuah keluarga di dalamnya yang membuat anak menjadi konformis terhadap ambisi ayah dan ibunya. Ketakutan anak untuk tidak mengkoreksi apa yang orang tua mereka katakan karena secara hirarkis, otoritas tertinggi ada pada orang tua, di mana anak diharuskan untuk patuh.

Kepatuhan dan ketakutan menggambarkan bagaimana kondisi sebuah lembaga keluarga di Indonesia pada umumnya. Bekas-bekas peninggalan di zaman dahulu yang tidak dapat ditinggalkan oleh banyak orang Indonesia hingga saat ini adalah feodalisme.

Pramoedya Ananta Toer menuliskan mengenai sifat Jawanisme dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian; “Jawanisme adalah setia dan taat kepada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme. Fasisme yang tidak memperbolehkan adanya perlawanan dan oposisi. Taat dan setia yang membabi-buta dan tidak memikirkan pihak lain sama sekali.”

Melanjutkan Kisah Hitler, Sang Penggembala. Kembali kepada Wilhem Reich yang mempertanyakan bagaimana banyak orang yang mengikuti instruksi seorang otoriter meskipun berlawanan dari keinginan mereka, bagaimana tidak hanya tentara-tentara Nazi ataupun prajurit lainnya yang patuh tanpa mempertanyakan, melainkan kita dan masyarakat lainnya juga.

Bagaimana orang-orang berteriak dan menangis “More taxes! Less bread!”. Hal ini yang kemudian dijawab oleh eksperimen-eksperimen psikolog Asch dan Milgram. Dalam “The Milgram experiment”, Milgram melakukan percobaan kepatuhan kepada otoritas terhadap tiga kelompok; 110 psikiatri, mahasiswa, dan kelas menengah.

Eksperimen kepatuhan tersebut bekerja dengan cara di mana ada dua orang yang dipilih oleh Milgram untuk berperan sebagai The Experimenter (Otoritas) dan Student (Subyek yang sudah memahami eksperimen tersebut dan berperan menjadi pelajar atau “subyek eksperimen”). Satu individu lagi adalah relawan yang berperan sebagai “Pengajar” yang memberikan pertanyaan sekaligus memberikan hukuman berupa kejutan listrik apabila si pelajar atau subyek eksperimen ini salah dalam menjawab pertanyaan.

Untuk tiap pertanyaan berikutnya yang salah, hukuman kejutan listrik akan dinaikan 15 volt - 450 volt. Setiap jumlah volt kejutan listrik dinaikan sesuai yang diinstruksikan otoritas, kebanyakan dari pengajar akan merasa keberatan dan mempertanyakan apakah yang dilakukannya benar.

Namun, ketika otoritas mengatakan untuk melanjutkannya, kebanyakan dari pengajar akan tetap melanjutkannya meskipun hal tersebut bertentangan dengan prinsip mereka. Hal ini yang kemudian dapat disimpulkan dari eksperimen Milgram bahwa kebanyakan orang akan mengikuti instruksi apapun selama instruksi tersebut berasal dari otoritas.

Padget mengatakan; “Lebih mudah memperlakukan seseorang dengan kejam jika orang tersebut memiliki hubungan yang tidak dekat atau tidak terikat secara personal.” Inilah juga yang membuat masyarakat memiliki kecenderungan untuk bertindak kejam terhadap orang yang bagi mereka tidak memiliki hubungan personal.

Misal saja ketika ibu-ibu rumah tangga yang memilih untuk memberikan komentar kejam kepada selebriti berdasarkan acara infotaiment ataupun netizen-netizen di Internet. Seperti arsitek genosida Nazi, Heinrich Himmler yang merancang kamar gas beracun untuk tidak menciptakan “ikatan personal” antara pembunuh dan korbannya.

Mengakhiri Sejarah Sang Penggembala. Kecenderungan masyarakat adalah mengikuti aturan-aturan dalam lembaga pemerintahan, lembaga masyarakat, atau bahkan lembaga keluarga dikarenakan lembaga-lembaga tersebut dianggap memiliki otoritas untuk menentukan benar atau salah.

Selayaknya domba-domba yang mengikuti gembalanya, masyarakat cenderung untuk mengikuti apapun yang dianggap si gembala ini benar dan mengatakan; “Sure, I follow the herd—not out of brainless obedience, mind you, but out of deep and abiding respect for the concept of community”.

Seperti halnya para terdakwa di sidang Nuremberg, di mana banyak perwira-perwira Nazi yang telah melakukan kekerasan dan kebrutalan di era Perang Dunia II selalu menjawab dengan satu kalimat yang terkenal dengan The Nuremberg Defence; “Befehl ist Befehl. Saya hanya mengikuti perintah.”