2 tahun lalu · 591 view · 4 menit baca · Agama download_11.jpg
https://soeloehmelajoe.files.wordpress.com

Ketika Maling Bersedekah

Dihadapkan pada makhluk lainnya, manusia memang sempurna. Tapi dibalik kesempurnaan tersebut, manusia adalah makluk yang amat mudah ditipu, gampang terpukau dan diperdayai.

Di dunia ini, banyak sekali pencuri yang cerdas dan penuh strategi. Dengan melemahnya nilai-nilai agama, diikuti menguatnya suasana kehidupan masyarakat yang makin matrealis dan pragmatis. Ketidak-kritisan dan kebodohan masyarakat melanggengkan praktik-praktik pencurian skala nasional.

Langit yang biru (atmosfer) sengaja diasapi dengan polusi pabrik-pabrik, biar cuaca-musim jadi tak menentu. Lalu para petani gagal panen dan pekerjaan menanam padi, jagung, kedelai dan cabai menjadi tidak menarik alias merugi. Akhirnya tanaman yang potensial bertahan dan menguntungkan hanya tanaman tembakau untuk rokok.

Ramai-ramai petani menanam tembakau, diikuti pendirian pabrik-pabrik rokok oleh pengusaha yang sebelumnya berkongkalikong dengan Kepala Daerah. Karena Indonesia menjadi sentra produsen rokok, lintingan beracun ini pun amat terjangkau dan dapat dibeli oleh orang termiskin sekalipun. Sifatnya yang bercandu, rokok tentu saja sekali dikonsumsi, akan menyandera para pengisapnya. Tak terkecuali petani miskin dan buruh kasar.

Perusahaan rokok juga sama liciknya dengan perusahaan sawit atau teh. Hutan ditebangi, petani dipaksa oleh keadaan agar menanam tanaman yang dibutuhkan pabrik. Anak-anak petani dipekerjakan dipabrik mereka. Tahun berganti tahun, perusahaan tersebut berhasil menumpuk laba, sedang buruh masih tetap digaji secukup untuk makan sehari-hari. Bos perusahaan menjadi sangat kaya, buruhnya yang ribuan itu tetap melarat.

Ketika alam telah rusak, udara tercemari dan orang miskin terjerat candu rokok, perusahaan dengan manisnya membuat program-program sosial. Dengan ‘’kebaikan hati’’ tersebut, perusahaan memberi beasiswa, bantuan beras saat banjir, keringanan pengobatan bila rakyat sakit dan beriklan di TV kalau Perusahaan berhasil menanam ribuan pohon, berharap perusahaan tersebut diapresiasi masyarakat karena peduli lingkungan.

Saya tidak tahu harus bertepuk tangan dan mengucapkan ‘’terima kasih’’. Atau berkata sebaliknya dengan meneriaki mereka ‘’Pencuri’’. Bagaimana mungkin, pihak yang telah merenggut cuaca kita, sumber air kita, ekosistem kita dan seluruh keindahan alam kita, dapat dengan mudahnya mencitrakan dirinya perusahaan baik hati dan dermawan. Bahkan Pemerintah dengan bangganya mengapresiasi praktik cuci dosa tersebut.

Iya, praktik cuci dosa sudah menjadi umum saat ini. Pejabat yang biasanya hidup menghamba kesenangan dan kemewahan, bila telah tertangkap KPK, tiba-tiba bergaya sok agamis dan paling Islami. Pengusaha yang biasanya menciprati pengemis dengan air got yang dilibas ban mobil mewahnya, pada musim Pemilu tiba-tiba blusukan ke rumah-rumah kumuh biar dianggap sok merakyat dan pro wong cilik.

Bahkan dalam dunia asmara pun begitu tren-nya sekarang. Seorang pria dengan mudahnya memperawani kekasihnya untuk senang-senang. Untuk menghindari dilaporkan ke Polisi, dia menikahinya. Seolah dengan itu dia sudah bertanggungjawab dan lolos dari hukuman. Tiga bulan usai menikah, si lelaki sengaja menciptakan cekcok dan pertengkaran, lalu dengan itu semena-mena menceraikan dan melepas diri dari pertanggungjawaban.

Oh Indonesia. Orang-orang miskin tak berpendidikan selalu jadi sasaran pembodohan. Hari ini, maling yang telah sedemikian kejam merenggut kehidupan orang-orang lemah, dapat dengan mudahnya difasilitasi mempercantik diri di depan publik. Maling keringat buruh, pencuri ketentraman sosial, perampok nilai-nilai, perusak kesejahteraan rakyat. Dan anehnya maling tadi bisa dakwah dilayar TV tiap hari.

Ada maling, tapi dia bersedekah. Seolah dengan itu dia dermawan dan orang baik. Iya, mereka benar-benar maling. Setelah bertahun-tahun mencuri, lalu pergi haji berkali-kali agar dipanggil pak Haji. Panggilan haji supaya dianggap terhormat dan dipandang baik. Tapi mana ada maling yang terhormat? Kecuali di Indonesia. Bagaimana mungkin kita menerima sedekah, padahal pemberiannya itu adalah milik kita sendiri yang sebelumnya dicurinya.

Sedekahnya pencuri itu bukan sedekah beneran. Donasinya koruptor itu hanya donasi-donasian. Sumbangan Bos sawit untuk anak yatim yang bapaknya mati karena menghirup asap dari kebakaran hutan yang dibakar anak buah perusahaan rokok tadi, itu bukanlah sumbangan, tapi uang penebusan nyawa bapaknya.

Penanggungan biaya pendidikan bagi anak yatim yang orangtuanya tewas ditabrak anak artis yang sengaja dibiarkan menyetir bapaknya meski tak punya SIM, itu sama sekali bukan kemurahan hati, tapi pembunuhan yang menyelinap. Bila ada orang berjenggot yang teriak ‘’Jangan Pilih Pemimpin Kafir’’, itu sebenarnya bukan ajakan untuk menegakkan agama, tapi anda diajak jualan agama pada musim Pemilu.

Faktanya anda tidak sedang dikasihi atau dimuliakan, tapi dibodohi. Anda tidak perlu kagum dengan Presiden yang mau turun ke gubuk rakyat, lha memang kita bayar dia untuk itu. Untuk menghibur saat rakyat lelah. Untuk memijati kaki-tangan saat buruh letih usai bekerja. Untuk bernyanyi dan mendongeng saat malam, agar rakyat dapat tidur nyenyak serta tentram. Intinya, jangan pernah takjub pada sesuatu yang sebenarnya wajarnya.

Saya tegaskan pada anda, jangan pernah mau dibodohi. Jangan mudah tertipu. Di zaman pencitraan hari ini, para maling, koruptor, perampok, preman, pemerkosa, penjambret atau pembunuh, makin ahli menyamar dengan bertopeng jadi orang-orang baik. Untuk jadi tokoh agama pun, anda hanya butuh berjenggot panjang dan memakai sorban putih. Lalu anda rajin mengumbar kata ‘’kafir’’, itu telah cukup memberimu banyak pengikut.

Untuk menjadi orang terkenal, anda cukup jadi pengusaha atau pejabat yang menyedot kekayaan masyarakat lewat berbagai cara. Hasil dari penjarahan tersebut dapat anda manfaatkan untuk membeli media dan pemberitaan; bahwa anda adalah orang baik yang merakyat. Sangat mudah. Hari ini, sangat banyak sekali jumlahnya maling yang bersedekah dan pencitraan model begitu.

Bila anda hidup diantara orang bodoh dan tidak kritis, anda dapat dengan mudah mencuri. Lalu anda bisa sedikit berbagi dari uang curian itu dan orang-orang akan memandang anda sebagai seorang dermawan, pahlawan, sosok pro rakyat dan terhormat. Itulah faktanya sekarang. Dengan uang, sangat mudah sekali iblis tiba-tiba memakai baju malaikat dan berwajah bidadari. Terlebih bila momennya pas saat musim Pemilu.