Akibat kontrak politik yang menjadikan Jakarta sebagai Ibu kota Republik Indonesia, imbasnya Jakarta menjadi kota yang paling padat, sibuk dengan beragam aktifitas. Politik, bisnis, dan karier berpusat di sini.

Gedung-gedung tinggi yang mewah, ditambah polesan cantik dari berbagai media, membuat orang-orang di pelosok negeri ini sumringah ketika menjajakkan kaki ke kota ini.

Teman lama saya yang dari daerah suatu hari pernah berkunjung ke Jakarta. Anehnya, yang pertama kali ini minta adalah ingin di ajak jalan-jalan di jalan protokol Jakarta, seperti Sudirman, Senayan, dan beberapa kali keliling bundaran HI.

Tahukan bagaimana macetnya jalannya ini ?

Bahkan saking paniknya, pemerintah membuat peraturan sistem ganjil genap akhir bulan ini untuk mengurangi ‘teror’ macet.

Jika diurut, kebijakan pemerintahan Ahok dalam hal mengurangi macet ini terhitung banyak. Dari maksimalisasi pelayanan transportasi umum, seperti busway, commuter line, dan penghapusan aturan tri in one.

Jika Ahok begitu semangat mengurai kemacetan, justru bagi teman saya tersebut, macet itu adalah destinasi wisata baginya.

Maklumlah, bagi dia yang hidup di kawasan perdesaan, tiap hari yang biasanya melihat kerumuman bebek-bebek terjebak ‘macet’ di area persawahan, sekarang lihat deratan mobil sekelas alphard, bmw, dan mobil lainnya yang terjebak macet di jalan raya.

Baginya, ini adalah wisata alam. Tapi bagi kita yang sudah tiap hari terjebak macet, ini adalah kutukan.

Selama ini, sisi Jakarta yang terlihat adalah sisi kerasnya kehidupan disini. Keamanan sosial yang masih belum terjamin secara maksimal, menjadikan Jordane Rane, seorang jurnalis dari CNN pernah menasbihkan Jakarta sebagai di urutan nomor tujuh kota yang paling dibenci  di dunia.

Kendati Rane ‘membai’at’ kota ini sebagai kota yang dibenci, namun bagi kita yang sudah lama menetap di sini, kita tetap cinta Jakarta. Karena kota yang sering disebut sebagai kota yang kejam dan keras ini sebenarnya menyimpan banyak kenangan indah disetiap sudutnya.

Jika warga Indonesia ingin move on dari Jakarta, itu sama ingin move on dari negeri ini. Jika warga Indonesia benci dengan Jakarta, itu sama saja dengan benci dengan negeri ini.

Sebab, setiap sudut kota ini adalah menyimpan cerita-cerita heroik dari para pahlawan kita, dan proklamator kita.

Beragam cara sudah dilakukan oleh pemerintahan sekarang untuk ‘mempercantik’ wajah Jakarta. Penataan bangunan liar diberbagai sudut ibu kota sudah dibenahi, sungai dan kali yang dulunya kotor dan bau, sekarang sudah bersih. Banjir yang hampir jadi teror tiap tahun bisa diredam dengan sistem penataan pengairan yang handal.

Pun sebaliknya dengan rekayasa lalu lintas yang sudah mulai serius ditata. Sterilisasi jalur busway diperketat, aturan 3 in 1 dihapus, pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) yang progresnya tiap hari jelas, dan pengawasan aturan sistem genap ganjil yang sudah ditata seserius mungkin.

Sederet kebijakan tersebut adalah langkah serius dari pemerintah untuk mempercantik dan memperelok kondisi Jakarta. Agar kelak, bagi warga daerah yang ingin berkunjung ke Jakarta, alasan utamanya adalah untuk melihat kerapian, dan keindahan dari setiap sudut Jakarta. Bukan seperti teman saya tadi, yang berkunjung ke Jakarta ingin menikmati macet.

Jika tata ruang diperbaiki, lalu lintas dibenahi, maka bagaimana dengan ancaman kejahatan sosial yang setiap hari susah untuk diredam?

Apakah revolusi mental bisa menjadi solusi? Saya harap itu bisa menjadi jawaban. Tapi apa yang terjadi sekarang, program utama Jokowi ini seakan-akan kehilangan arah dan substansinya. belum ada program yang jelas dari pihak pemerintahan pusat, khususnya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Semoga bukan hanya pembangunan dan penataan fisik saja yang dilakukan pemerintahan secara serius, tapi pembangunan dan penataan jalan pikir dan mental manusianya juga harus ditangani dengan serius.