Petualang
2 bulan lalu · 14023 view · 5 min baca menit baca · Pendidikan 27525_12788.jpg
seadot.in

Ketika Lulusan Australia Bunuh Diri karena Tak Dapat Kerja

Belum lama ini, seorang perempuan muda lulusan perguruan tinggi dari Australia bunuh diri dengan terjun dari lantai empat sebuah mall di Jakarta Utara. Usut punya usut, perempuan berinisial CV itu nekat menghabisi nyawanya karena frustrasi lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan meski sudah jauh-jauh sekolah di Negeri Kangguru.

Kabar ini sungguh membuat hati kita tersayat-sayat. Betapa tidak, apa yang dialami CV sebenarnya juga dirasakan oleh banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Sudah disekolahkan tinggi-tinggi, tetapi masih saja sulit mendapatkan pekerjaan.

Lowongan kerja memang banyak, tetapi kebanyakan yang ada hanya tawaran untuk menjadi sales, dengan besaran gaji misterius. Bahkan sering pula, ketika melamar, bukan posisi itu yang kita incar. Tetapi begitu datang panggilan wawancara, ujung-ujungnya diarahkan untuk jadi sales lagi.

Hidup memang kejam. Bahkan ketika tak ada hukum yang menjerat pun, kita tak lantas bisa lega. Mulut masyarakat bisa lebih kejam dan sadis dari penjara. Maka, terkutuklah orang-orang yang masih sempat-sempatnya mengatai-ngatai CV dengan kata-kata ‘bodoh’, ‘tolol’, dan sejenisnya.

CV tentu bukannya tidak berusaha. Almarhumah pasti telah berusaha. Dan sebagaimana kita, pastilah dia pilih-pilih dalam mencari pekerjaan. Apalagi dia lulusan Australia.

Tetapi, lagi-lagi, apa boleh dikata, mulut masyarakat kita memang luar biasa tajamnya. Saya paham, dia berada di posisi serbasalah. Di satu sisi, dia salah karena tidak kunjung mendapat pekerjaan karena terlalu memilih. 

Di sisi lain, kalau dia mau mencari atau menerima pekerjaan tanpa gengsi, itu juga salah. Untuk yang terakhir ini, orang-orang pasti akan bilang, “Huh, percuma kuliah di Australia, ujung-ujungnya cuma jadi pegawai bank!”

Oke, CV mungkin bodoh dan tak bijaksana, atau gegabah mengambil keputusan. Tetapi pernahkah kalian merasakan hebatnya tekanan dari masyarakat, terutama orang-orang terdekat?

CV memang tidak sendirian dalam menanggung malu akibat menjadi pengangguran walau sudah sekolah tinggi-tinggi. Di luar sana, banyak juga yang mengalaminya. 


Sebagian mereka beruntung karena bisa membuka usaha sendiri atau menjalankan usaha milik orang tuanya. Sebagian lainnya juga beruntung karena punya kuping dan muka tebal hingga bisa menjadi perisai buat membendung lancipnya moncong orang-orang.

Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak beruntung? Bagaimana dengan orang-orang seperti CV, yang mungkin orangnya baperan? Ini jelas tidak boleh kita hujat, Bos!

Saya sendiri pernah merasakan tekanan serupa. Saya lulus S2 Filsafat, dari UGM pula, tetapi tidak lantas mendapatkan pekerjaan. Di mana-mana, lamaran saya tak jelas nasibnya. Entah diterima entah tidak, entah dibaca entah tidak. Masih mending jika ditolak, ini dicuekin.

Mengenai ini, pernah saya tulis tahun lalu dan banyak komentar yang mengatai saya sebagai orang yang kolot, karena masih berharap bekerja di perusahaan alih-alih membuka usaha sendiri setelah lulus S2. 

Pada prinsipnya, saya akui, tak ada yang salah dengan komentar orang-orang itu. Bahwa lulus kuliah, apalagi S2, semestinya bisa berpikir lebih luas, bisa membuka usaha dan membuka lapangan pekerjaan. Tetapi, sayangnya, tidak semudah itu, Slamet! Saya masih perlu belajar dulu bagaimana menjalankan usaha dengan modal terbatas. Saya juga harus belajar merintis dan jatuh-bangun.

Karena itu, cukuplah perdebatan soal apakah lulusan perguruan tinggi harus bekerja di perusahaan atau membuka usaha sendiri. Tak akan ada habisnya itu, Kawan!

Syahdan, setelah hampir setahun menunggu, akhirnya memang ada satu perusahaan di Jakarta yang mau menerima saya sebagai editor. Tetapi ternyata, bekerja di perusahaan itu membuat saya tak nyaman. Tanpa pikir panjang, baru sebulan, saya langsung mundur dari perusahaan itu.

Dan dari sinilah tekanan itu menjadi berlipat-lipat. “Sudah bagus-bagus kerja dapat gaji 8 juta, kau malah resign. Sekarang kau kerja apa?” kata orang tua saya melalui telepon.

Orang tua saya makin meradang ketika tahu bahwa saya memilih menjadi pegiat literasi, dengan penghasilan yang jelas tak ada apa-apanya dengan pekerjaan yang sempat saya lakoni selama sebulan itu.

“Untuk apa kau ke sekolah-sekolah, ngajari anak-anak menulis kayak gitu, kalau tak ada duitnya? Percuma kau sudah S2!” kata orang tua saya lagi.

Tekanan-tekanan seperti itu jelas bukan angin yang bisa ditampik sambil berlalu. Betapa pun kerasnya saya mencoba cuek dan meyakinkan diri bahwa bekerja tak melulu soal besaran gaji, tetap saja omongan-omongan seperti itu terngiang-ngiang di kepala.

Terutama ketika saya harus menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk menimbang-nimbang, mau beli susu kaleng murni atau beli susu kental manis, atau saat memilih beli nasi bungkus pakai lauk telur atau tempe goreng. Apalagi, lamat-lamat saya mendengar omongan-omongan itu juga diucapkan oleh teman-teman di belakang saya.

Belakangan, mendekati lebaran, saya jadi cemas mau pulang kampung. Kalau dari jarak jauh saja sudah sebegitu tajamnya mulut orang-orang, bagaimana pula jika saya hadir di tengah-tengah mereka?

Belum lagi, orang tua saya sempat bilang begini beberapa hari lalu: “Awas saja kalau kau pulang nggak bawa uang!” Tiket pesawat yang sudah saya beli dengan susah payah karena harganya naik tiga kali lipat, rasa-rasanya ingin saya batalkan saja.

Jadi, itulah kenapa, ketika membaca berita ada seorang perempuan lulusan Australia yang bunuh diri karena tak kunjung mendapat pekerjaan, saya jadi larut dalam kesedihan, sekaligus menyesalkan.

Namun, menyalahkan pihak-pihak tertentu rasanya juga tidak bijaksana. Menyalahkan orang tua atau orang-orang terdekat almarhum, misalnya, tentu tidak sepenuhnya tepat. 

Orang tua CV jelas menanggung malu melihat anaknya, yang sudah disekolahkan jauh-jauh, malah jadi pengangguran. Ini, menurut saya, hanya semata efek kupu-kupu dari kekeliruan pola pikir dan sistem yang terlanjur mengendap dan berlaku di masyarakat.

Andaikan pola pikir masyarakat dapat diubah, dari berpikir bahwa ‘kuliah untuk kerja’ menjadi ‘kuliah untuk menimba ilmu’, misalnya, tentu kejadian seperti ini tak akan terjadi. Atau, andaikan untuk mendapatkan pekerjaan tidak perlu yang namanya selembar ijazah, kejadian itu juga mungkin tak akan terjadi. Kerja ya kerja saja. Kuliah ya kuliah saja.

Kalaupun ilmu yang didapat dari kuliah bisa diterapkan di dalam pekerjaan, itu ya lain cerita. Tetapi, buktinya selama ini bagaimana? Tidak selalu demikian, bukan?

Belum lagi, faktanya, dalam dunia kerja, terutama di Indonesia, selain ijazah, juga perlu faktor relasi. Tak usah munafik. Bahkan di instansi-instansi pemerintahan sekalipun, faktor yang satu ini sangat menentukan diterima atau ditolaknya seorang pelamar.

Menyalahkan pemerintah karena gagal menjamin ketersediaan lapangan pekerjaan bagi putra/putri bangsa? Ini juga berat. Pemerintah kita sudah sibuk dengan urusan tambang dan rencana memindahkan ibu kota. Jangan ditambah-tambahi bebannya oleh urusan banyaknya anak muda yang pengangguran. 

Akan selalu ada banyak orang yang tidak sepakat dengan ide ini dan mereka akan bilang, “Jangan salahkan pemerintah. Salah diri lo sendiri tidak mau/malas berusaha!” Mereka lebih pemerintah dari pemerintah itu sendiri.

Media massa kita juga tak bisa kita salahkan. Kita maklumi saja, media massa kita lebih suka mengambil kesempatan di tengah konflik tak berkesudahan antara Cebong dan Kampret. 

Jadi, ketimbang mem-blow-up dan merancang agenda liputan mengenai peliknya masalah pengangguran sampai-sampai ada seorang lulusan Australia yang bunuh diri, media massa kita lebih memilih menggoreng ucapan-ucapan konyol yang keluar dari mulut-mulut politisi sampah. Goreng terus sampai gosong. Masalah pengangguran, mah, nggak banyak yang baca.


Lalu, kalau orang-orang terdekat bukan, media massa bukan, pemerintah juga bukan, lalu salah siapa? Salah Tuhan? Enak saja menyalahkan Tuhan. Sudah bersyukur diciptakan, dikasih napas, dikasih umur yang panjang, dikasih berkah yang melimpah, masih berani menyalahkan Tuhan? Jangan coba-coba! 

Ingat, delegasi Tuhan banyak di bumi. Dan belakangan, mereka lagi senang menetap di Indonesia.

Terus salah siapa dong? Bukan salah siapa-siapa. Salahmu sendiri, buka-buka HP, lantas baca berita menyedihkan itu.

Artikel Terkait