Beberapa waktu yang lalu, seorang mama datang ke bimbel saya. Beliau meminta pendampingan khusus untuk anaknya menghadapi masa Penilaian Akhir Tahun. Sebenarnya beliau sudah lama berlangganan les di tempat saya, tetapi ketika masa pandemi berlangsung, selama itu pula jadwal les anaknya minta diliburkan dulu. Kebetulan PJJ yang diterapkan di sekolah anaknya tidak menuntut setoran tugas yang terlalu banyak. Toh, masih bisa dikerjakan dengan bantuan dari ibunya sendiri.

Setelah beberapa hari tes berjalan, si mama baru menyadari bahwa, ketika anaknya mengerjakan tugas, yang terjadi adalah sekedar mengerjakan, untuk dikumpulkan. Bahkan lebih banyak campur tangan si mama daripada kerja si anak sendiri. Tapi kalau mau jujur sih ya, fenomena inilah yang sering terjadi di masa pandemic ini. Yang menjalani PJJ adalah para orang tua, bukan anaknya. Anak-anak sih asyik aja PGO, Pembelajaran Game Online, haha, sinis ya? Biarin.

Anak-anak tidak benar-benar memahami materi tugas tersebut. Buku-buku yang didapat dari sekolah juga jarang sekali dibaca, hanya dibuka ketika ada tugas, itupun pada halaman yang terdapat materi tugasnya. Selebihnya diacuhkan, dibaca saja tidak, apalagi dikerjakan. Padahal kita paham sekali bagaimana rasanya diacuhkan, berasa tak dianggap keberadaannya. Menyakitkan.

Nah, permasalahannya adalah, ketika si anak tidak memahami materi, bagaimana bisa menjawab soal? Duh bu, ini udah bukan jaman telepon koin lagi, jangan lebay deh. Di era digital ini apa sih yang gak bisa? Mbah gugel selalu bisa menjadi sumber referensi terpercaya, seperti tagline media sebelah. Eh.

Ketika mengerjakan tes, anak-anak masih memiliki kesempatan untuk membuka buku, googling atau bertanya kepada orang tua. Tetapi jika hal itu dilakukan, otomatis memangkas alokasi waktu yang tersedia untuk mengerjakan soal. Banyak waktu terbuang percuma karena adanya proses perburuan jawaban, akhirnya run out of the time, padahal soal jalan terus. Jadi ya, endingnya sama aja, asal isi jawaban.

Saya  pun teringat pada penuturan seorang teman yang mengajar di sebuah SMA negeri. Begitu sulitnya mengajak anak-anak untuk memahami penjelasan materi secara virtual. Karena tanpa bisa bertatap muka secara langsung, anak-anak harus mencari sendiri bagian-bagian dari buku yang sedang dijelaskan oleh gurunya. Halah, boro-boro membuka buku, mendengarkan penjelasan gurunya aja sambil ngantuk, sambil sarapan, bahkan ada yang sambil nongkrong di kamar mandi. Ya nggak sih? Ya lah, ya dong. Ngaku aja deh.  

Pada kasus teman saya ini, akhirnya diambil keputusan untuk merubah metode pembelajarannya jarak jauhnya. Yaitu dengan membagi materi menjadi banyak sub sub materi. Sehingga dalam satu kali zoom hanya memberikan sedikit penjelasan dan memperbanyak latihan soal. Dalam pemberian latihan soal, koreksi dan pendampingan diberikan sepenuhnya sehingga anak-anak tahu dimana letak kesalahan dan kekurangpahamannya.

Berhasilkah cara tersebut? Of course not. Haha. Tak semudah itu Juminten.

Memberikan tugas ke anak-anak sekolah jaman now akan memberikan stigma guru makan gaji buta. Sudahlah  tugas yang diberikan tak sedikit, deadline pengumpulan juga sering mepet. Guru terkesan hanya bertitah, tanpa memberikan penjelasan sebelum memerintah.

Wooiiii!! gimana mau kasih penjelasan, lha wong saat zoom aja klean tidur?!!! Tuh kan, ujungnya debat kusir lagi.

Flashback ke belakang, sebenarnya kekacauan pembelajaran seperti ini tak hanya kita alami selama musim corona dengan PJJnya, bahkan ketika pembelajaran tatap muka masih normal pun, peserta didik kita tidak benar-benar meresapi proses pembelajaran  mereka.

Belajar hanya menjadi formalitas sebagai bagian dari kewajiban seorang siswa dan  persiapan menghadapi ujian atau tes. Mengerjakan tugas juga asal menyelesaikan, yang penting mengumpulkan tanpa benar-benar memahami isi dan makna dari penugasan tersebut. Mendengarkan penjelasan materi di kelas pun sekedar mendengarkan ceramah yang harus di”iya”kan tanpa perlu bertanya apapun.

Ya, memang kondisi tersebut menjadikan situasi kelas jadi anteng sih, tak banyak gejolak sehingga guru menganggap semua penjelasannya telah dipahami oleh dengan baik oleh para siswa. Meskipun sebenarnya tak banyak para siswa yang benar-benar  mendengarkan penjelasan gurunya karena pada kenyataannya mereka duduk manis mendengarkan sambil mengantuk, melamun, bahkan bermain game, atau sibuk wasapan dengan pacarnya. Eh.  

Kita, orang Indonesia, masih menerapkan budaya sekolah, bukan budaya belajar. Budaya sekolah identik dengan pergi ke sekolah sesuai jadwal, menerima pelajaran dari pagi hingga akhir jam pelajaran. Ketika ditanya, pelajaran apa yang diterima di sekolah? Biasanya anak-anak hanya menjawab nama mata pelajaran, bukan pengetahuan atau pengalaman apa yang telah dia dapatkan. Bersyukur mereka ingat ketika gurunya berstand up comedy di kelas. Lumayanlah, masih ada cerita di sekolah yang tercetak di benak mereka.

Saya telah mengalami beberapa jenis kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia. Mulai kurikulum dari jaman CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif (meskipun hanya sebentar), yang identic dengan kelompok-kelompok belajar. Kemudian berganti kurikulum 1994 yang penuh dengan muatan lokal sehingga ada banyak sekali mata pelajaran yang harus diterima siswa. Akhirnya pada masa perkuliahan, saya mengalami sedikit permulaan dari KBK, Kurikulum Berbasis Kompetensi yang kemudian saya jadikan materi skripsi terkait dengan dengan metode pembelajaran konstruktivisme.

Berbagai macam kurikulum tersebut tersusun dengan konsep dan tujuan yang bagus. Tetapi nyatanya perubahan macam-macam kurikulum yang bagus tersebut belum banyak merubah wajah pendidikan Indonesia. Nama tinggal nama, tapi pelaksanaannya tetap begitu begitu saja. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung masih teacher center, sehingga ketergantungan murid kepada guru masih kuat.

Anak-anak kita masih merasa belajar hanya ketika bersama guru di sekolah. Mereka belum bisa menggali “ sesuatu” , tanpa petunjuk dan pendampingan. Jadi ketika dihadapkan dengan latihan soal atau tugas yang belum ada penjelasan atau cara penyelesaiannya, sebagian besar dari mereka akan berhenti. Stop, and do nothing. Tidak ada upaya untuk sekedar membuka ulang materi untuk mencoba memahami lagi, sendiri. Bahkan sekedar mencoba menyelesaikan pun enggan dilakukan .

Mungkin kita perlu merenungkan kembali apa tujuan sebenarnya dari menggiring anak-anak kita ke sekolah sejak dini, bahkan ketika mereka masih ingin bermain saja. Mungkin kita perlu mengubah materi pembelajaran. Memulai pembelajaran bahkan ketika mereka asyik menonton kartun Spongebob. Mengajak anak-anak belajar bahkan dengan memaknai bagaimana Spongebob mau bekerja sepenuh hati di Crusty Crab, meskipun terkadang tanpa menerima gaji sepeserpun. Atau membersamai anak-anak bermain di pantai sambil belajar mengenal bermacam biota laut, jadi tak hanya menikmati ikan bakar dan segarnya es degan. Ha ha, can we?