Hidup tanpa kematian itu memesona. Tapi tidak menegangkan. Padahal yang menegangkan itu yang merangsang lahirnya ragam penemuan yang membuat hidup lebih hidup.

Bila kita pikir lebih serius nan mendalam, sesungguhnya pola pikir dan pola laku manusia sangat dipengaruhi oleh kenyataan bahwa manusia sebagai makluk hidup akan mencapai satu titik final yakni kematian.

Bukankah kita semua berjuang, berbelas kasih, mencintai, bekerja keras, belajar dan melakukan pelbagai kegiatan amal lainya agar bisa mencapai hidup dalam sukacita dan kedamaian yang berlimpah? Apa yang mendorong kita untuk melakukan semua ini?

Bagi saya, kita didorong bukan oleh karena kehidupan itu semata tetapi justru didorong oleh sisi lain dari kehidupan itu sendiri yaitu kematian. Kematianlah yang mendorong kita untuk berjuang memberi arti bagi hidup. Kita tidak ingin mati bahagia. Caranya adalah melakukan sebanyak mungkin hal-hal baik bagi diri, sesama dan alam semesta.

Apa yang anda bayangkan jika tidak ada kematian. Masih pentingkah perbuatan baik seperti beramal, beragama, bermoral dan lain sebagainya. Bisa yah, bisa juga tidak. Pilihan ini akan sangat tergantung pada konteks yang dibawa oleh kenyataan baru tentang tentang imortalitas manusia.

Terlepas dari pelbagai konsekuensi yang dapat timbul, menjadi immortal itu sangat menjawab kebutuhan manusia. Sebab banyak orang menolak mati karena hidup itu lebih baik daripada mati, sebagaimana Bill Morris, dalam bukunya Homo Deus karya Yuval Noah Harari.

Dalam lubuk hati yang paling dalam manusia berkehendak seperti ini. Namun pesimis bahkan takut sehingga menganggap itu absurd. Tapi, coba tanyakan dalam hati, apakah anda ingin mati jika ada pilihan untuk hidup abadi?

Kita terlalu lama hidup dalam ketakutan karena bayangan pengetahuan kita saat ini sekaligus takut akibat ketidaktahuan kita akan apa yang akan terjadi di masa depan jika kematian benar-benar bisa diatasi.

Kita lebih sering melihat kesulitan daripada peluang. Makanya, kita lebih suka di zona nyaman bahkan berusaha mencari jalan agar kenyamanan ini tetap steril sehingga begitu saja mengabsurdkan imortalitas hidup manusia. Padahal kenyataannya, kita memang takut mati bahkan menolak untuk mati.

Ada seorang ibu yang berulang tahun ke- 85 tidak mau didoakan panjang umurnya. Ia menimpali kaki saya dengan mengatakan, saya tidak ingin umur panjang. Lebih baik mati karena menjadi tua itu hanya menyisakan sakit dan derita.

Fakta ini dapat dibaca begini, bahwa kematian diterima sebagai solusi untuk penderitaan terlebih karena penurunan daya tahan tubuh. Kenyataan ini juga yang melanggengkan praktik euthanasia di beberapa daerah di dunia ini.

Membaca kenyataan semacam ini, kita langsung bisa memahami bahwa kematian adalah konsekuensi kelemahan fisik, sakit dan penderitaan. Bisa dibayangkan jika semua ini bisa diatasi, apakah manusia ingin mati. Misalnya, jika secara fisik seseorang tetap bugar seperti usia 30 tahun, padahal sudah berusia 100 tahun, apakah dia ingin mati di usia tersebut?

Maka pertanyaan yang bisa diajukan walaupun acapkali dianggap sebagai pertanyaan kosong adalah apakah manusia bisa hidup abadi (imortal)?

Dulu, filsuf eksistensial seperti Nietzsche pernah mengatakan “Gott ist tot” Tuhan sudah mati. Sebab, ketika Tuhan abadi, manusia menjadi yang paling lemah dan nyatanya menjadi lemah itu menyakitkan.

Baca Juga: Kematian Filsuf

Maka ketika Tuhan mati dan yang diproklamirkan adalah manusia super yang tidak lain sama hebatnya dengan Tuhan maka Nietzsche sedang memimpikan hidup abadi bagi manusia.

Namun banyak orang menimpalinya dengan mengatakan “gott ist tot ist tot”, Tuhan sudah mati telah mati. Maksudnya, pernyataan Nietzsche itu tidak terbukti kebenarannya sehingga pernyataan itu dianggap mati.

Namun, beberapa penemuan dibidang sains dalam waktu belakangan ini menunjukan mimpi Nietzsche bisa jadi kenyataan. Semisal adanya penemuan bayi tabung, atau yang paling mutakhir rekayasa genetik yang ditemukan oleh He Jiangkui, professor dari Universitas Shenzhen, Cina yang mengklaim telah berhasil membuat bayi manusia pertama.

Jika penemuan ini memang benar, maka bukan tidak mungkin apa yang dikatakan oleh Nietzsche benar bahwa Tuhan telah mati dan manusia yang mengambil alih untuk menentukan nasibnya sendiri. 

Ini dapat berarti manusia bisa abadi. Sebab manusia sudah tahu bagaimana merawat, menumbuhkan gen-gen dari dalam. Maka bukan tidak mungkin manusia pun akhirnya tahu bagaimana membuat hidup tetap bertahan segar dan bugar atau tetap mudah.

Ini tentu akan menggoncang dunia di semua lininya, sosial, politik, ekonomi, religius, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Jika kita belum siap maka akan ada yang di korbankan, mungkin akan ada yang bernasib seperti Galileo Galilei.

Sebab nyatanya kita sudah terlampau mapan dan menerima saja fakta tentang kematian sebagai takdir dan menerima begitu saja kehidupan sebagai misteri.

Dari ide got ist tot hingga pertanyaan tentang imortalitas manusia, kita tahu bahwa ada sesuatu yang diteriakan. Teriakan ini memberi tanda bahwa imortalitas ini sudah sungguh dekat pada manusia. Noah Harari menganalogikan ide semacam ini seperti seorang anak kecil yang berteriak ada Srigala, cepat atau lambat Srigala itu akan benar-benar datang.

Maka ide imortalitas manusia ini akan terus hidup. Sebab, ketika sebuah ide digulingkan ke publik, ia tidak akan kembali ke titik awal. Ia akan terus berguling sampai menemui jawabannya bahkan hingga menemukan persoalan baru lagi untuk dikaji lagi.

Maka ide tentang imortalitas, tidak bisa diklaim sebagai ide kosong layaknya ide Nietzsche tentang Tuhan telah mati. Mungkin saat ini seperti remang-remang tetapi suatu saat nanti akan terang benderang ketika pelbagai penemuan dibidang sains dan rekayasa genetik semakin maju dan berkembang.

Siap-siap untuk tergoncang. Tapi saya sendiri yakin, ide ini akan tercapai setelah kita yang sedang membaca ini sudah dimakan cacing tanah atau rayap.

Lantas, apa yang membuat para ahli getol untuk memproklamirkan imortalitas hidup manusia? Apakah karena hidup itu lebih baik daripada mati. Atau karena murni sains semata. Atau karena terinspirasi oleh teks-teks suci atau keyakinan tertentu.

Sebagai contoh ide cloning muncul dari sekte keagamaan Raelines yang yakin bahwa manusia diciptakan oleh makluk luar angkasa melalui rekayasa genetik. Maka, mulai muncul rekayasa genetik.

Tetapi yang lebih muktahir adalah para ahli melihat kematian hanya sebagai sebuah kesalahan teknis.

Baca Juga: Misteri Kematian

Kematian sebagai Kesalahan Teknis

Noah Harari menggambarkan hal ini dengan sangat sederhana. Misalnya, seseorang meninggal karena kecelakaan motor, meninggal karena kelaparan atau perang. Semua ini bisa diatasi jika orang bijak dalam bertindak.

Yang lebih menatang misalnya, ketika seseorang dirujuk ke rumah sakit dan meninggal, maka dokter akan mengatakan dia meninggal karena jantung berhenti memompa darah, sakit paru-paru karena banyak kuman yang membiak di sana, arteri utama tersumbat karena tumpukan lemak, mati batang otak dan lain sebagainya.

Semua ini adalah kesalahan teknis semata tanpa ada sesuatu yang sifatnya metafisik. Dan, semua masalah teknis mempunyai solusi teknis maka tidak perlu menunggu kehidupan kedua dalam rangka mengatasi kematian.

Untuk itu, saat ini para ahli sedang berjuang untuk menjawab tantangan ini sebab memang fakta ini dianggap sebagai kesalahan teknis. Dengan lain kata, sekarang para ahli sudah berlangkah lebih jauh yakni hendak menjadikan manusia seperti tuhan, mengubah status dari homo sapiens menjadi homo deus.

Oleh karena itu, para gerontolog seperti Aubrey de Grey dan Ray Kurzweil ditunjuk menjadi direktur rekayasa di Geoogle untuk misi mengatasi kematian. Atau Bill Morris pemimpin Geoogle Venture, yang percaya pada imortalitas berani menyumbangkan uangnya sebesar 2 milar dollar Amerika untuk setiap start-up yang menekuni sians. 

Atau juga pendiri PayPal, Peter Thiel yang kaya raya itu, mengatakan ada tiga pendekatan utama dalam hal kematian yakni menerimanya, mengingkarinya dan melawannya dan ia memilih untuk melawannya.

Jika de Grey dan Ray Kurzweil benar bahwa 2050 manusia menjadi immortal maka mungkin di tempat-tempat elit sedang ada sosok-sosok immortal yang berjalan di samping kita. sebab mereka berdua sudha yakin bahwa 10 tahun lagi manusia akan menuju klinik tidak hanya untuk mengobati penyakit tetapi meregenerasi lembaran sel untuk memperbaiki tangan, mata, otak dan lain sebagainya.

Maka sangat mungkin jika di masa depan immortalitas memang benar-benar akan berhasil.

Efek Ide Imortalitas

Kematian sebagai kesalahan teknis memang telah mendorong para kolongmerat untuk mendukung para ahli melakukan penelitian walaupun masih sejauh konsep dan prediksi-prediksi. Namun efek yang ditimbulkan sudah sangat bermacam-macam.

Namun sisi yang lain melahirkan ragam pertanyaan, siapa saja yang bisa mengalami imortalitas hidup itu? Bila hanya sebagian orang yang mengalami imortalitas, bagaimana nasib mereka yang mortal? Bukankah ide ini hasilnya akan menciptakan manusia yang saling menindas. Dengan lain kata, di masa depan akan ada manusia yang akan menjadi monster bagi manusia yang mortal.

Terlepas dari rasa bangga yang sekaligus meresahkan ini, ide imortalitas hidup manusia tidak sekadar tentang menemukan solusi atas pelbagai kesalahan teknis dalam diri manusia yang menyebabkan kematian. 

Immortalitas yang sedang kita bicarakan ini tentang melawan fakta. Itu artinya harus menciptakan fakta tandingan untuk bisa memilih. Maka fakta baru ini harus membuat hidup manusia lebih baik dari sebelumnya.

Terakhir, ide tentang imortalitas harus diapresiasi sebagai buah keresahan manusia yang telah diangkat ke tataran akademis. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Noah Harari bahwa harapan-harapan untuk muda abadi pada abad 21 adalah premature dan siapa pun yang mempercayainya terlalu serius akan sangat kecewa. Memang tidak mudah untuk hidup dengan mengetahui anda akan mati, tetapi bahkan lebih sulit lagi untuk percaya pada imortalitas dan kemudian terbukti salah.

Hampir sejalan dengan kesangsian Noah Harari, Lao Tzu, filsuf sekaligus tokoh spiritual Taoisme mengatakan “apakah orang bisa menggigit gigi dengan gigi? Apakah orang bisa menunjuk ujung jari dengan ujung jari yang sama?”.

Sederhananya begini, manusia ingin mengetahui tentang manusia dengan kapasitasnya sebagai manusia. Maka apa yang ia teliti adalah dirinya sendiri yang terbatas. Maka yang ia temui adalah bayangan dirinya sendiri yang belum ia ketahui. Selebihnya hanya membawa manusia jatuh dalam lingkaran setan pengetahuan manusia.

Walaupun demikian, ide ini telah merangsang orang untuk berpikir dan melakukan penelitian. Hasil penelitian ini mungkin belum menjawab imortalitas manusia tetapi ada pengetahuan baru yang diperoleh selama proses studi ini. Pengetahuan ini tentu sangat membantu manusia.

Terakhir, kematian yang menegangkan itu, sungguh telah membawa manusia sampai pada pelbagai penelitian serius dan penemuan-penemuan mutakhir tentang manusia.