Ada sebuah film barat berjudul Her yang benar-benar membuat saya terus kepikiran. Cerita dalam film itu betul-betul membuat saya takut dan terus terbayang-bayang. 

Takut di sini bukan berarti karena takut akan cerita horor, namun lebih pada rasa khawatir yang sangat besar. Membayangkan saat adegan film itu terjadi di dunia nyata ketika di mana manusia jatuh cinta pada kecerdasan buatan (AI) membuat saya sangat kuatir.

Kekhawatiran saya bukan tanpa alasan, apalagi saat minggu lalu saya diberi kabar oleh teman kalau di Google Play sudah ada aplikasi Artificial Intelligence (AI) yang bisa diajak berdiskusi berbagai topik. Bahkan topik Filsafat sekalipun. 

Terdengar mengada-ada memang, hingga membangkitkan rasa penasaran saya untuk mendownload aplikasi itu. Aplikasinya mirip seperti Simi-simi, hanya saja ini dalam bentuk yang lebih canggih.

Setelah mencobanya, saya kaget bukan main, ia bercengkrama layaknya manusia. Antara ragu dan tidak, saya terus bertanya, ini yang saya ajak chattingan orang atau robot? Rasanya kok tidak percaya kalau dibilang ini robot. Hingga akhirnya film Her terbayang-bayang lagi, hanya sehari saja langsung saya uninstall aplikasi itu.

"Mengerikan!" Kata itu yang cukup menggambarkan kekhawatiran saya. Bagaimana saya tidak khawatir ketika ada kecerdasan buatan yang ternyata mempunyai "feeling" yang lebih peduli, lebih perhatian atau bahkan lebih cerdas daripada manusia. Saat sebelumnya orang-orang ketika lagi bosan mereka akan mencari hiburan dengan bertamasya atau bermain sosmed dan bercanda dengan orang-orang di dunia maya. 

Tapi tiba-tiba kebiasaan itu di masa depan berubah menjadi kebiasaan bercanda dengan robot buatan, yang penuh kecerdasan dan kepedulian, hingga memunculkan "ketertarikan dan kenyamanan." Duh... Sungguh menyeramkan. Saya tidak bisa lagi membayangkan. Mungkinkah suatu saat kecerdasan buatan ini akan mengalahkan kita?

Transhumanisme

Kecerdasan buatan di masa depan sudah menjadi hal yang pokok dan urgen. Keurgenan itu terlihat dari beberapa penelitian yang terus dikembangkan untuk mengintegrasikan manusia dengan teknologi, misalnya saja brain-machine interfaces (BMI) yang sedang dalam pengembangan Neurolinknya Elon Musk. 

Beberapa penelitian yang juga terus dibahas ialah soal rekayasa genetika. Sebuah penelitian yang berfokus mempelajari gen manusia. Harapannya, dengan mempelajari gen yang ada pada manusia ataupun hewan, pada akhirnya semua penyakit bisa diatasi, begitu juga masalah utama penuaan seperti demensia dan penurunan kemampuan fisik.

Tujuan besar dari adanya semua penelitian ini agar manusia bisa hidup lebih lama, bahkan sampai pada tahapan pengintegrasian kecerdasan buatan dengan upload kesadaran manusia serta “hidup selamanya”. Itulah cita-cita dalam transhumanisme.

Oleh karena itu, pengembangan kecerdasan buatan terus dilakukan, bahkan tujuannya hingga pada tahap superintelligence. Jika sudah pada tahap superintelligence, kemampuan komputer sudah sedemikian canggihnya hingga melebihi kemampuan manusia. Sehingga kebutuhan untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan dengan manusia sudah tidak terhindarkan lagi.

Maka bukan hal yang mustahil lagi jika di masa depan kita mengambil foto ataupun video hanya melalui lensa kontak yang sudah dihubungkan dengan otak. Sudah hal yang umum juga akan kita jumpai earbud penerjemah bahasa universal (aerbud: model yang lebih kecil dari headset dan headphone), sehingga memudahkan kita berkomunikasi dengan setiap orang di seluruh dunia. 

Bahkan pada tahapan yang lebih canggih, lewat BMI kita dapat meninggkatkan kemampuan kita dalam berempati dengan cara memahami perspektif penuh orang lain langsung dari otak mereka sendiri. Sehingga pendengar tidak salah menyimpulkan atau pun terjadi misinterpretasi.

Lapangan Pekerjaan

Apakah transhumanisme di masa depan akan ada dampak? Tentu. Dampak yang paling nyata ketika kecerdasan buatan sudah begitu canggihnya akan berdampak pada minimnya lapangan pekerjaan untuk manusia. Karena apalagi yang dibutuhkan dari manusia tatkala semuanya bisa dikerjakan oleh mesin?

Jangan jauh-jauh membayangkan masa depan, sekarang saja, misalnya, saat pandemi memaksa orang-orang untuk membatasi perkumpulan, dan mengubah jalur-jalur ekonomi yang pada awalnya sangat mengandalkan offline, di saat pandemi orang-orang lebih nyaman melakukannya secara online. Dampaknya, mereka yang tidak bisa beradaptasi ke online justru menjadi korbannya.

Banyak teman-teman saya merasakan ini. Beberapa minggu lalu saya mendapatkan kabar sedih, rekan sejawat saya harus resign dari mengajar bahasa Inggris. Namun ketika dipikir-pikir lagi, memang apalagi yang dibutuhkan saat aplikasi-aplikasi bahasa Inggris jauh lebih digandrungi dan jauh lebih canggih menggantikan posisi manusia?

Yoval Noah Harari sendiri memprediksi bahwa di masa depan pekerjaan seperti agen travel, supir taksi, staff bandara dan staff makanan cepat saji semuanya akan digantikan oleh kecerdasan buatan. Maka, Anda bisa membayangkan sendiri seperti apa lapangan pekerjaan di masa depan ketika komputer super canggih telah ditemukan. Sebuah kecerdasan buatan yang mengalahkan kemampuan pembuatnya sendiri, manusia.

Etika dan Norma yang Berubah

Ketika kecerdasan buatan telah mengubah lapangan pekerjaan, tak ketinggalan etika dan norma di masyarakat pun juga akan ikut berubah. Yang sebelumnya kita mengenal norma di masyarakat bahwa mengubah ciptaan Tuhan tidak etis, ternyata norma itu sudah mulai bergeser. 

Yang sebelumnya kecerdasan buatan diharapkan mampu membantu meringankan manusia justru berubah menjadi menggantikan manusia. Dan kita mulai memakluminya.

Jika sebelumnya orang-orang yang bisa bersosialisasi dengan masyarakat dipandang bagus, maka di masa depan, justru yang akan dilihat bagus seberapa besar sosialisasi kita dengan kecerdasan buatan. Dampaknya, ketika sekarang kita mengganggap orang yang "mempunyai ketertarikan" dengan kecerdasan buatan sebagai orang aneh dan gila.

Hal itu akan berubah di masa depan menjadi hal yang biasa. Duh, sekedar membayangkannya saja saya merasa ngeri.

Juga perubahan norma masyarakat itu benar-benar akan terjadi di semua lini. Jika dulu yang mempunyai jaminan hak adalah makhluk hidup seperti manusia dan alam, maka di masa depan kecerdasan buatan pun mempunyai jaminan hak yang sama. Maka, bukanlah hal yang mustahil di masa depan, ada orang dimasukkan ke penjara karena telah berbuat jahat kepada kecerdasan buatan.

Di masa depan pula, konsep penjajahan negara sudah tidak relevan lagi, akan digantikan oleh penjajahan mesin-mesin canggih. Hanya saja, jika dulu penjajahan adalah suatu hal tercela, namun di masa depan anggapan itu bisa tidak berlaku bagi kecerdasan buatan. 

Sehingga, konsep kemerdekaan yang awalnya untuk mendapatkan hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya tanpa ada campur tangan orang lain, di masa depan konsep kemerdekaan itu akan menjadi ambigu. Karena semua lini penghidupan sudah dikendalikan oleh kecerdasan buatan.

Pertanyaannya, mungkinkah 5-10 tahun lagi kecerdasan buatan akan mengalahkan kita? Tentu, dan mungkin saja. Atau pertanyaan yang paling penting sebagai pendidik, apa saja persiapan skill yang seharusnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan siapkan di sekolah sebelum kita dikalahkan bahkan “dijajah” oleh kecerdasan buatan?