60025_41232.jpg
Puisi · 1 menit baca

Ketika Kau Bertanya Kepadaku, "Who Hurt You?"

Ketika Kau Bertanya Kepadaku, "Who Hurt You?"

Bayangkan saja kau memberinya tempat terbaik di hatimu. Tempat yang semula kosong untuk mencatat segala hal yang terjadi. Pikiran, memori, rahasia atau hanya sekedar gurauan remeh temeh menjelang tidur.

Kau bersusah payah membuat hari-harinya akrab dengan senyum dan tawa. Tetapi pada akhirnya kau hanya menemukan kosong lalu harus mematahkan mimpi-mimpimu sendiri.

Atau, bayangkan kau menjadi satu-satunya manusia yang selamat di kotamu. Bersusah payah membangun dinding sepi untuk sembunyi dari kepungan kesedihan yang mengincar jantungmu.

Ketika kau bertanya kepadaku, "Who hurt you?"
Mungkin bukan siapa-siapa, hanya Tuhan sedang mengajakku bercanda.  

***

Kopi, Perjalanan dan Hal-hal yang Sebenarnya Tak Pernah Kita Pikirkan.....

Pada semesta yang mengaburkan cuaca, aku kadang lupa kau benar-benar tak nyata.
Pada percakapan-percakapan yang mengalir yang entah bagaimana rindu beranak pinak di sana.
Pada cecap terakhir kesedihan lahir,  menjadi jejak dari punggung seseorang yang menjauh .
Pada luas ladang cintamu, kekasih, aku terlanjur tersesat.
Rimbun nian harap yang tumbuh dalam pohon waktu.
Dan jika berkenan kau bisa menemuiku di pahit kopi, di seduhan tangan si sepi. 

***

Sebelum Tidur

Kau merencanakan mimpi
Di suatu malam yang hujan
Obrolan melebar ke kapel tua
Kesedihan mungkin rintihan doa di depan pintu yang tak sempat bersuara

Rindu ini laut, katamu, tak jua surut
Jejak timbul tenggelam di pasir pantai
Karang-karang menghitam, tajam
Melebamkan dada
Menyayat lengan, pelipis, kaki
Sedikit nyeri
Banyak perih

Pada puisi yang berpasir waktu, percakapan akan menemukan ujungnya di nada terendah pianomu: kekasih, kelak sudikah kau iringi saat aku pergi? 

Solo, Oktober 2017

*

Sajak Kepala

1/ 

Kepalaku kota asing
Riuh amukan sepi
Lengang jalanan
Rimbun ilalang
Sudut-sudutnya gelap ampas kopi 

2/

Kepalaku kedai kopi
Racikan di sana sini
Aroma sewangi janji
Tapi ingkar melingkar-lingkar
Pada pekat cuaca, pahit lebih menyenangkan dari sesendok gula 

3/

Kepalaku sibuk bermimpi dalam mimpimu
Menyambangi pintu
Mengetuk jendela
Menebak-nebak makan malam, apakah masih seiris roti tawar dan dadaran rembulan 

4/

Kepalaku koran pagi
Kubaca kabarmu
Kusimpan huruf-hurufnya di saku baju
Tapi ramalan cuaca di halaman terakhir akan kuabaikan saja, pahit dimana-mana, sial...

5/

Kepalaku toko serba ada
Menjual rindu yang batu, buku-buku juga cat kuku
Silahkan mampir
Ada bangku kayu, langit senja dan sebotol bir untukmu
Atau,  kau ingin memesan waktu bersamaku?